Pengamat Migas Memperingatkan: Krisis Energi Sudah di Depan Mata
Minggu, 01 November 2020 - 21:33 WIB
loading...
A
A
A
Langkah Kedua, lanjut Elan, lakukan upaya secondary recovery di lapangan. Secara tepat teknologi, tepat anggaran, tepat sasaran, dan target. Hal ini tidak mudah. Karena perlu dipegang oleh para profesional yang tepat. "Mulai dari pemberi kebijakan alias regulator (ESDM), pengawas dan pengendali KKKS (SKK Migas), para KKKS, dan perusahaan pendukung usaha hulu migas," tuturnya.
Upaya Ketiga, sejarah peningkatan produksi di Indonesia, hampir selalu diawali dengan adanya penemuan berskala raksasa (giant discovery) yang kemudian dikembangkan menjadi giant fields. Contohnya, Minas, Duri, Mahakam, Suban, Arun, Tangguh BP, Banyu Urip. Namun, ada juga peningkatan produksi signifikan karena penerapan EOR Duri Steam Flood di Blok Rokan.
"Upaya-upaya ketiga hal ini, punya prasyarat utama yaitu kondusifnya iklim investasi hulu migas yang baik. Ditunjang kondisi global seperti harga crude oil yang bagus (tinggi)," urai mantan Kabag Humas SKK Migas tersebut.
Selain itu, lanjutnya, pengusaha dalam negeri, seperti Pertamina perlu meningkatkan produksi migasnya. Elan mengungkapkan, ada semacam "State of the Art" untuk mendorong Pertamina meningkatkan produksinya. "Pertamina harus meningkatkan kelasnya menjadi perusahaan kelas global," imbuh mantan Kabag humas SKK Migas itu.
(Baca Juga: Pertamina Lanjutkan Proyek Strategis untuk Masa Depan Energi Nasional )
Elan juga mengingatkan, pemerintah agar memperbesar bauran energi dari energi baru dan terbarukan. Karena hal ini diatur dalam Kebijakan Energi Nasional/Rencana Umum Energi Nasional (KEN/RUEN) yang disusun oleh Dewan Energi Nasional (DEN). Kebijakan ini diketuai Presiden RI, Joko Widodo, dengan Menteri ESDM sebagai Ketua Harian.
"Semua konsep dan rencana yang disusun DEN tersebut, tentunya harus secara konsisten dieksekusi dengan baik oleh para pihak yang dipimpin oleh 'The right person at the right position'," tegasnya.
Upaya Ketiga, sejarah peningkatan produksi di Indonesia, hampir selalu diawali dengan adanya penemuan berskala raksasa (giant discovery) yang kemudian dikembangkan menjadi giant fields. Contohnya, Minas, Duri, Mahakam, Suban, Arun, Tangguh BP, Banyu Urip. Namun, ada juga peningkatan produksi signifikan karena penerapan EOR Duri Steam Flood di Blok Rokan.
"Upaya-upaya ketiga hal ini, punya prasyarat utama yaitu kondusifnya iklim investasi hulu migas yang baik. Ditunjang kondisi global seperti harga crude oil yang bagus (tinggi)," urai mantan Kabag Humas SKK Migas tersebut.
Selain itu, lanjutnya, pengusaha dalam negeri, seperti Pertamina perlu meningkatkan produksi migasnya. Elan mengungkapkan, ada semacam "State of the Art" untuk mendorong Pertamina meningkatkan produksinya. "Pertamina harus meningkatkan kelasnya menjadi perusahaan kelas global," imbuh mantan Kabag humas SKK Migas itu.
(Baca Juga: Pertamina Lanjutkan Proyek Strategis untuk Masa Depan Energi Nasional )
Elan juga mengingatkan, pemerintah agar memperbesar bauran energi dari energi baru dan terbarukan. Karena hal ini diatur dalam Kebijakan Energi Nasional/Rencana Umum Energi Nasional (KEN/RUEN) yang disusun oleh Dewan Energi Nasional (DEN). Kebijakan ini diketuai Presiden RI, Joko Widodo, dengan Menteri ESDM sebagai Ketua Harian.
"Semua konsep dan rencana yang disusun DEN tersebut, tentunya harus secara konsisten dieksekusi dengan baik oleh para pihak yang dipimpin oleh 'The right person at the right position'," tegasnya.
Lihat Juga :