Pelaku Usaha Dituntut Kreatif dan Out of The Box
Kamis, 05 November 2020 - 06:35 WIB
loading...
A
A
A
Pada diskusi tersebut Sofwan juga membagikan dua konsep strategi agar usaha tetap bertahan di tengah pandemi. Pertama, yaitu TOP alias Threat, Opportunity, dan Potency. Berikutnya adalah data driven, empathy, surviving/servicing, preparing, actualizing, cash reserved, internet of things, the next normal, dan optimism atau DESPACITO.
“Radja Cendol bisa selamat karena data. Teman-teman yang punya usaha, please building atau list data base, kira-kira siapa saja yang bisa teman-teman tawarkan. Kalau Radja Cendol, ketika tidak bisa dine in, kita manfaatkan data base di e-mail. Selain untuk kemitraan, akan lebih mudah menawarkan promosi, penawaran terbaru yang sudah tahu kita,” urainya.
Menurut dia, tujuan dari membangun bisnis adalah membangun aset, baik itu aset fisik maupun nonfisik. Aset fisik menjadi tugasnya marketing, sementara nonfisik menjadi tanggung jawab bagian branding. (Baca juga: Industri Sawit Redup, Ini Sebabnya)
Hal lainnya yang juga perlu dipahami pelaku usaha, lanjut Danu, yaitu siklus bisnis. Siklus pertama yaitu tahap starting atau memulai bisnis.
“Tahap ini biasa disebut dengan tahap yang berdarah-darah. Orientasi enggak boleh langsung untung-untung, cuan, cuan, sells. Jangan dulu ke situ. Bagaimana caranya membuat orang sebanyak-banyaknya tahu dulu siapa kita, apa produk/jasa yang kita tawarkan. Perlu pengenalan, penjajakan, pendekatan,” ungkapnya.
Setelah sudah banyak yang tahu, maka dapat masuk ke tahap kedua yakni monetizing. Di fase ini mulai melakukan penjualan dan memikirkan cara untuk meraup omzet. (Lihat videonya: Trump dan Biden Saling Kalim Menang di Pilpres 2020)
Berikutnya adalah tahap systemizing atau membangun struktur atau sistem, baik itu bisnis model franchise; dropshipper, reseller, distributor (DRD); dan lainnya. Tahap selanjutnya yaitu pengembangan, dan terakhir adalah menjaga atau mengelola bisnis. (Faorick Pakpahan)
“Radja Cendol bisa selamat karena data. Teman-teman yang punya usaha, please building atau list data base, kira-kira siapa saja yang bisa teman-teman tawarkan. Kalau Radja Cendol, ketika tidak bisa dine in, kita manfaatkan data base di e-mail. Selain untuk kemitraan, akan lebih mudah menawarkan promosi, penawaran terbaru yang sudah tahu kita,” urainya.
Menurut dia, tujuan dari membangun bisnis adalah membangun aset, baik itu aset fisik maupun nonfisik. Aset fisik menjadi tugasnya marketing, sementara nonfisik menjadi tanggung jawab bagian branding. (Baca juga: Industri Sawit Redup, Ini Sebabnya)
Hal lainnya yang juga perlu dipahami pelaku usaha, lanjut Danu, yaitu siklus bisnis. Siklus pertama yaitu tahap starting atau memulai bisnis.
“Tahap ini biasa disebut dengan tahap yang berdarah-darah. Orientasi enggak boleh langsung untung-untung, cuan, cuan, sells. Jangan dulu ke situ. Bagaimana caranya membuat orang sebanyak-banyaknya tahu dulu siapa kita, apa produk/jasa yang kita tawarkan. Perlu pengenalan, penjajakan, pendekatan,” ungkapnya.
Setelah sudah banyak yang tahu, maka dapat masuk ke tahap kedua yakni monetizing. Di fase ini mulai melakukan penjualan dan memikirkan cara untuk meraup omzet. (Lihat videonya: Trump dan Biden Saling Kalim Menang di Pilpres 2020)
Berikutnya adalah tahap systemizing atau membangun struktur atau sistem, baik itu bisnis model franchise; dropshipper, reseller, distributor (DRD); dan lainnya. Tahap selanjutnya yaitu pengembangan, dan terakhir adalah menjaga atau mengelola bisnis. (Faorick Pakpahan)
(ysw)
Lihat Juga :