Pelaku Usaha Dituntut Kreatif dan Out of The Box
Kamis, 05 November 2020 - 06:35 WIB
loading...
A
A
A
Gupta menilai industri kreatif menuntut para pekerja untuk selalu kreatif dan meramal apa yang terjadi di masa depan. Karena itu, sangat penting belajar dari masa lalu, merincikan yang terjadi di masa sekarang, dan memproyeksikan atau melihat peluang masa depan.
Sektor usaha makanan dan minuman memang menjadi salah satu lini bisnis yang terdampak pandemi Covid-19. Namun, pada saat bersamaan, jenis usaha tersebut juga terus menggeliat. Saat ini bahkan banyak orang yang mulai beralih menjajakan produk buatannya dengan memanfaatkan teknologi digital.
Danu Sofwan, seorang pengusaha muda yang menggeluti bidang makanan-minuman, mengakui siapa pun yang ingin membuka usaha harus pintar melihat momentum dan peluang. Menurutnya, jangan pernah meremehkan segala sesuatu, termasuk produk tradisional. (Baca juga: Benarkah Penyitas Covid-19 Tak Akan Terinfeksi Lagi?)
“Kalau teman-teman pintar melihat momentum, peluang, pasti akan menjadi sesuatu. Bagaimana caranya? Kalau di bisnis, ada rebranding, repackaging, repositioning,” papar Pendiri Radja Cendol dan Es Teh Indonesia itu.
Dia mencontohkan, produk cendol dan es teh yang digelutinya, dibangun dengan brand dan citra produk di mana targetnya untuk menaikkan level minuman khas tersebut. Kemudian, kata dia, melalui pengemasan ulang (repackaging), wadah jajanan tradisional itu tidak lagi menggunakan plastik atau gelas sehingga lebih higienis.
Selain itu, Danu juga menjalin kemitraan dengan berbagai pihak. Saat ini outlet Radja Cendol yang dibangun sejak 2014 sudah mencapai 800 outlet yang tersebar di berbagai daerah seperti di Jabodetabek, Cirebon, Ambon, Lubuk Linggau, hingga di Merauke. Bahkan, sudah ada mitra yang menjual jajanan tersebut di Hong Kong.
Di era saat ini, lanjut Danu, ada paradigma baru yang perlu dipahami pelaku usaha. Jika sebelumnya berfokus pada market share, kini beralih menjadi customer share. Demikian juga dari transaksi menjadi relasi, dari customer satisfaction menjadi customer experience.
“Jadi, yang harus kita pikirkan adalah gimana caranya transaksi yang kita lakukan itu membangun hubungan emosional dengan audiens atau pelanggan,” imbuhnya. (Baca juga: Typo UU Ciptaker HUman Error, Kemensetneg Beri Sanksi Disiplin ke Pejabatnya)
Sektor usaha makanan dan minuman memang menjadi salah satu lini bisnis yang terdampak pandemi Covid-19. Namun, pada saat bersamaan, jenis usaha tersebut juga terus menggeliat. Saat ini bahkan banyak orang yang mulai beralih menjajakan produk buatannya dengan memanfaatkan teknologi digital.
Danu Sofwan, seorang pengusaha muda yang menggeluti bidang makanan-minuman, mengakui siapa pun yang ingin membuka usaha harus pintar melihat momentum dan peluang. Menurutnya, jangan pernah meremehkan segala sesuatu, termasuk produk tradisional. (Baca juga: Benarkah Penyitas Covid-19 Tak Akan Terinfeksi Lagi?)
“Kalau teman-teman pintar melihat momentum, peluang, pasti akan menjadi sesuatu. Bagaimana caranya? Kalau di bisnis, ada rebranding, repackaging, repositioning,” papar Pendiri Radja Cendol dan Es Teh Indonesia itu.
Dia mencontohkan, produk cendol dan es teh yang digelutinya, dibangun dengan brand dan citra produk di mana targetnya untuk menaikkan level minuman khas tersebut. Kemudian, kata dia, melalui pengemasan ulang (repackaging), wadah jajanan tradisional itu tidak lagi menggunakan plastik atau gelas sehingga lebih higienis.
Selain itu, Danu juga menjalin kemitraan dengan berbagai pihak. Saat ini outlet Radja Cendol yang dibangun sejak 2014 sudah mencapai 800 outlet yang tersebar di berbagai daerah seperti di Jabodetabek, Cirebon, Ambon, Lubuk Linggau, hingga di Merauke. Bahkan, sudah ada mitra yang menjual jajanan tersebut di Hong Kong.
Di era saat ini, lanjut Danu, ada paradigma baru yang perlu dipahami pelaku usaha. Jika sebelumnya berfokus pada market share, kini beralih menjadi customer share. Demikian juga dari transaksi menjadi relasi, dari customer satisfaction menjadi customer experience.
“Jadi, yang harus kita pikirkan adalah gimana caranya transaksi yang kita lakukan itu membangun hubungan emosional dengan audiens atau pelanggan,” imbuhnya. (Baca juga: Typo UU Ciptaker HUman Error, Kemensetneg Beri Sanksi Disiplin ke Pejabatnya)
Lihat Juga :