Neraca Dagang Memang Surplus Terus, Tapi Sayang Disayang Kualitasnya Ompong
Selasa, 17 November 2020 - 13:34 WIB
loading...
Foto/Ilustrasi/REUTERS
A
A
A
JAKARTA - Kinerja perdagangan Indonesia kembali mencatatkan surplus pada Oktober 2020. Ini menjadi kali keenam kinerja ekspor-impor Indonesia mengalami surplus pada tahun ini. Meskipun begitu, ternyata surplusnya perdagangan Indonesia bukan sesuatu hal yang menggembirakan. Pengamat Ekonomi (Ekonom) INDEF Bhima Yudistira mengatakan, kinerja ekspor Indonesia yang surplus bukan sesuatu yang berkualitas. "Ini surplus yang tidak berkualitas," ujarnya saat dihubungi MNC Portal, Selasa (17/11/2020).
Bhima menambahkan, surplus yang terjadi pada Indonesia lebih disebabkan karena belum pulihnya kinerja ekspor. Sementara nilai impor juga turun lebih dalam akibat masih rendahnya permintaan bahan baku. "Kurang bagus karna surplus lebih disebabkan belum pulihnya kinerja ekspor smentara impor turun lebih dalam akibat rendahnya permintaan bahan baku," jelasnya.
Selain itu, rendahnya impor juga dikarenakan masih lesuinya daya beli masyarakat. Sehinggi impor barang konsumsi juga saat ini masih sangat rendah dan berpengaruh pada kinerja keseluruhan. “Ada tekanan pada daya beli masyarakat yang berpengaruh terhadap impor barang konsumsi,” ucapnya.
Baca Juga: Neraca Dagang Surplus, Sayang Bukan Karena Ekonomi Membaik
Sebagai informasi sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan neraca perdagangan Indonesia pada Oktober 2020 mengalami surplus sebesar USD3,61 miliar. Angka kni mengalami kenaikan jika dibandingkan suruplus bulan lalu karena hanya USD2,39 miliar. Ini merupakan surplus enam kali neraca dagang Indonesia pada tahun ini. Ini memperpanjang rentetan surplus setelah pada September sudah mencatatkan lima kali.
Bhima menambahkan, surplus yang terjadi pada Indonesia lebih disebabkan karena belum pulihnya kinerja ekspor. Sementara nilai impor juga turun lebih dalam akibat masih rendahnya permintaan bahan baku. "Kurang bagus karna surplus lebih disebabkan belum pulihnya kinerja ekspor smentara impor turun lebih dalam akibat rendahnya permintaan bahan baku," jelasnya.
Selain itu, rendahnya impor juga dikarenakan masih lesuinya daya beli masyarakat. Sehinggi impor barang konsumsi juga saat ini masih sangat rendah dan berpengaruh pada kinerja keseluruhan. “Ada tekanan pada daya beli masyarakat yang berpengaruh terhadap impor barang konsumsi,” ucapnya.
Baca Juga: Neraca Dagang Surplus, Sayang Bukan Karena Ekonomi Membaik
Sebagai informasi sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan neraca perdagangan Indonesia pada Oktober 2020 mengalami surplus sebesar USD3,61 miliar. Angka kni mengalami kenaikan jika dibandingkan suruplus bulan lalu karena hanya USD2,39 miliar. Ini merupakan surplus enam kali neraca dagang Indonesia pada tahun ini. Ini memperpanjang rentetan surplus setelah pada September sudah mencatatkan lima kali.
Lihat Juga :