Pengusaha Dorong Pembentukan Komite Percepatan Pemulihan Perekonomian Nasional

Minggu, 10 Mei 2020 - 19:58 WIB
loading...
Pengusaha Dorong Pembentukan...
Ketua Umum Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) DKI Jakarta Sarman Simanjorang. Foto/Dok.
A A A
JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2020 turun drastis ke angka 2,97%, jauh dari harapan pemerintah yang memiliki ekspektasi di level 4,5%.

Penurunan ini sebagai dampak Covid 19 yang membuat konsumsi rumah tangga turun menjadi 2,84% yang normalmya tumbuh diatas 5%. Pertumbuhan ekonomi yang anjlok ini menjadi tantangan besar yang harus dihadapi pemerintah, mengingat kondisi ke depan Indonesia masih menghadapi Covid-19 yang belum pasti kapan berakhir.

Momen Lebaran 2020 yang merupakan puncak perputaran uang terbesar di Indonesia, seharusnya dapat memicu pertumbuhan ekonomi kuartal II, namun melihat kondisi dunia usaha saat ini yang sudah banyak tutup, banyak karyawan swasta yang tidak menerima THR dan larangan mudik maka momen Lebaran ini tidak dapat diandalkan mendongkrak pertumbuhan ekonomi kuartal II.

"Bahkan aliran uang warga kota dari Jabodetabek ke daerah tujuan mudik yang selama ini cukup tinggi, diperkirakan akan turun 80%," analisa Ketua Umum DPD Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) DKI Jakarta, Sarman Simanjorang di Jakarta, Minggu (10/5/2020).

Banyak pekerja yang menjadi korban PHK dan dirumahkan berdampak pada turunnya pendapatan masyarakat dan akan berpengaruh terhadap daya beli atau konsumsi rumah tangga. Dan jika Covid ini masih berkepanjangan maka pertumbuhan ekonomi Indonesia akan sangat berat dan pemerintah memiliki skenario yang sangat ekstrim turun diangka minus 0,4%.

"Jika ini terjadi maka krisis ekonomi sudah di depan mata dan pemerintah harus memiliki grand desain langkah apa yang harus dilakukan untuk mempercepat aktivitas bisnis bergairah yang akan memicu naiknya konsumsi rumah tangga dan pertumbuhan ekonomi," kata Sarman.

Saat pemerintah fokus menangani Covid-19 melalui Gugus Tugas Covid-19, harus ada tim yang sudah merancang grand desain langkah dan program dan skenario yang harus dilakukan paska Covid-19 agar dunia usaha dapat berlari kencang di semua sektor, mulai dari manufaktur, pariwisata, perdagangan, ritel, jasa dan UMKM.

"Untuk itu, kami mengusulkan ke Presiden segera membetuk Komite Percepatan Pemulihan Perekonomian Nasional (KP3N). Komite ini akan bertugas merumuskan langkah, strategi, program serta kebijakan yang akan dilakukan setelah Covid-19. Sehingga dunia usaha bisa segera berlari kencang," terang Sarman.

Ia menambahkan Komite ini seyogianya di ketuai dari unsur dunia usaha dengan para anggota dari asosiasi dan organisasi dunia usaha masing masing sektor usaha, dari unsur pemerintah atau instansi terkait dan unsur perguruan tinggi dan pengamat ekonomi.

Alasan mengapa ketuanya dari unsur pengusaha, karena pengusahalah yang lebih tau kondisi di lapangan dan apa saja yang dibutuhkan. Komite ini bertugas untuk merancang, merumuskan langkah strategis yang harus dilakukan pasca Covid-19. Sehingga perekonomian dapat cepat pulih dan dunia usaha segera berlari kencang.

Termasuk dukungan yang dibutuhkan seperti kebijakan, stimulus, relaksasi, permodalan dan lain lain sehingga antar
Kementerian satu visi tidak ada yang menonjolkan ego sektoral.

Sarman berharap Komite ini bekerja langsung dibawah koordinasi Presiden supaya berbagai langkah dan upaya persiapan yang dibutuhkan dapat segera diputuskan oleh Presiden.

"Jika dibawah koordinasi setingkat Menteri takutnya Komite ini berjalan lambat karena dikawatirkan akan muncul ego sektoral dari masing-masing intansi yang membuat kinerja Komite ini lamban. Semoga usulan ini mendapat respons yang positif dari Presiden," harapnya.
(bon)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Trump Umumkan Tarif...
Trump Umumkan Tarif Semua Barang Impor ke AS, Indonesia Kena 32%
Prabowo: Fundamental...
Prabowo: Fundamental Ekonomi Kita Kuat, Harga-harga Sembako Terkendali
Makin Suram, OECD Pangkas...
Makin Suram, OECD Pangkas Proyeksi Ekonomi Indonesia Jadi 4,9% di 2025
IHSG Suram, Analis:...
IHSG Suram, Analis: Investor Khawatir dengan Ekonomi RI dan Pasar Keuangan
Awan Gelap Ekonomi RI,...
Awan Gelap Ekonomi RI, Mayoritas Para Ahli Sepakat Memburuk dari 3 Bulan Lalu
Rosan Roeslani: Danantara...
Rosan Roeslani: Danantara Kunci Wujudkan Pertumbuhan Ekonomi 8%
PHK Massal Terpa Industri...
PHK Massal Terpa Industri RI, Indikator Ekonomi Sedang Tak Baik-baik Saja?
Waketum Kadin James...
Waketum Kadin James Riady: Tak Ada Negara yang Lebih Baik dari Indonesia
Dompet Lesu, 12 Hal...
Dompet Lesu, 12 Hal Ini Bakal Makin Sulit Dijangkau Kelas Menengah
Rekomendasi
Cara Mengecek Jalan...
Cara Mengecek Jalan Macet atau Tidak Melalui Google Maps, Mudah dan Praktis
BCL Alami Gangguan Kecemasan...
BCL Alami Gangguan Kecemasan hingga Rutin Konsultasi
Penampakan Pantai Batukaras...
Penampakan Pantai Batukaras Pangandaran Diserbu Wisatawan saat Libur Lebaran
Berita Terkini
20 Negara Penyumbang...
20 Negara Penyumbang Terbesar Defisit Perdagangan AS Tahun 2024, Indonesia Urutan Berapa?
1 jam yang lalu
Kena Tarif Impor 32%,...
Kena Tarif Impor 32%, Indonesia Terus Berkomunikasi Intensif dan Melobi Amerika Serikat
2 jam yang lalu
5 Ruas Tol Trans Sumatera...
5 Ruas Tol Trans Sumatera Digratiskan Selama Arus Balik 2025, Cek Daftarnya
3 jam yang lalu
Tarif Trump 32 Persen...
Tarif Trump 32 Persen Ancam Ekspor Indonesia, Ini Langkah Mitigasi Pemerintah
3 jam yang lalu
Kena Tarif Impor Trump...
Kena Tarif Impor Trump 32 Persen, Indonesia Butuh Gebrakan
4 jam yang lalu
Trump Tampar RI dengan...
Trump Tampar RI dengan Tarif Impor 32%, Sektor Industri Ini Bakal Telan Pil Pahit
5 jam yang lalu
Infografis
Aguan Sugianto, Pengusaha...
Aguan Sugianto, Pengusaha Sukses Pendiri Agung Sedayu Group
Copyright ©2025 SINDOnews.com All Rights Reserved