Ketika Mayoritas Industri Manufaktur Loyo, Kinerja Mark Dynamics Justru Perkasa

loading...
Ketika Mayoritas Industri Manufaktur Loyo, Kinerja Mark Dynamics Justru Perkasa
Foto/Ilustrasi/SINDOnews
JAKARTA - PT Mark Dynamics Indonesia Tbk mencatat kinerja keuangan yang cemerlang di tengah pandemi Covid-19 . Saat mayoritas sektor industri manufaktur di Indonesia mengalami tekanan likuiditas, perseroan justru mencatat kenaikan pendapatan sebesar 40% pada kuartal III-2020.

Produsen sarung tangan kesehatan ini juga membukukan kenaikan laba bersih sebesar 37% pada awal semester II tahun ini. Di kuartal II 2020, pendapatan perseroan naik 20% dan laba bersih naik 15% dibandingkan dengan dua periode yang sama 2019.

Chief Financial Officer Mark Dynamics Budi Muharsyah mengatakan, kinerja positif yang dialami perseroan saat ini belum pernah terjadi sebelumnya. ( Baca juga:Emiten Alat Kesehatan Incar Pertumbuhan Laba Bersih Hingga 20% )

"Untuk Mark Dynamics sendiri, kondisi saat ini di kuartal II dan kuartal III kemarin menjadi kabar gembira. Kebetulan industri kami adalah industri yang berkaitan dengan kesehatan. Kami adalah pabrik yang memproduksi cetakan untuk sarung tangan kesehatan. Jadi justru dalam kondisi pandemi ini kita mengalami pertumbuhan yang belum pernah kita rasakan sebelumnya," ujar Budi dalam Webinar, IDX Channel, Kamis (19/11/2020).



Meski begitu, sepanjang kuartal I tahun ini, kinerja perseroan masih tercatat stagnan. Hal ini karena adanya kebijakan lockdown atau penguncian yang dilakukan Pemerintah Malaysia yang menjadi market size Mark Dynamics Indonesia.

Budi mengutarakan, dalam rentang waktu Maret-April 2020 sejumlah pabrik, termasuk Mark Dynamics Indonesia hanya bisa memproduksi 50% dari total kapasitas barang. Hal ini menyebabkan adanya penurunan kinerja perusahaan. Namun begitu, kinerja emiten kembali menggeliat saat kebijakan lockdown dicabut otoritas setempat.

"Pada saat Maret-April terjadi lockdown di Malaysia, karena kita ekspor ke Malaysia tapi kita beruntung karena lockdown di Malaysia selesai di bulan April dan Mei. Pada masa lockdown pabrik-pabrik di Malaysia itu hanya bisa memproduksi 50% dari kapasitas, jadi ada penurunan. Tapi setelah itu, kita juga boleh produksi full kapasitas lagi di bulan Mei," ujarnya. ( Baca juga:Mengerikan, Tabrakan Maut di Simalungun Korban Berserakan di Jalan )



Manajemen perseroan juga mencatat, pertumbuhan kinerjanya, berdampak positif bagi industri pendukung. Misalnya, transportasi dan perbankan. Untuk perbankan, pihaknya masih menerima kredit tambahan.

"Jadi kelihatan perusahaan kami tumbuh dan juga berdampak pada industri pendukung kami seperti transportasi, kredit perbankan juga masih kita terima. Justru di tahun ini kita ekspansi, kita menambah kredit perbankan lagi. Dan kita rencanakan pada awal 2021 kita bangun pabrik baru lagi," kata dia.
(uka)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top