Khawatir Pandemi Memburuk, Miliarder Dunia Tumpuk Uang Tunai
Senin, 23 November 2020 - 11:12 WIB
loading...
Para miliarder di dunia menyiapkan uang tunai dalam jumlah hingga miliaran dolar sebagai persiapan menghadapi skenario terburuk pandemi virus corona menjelang musim dingin pada Desember mendatang. Foto/dok
A
A
A
TOKYO - Para miliarder di dunia menyiapkan uang tunai dalam jumlah hingga miliaran dolar sebagai persiapan menghadapi skenario terburuk pandemi virus corona menjelang musim dingin pada Desember mendatang. Kekhawatiran itu sangat masuk akal karena vaksin yang efektif memang belum tersedia sehingga munculnya gelombang kedua dan ketiga semakin di depan mata.
Tren menumpuk uang tunai itu juga dilakukan miliarder Jepang, Masayoshi Son, CEO SoftBank. Dia mengaku pesimistis dengan pandemi gelombang kedua dan ketiga yang sedang terjadi di seluruh dunia. “Dalam dua hingga tiga bulan mendatang, bencana bisa terjadi,” kata Son dalam konferensi Dealbook The New York Times yang digelar virtual. (Baca: Ini Perbedaan Muslim dan Mukmin, Kamu Pilih Mana?)
SoftBank untuk mengumumkan penjualan aset pada awal tahun untuk menyeimbangkan neraca saat pandemi mengguncang ekonomi global. Awalnya, SoftBank akan menjual aset senilai USD41 miliar, tetapi akhirnya menggandakannya.
“Untuk pertama kali dalam sejarah kita melikuidasi banyak aset secepat mungkin,” kata Son, dilansir CNN. Sebelum distribusi vaksin corona tersedia, menurut dia, banyak perusahaan akan bangkrut dan menyebabkan efek domino dengan industri terkait. “Untuk menghadapi skenario buruk, kenapa kita memilih lebih dari USD80 miliar tunai di tangan kita,” paparnya.
Son menjelaskan, investasi paling menawan saat ini pandemi dan ke depannya adalah fokus pada perusahaan yang mengembangkan revolusi kecerdasan buatan. Dia menyebut, perusahaan seperti Google, Amazon, Facebook, dan Apple merupakan pemain utama pada revolusi tersebut. “Apakah itu unicorn, publik atau swasta, itu tidak masalah. Saya hanya ingin bertaruh untuk revolusi kecerdasan buatan,” tutur Son.
Apa yang dilakukan Son memang sudah terbukti. Sekitar 20 tahun lalu, Son menginvestasikan USD20 juta di Alibaba dan kini sudah menjadi perusahaan e-commerce dengan nilai USD60 miliar pada 2014. Namun, dia juga pernah gagal miliaran dolar ketika berinvestasi pada WeWork. “Itu juga kesalahan saya,” kata Son. (Baca juga: Akibat Pandemi Covid-19, Darurat Pendidikan Makin Parah)
Tren menumpuk uang tunai itu juga dilakukan miliarder Jepang, Masayoshi Son, CEO SoftBank. Dia mengaku pesimistis dengan pandemi gelombang kedua dan ketiga yang sedang terjadi di seluruh dunia. “Dalam dua hingga tiga bulan mendatang, bencana bisa terjadi,” kata Son dalam konferensi Dealbook The New York Times yang digelar virtual. (Baca: Ini Perbedaan Muslim dan Mukmin, Kamu Pilih Mana?)
SoftBank untuk mengumumkan penjualan aset pada awal tahun untuk menyeimbangkan neraca saat pandemi mengguncang ekonomi global. Awalnya, SoftBank akan menjual aset senilai USD41 miliar, tetapi akhirnya menggandakannya.
“Untuk pertama kali dalam sejarah kita melikuidasi banyak aset secepat mungkin,” kata Son, dilansir CNN. Sebelum distribusi vaksin corona tersedia, menurut dia, banyak perusahaan akan bangkrut dan menyebabkan efek domino dengan industri terkait. “Untuk menghadapi skenario buruk, kenapa kita memilih lebih dari USD80 miliar tunai di tangan kita,” paparnya.
Son menjelaskan, investasi paling menawan saat ini pandemi dan ke depannya adalah fokus pada perusahaan yang mengembangkan revolusi kecerdasan buatan. Dia menyebut, perusahaan seperti Google, Amazon, Facebook, dan Apple merupakan pemain utama pada revolusi tersebut. “Apakah itu unicorn, publik atau swasta, itu tidak masalah. Saya hanya ingin bertaruh untuk revolusi kecerdasan buatan,” tutur Son.
Apa yang dilakukan Son memang sudah terbukti. Sekitar 20 tahun lalu, Son menginvestasikan USD20 juta di Alibaba dan kini sudah menjadi perusahaan e-commerce dengan nilai USD60 miliar pada 2014. Namun, dia juga pernah gagal miliaran dolar ketika berinvestasi pada WeWork. “Itu juga kesalahan saya,” kata Son. (Baca juga: Akibat Pandemi Covid-19, Darurat Pendidikan Makin Parah)
Lihat Juga :