Bunga Bank Tidak Lagi Menarik, Duit Mulai Mengalir ke Pasar Modal

loading...
Bunga Bank Tidak Lagi Menarik, Duit Mulai Mengalir ke Pasar Modal
Ada fenomena baru didorong oleh semakin sadar masyarakat untuk tertarik investasi di pasar modal ketika bunga bank tidak lagi menarik. Foto/Dok
JAKARTA - Ada fenomena baru yakni perkembangan pasar modal Indonesia dimana Indek Harga saham gabungan (IHSG) cenderung positif atau naik pada zona hijau. Salah satunya didorong oleh semakin sadar masyarakat untuk tertarik investasi di pasar modal . Ini juga salah satunya didukung dengan kemajuan teknologi. Ada beberapa aplikasi yang memudahkan kita investasi di pasar modal.

"Nah ini saya rasa menarik seiring dengan tingkat pertumbuhan DPK di bank yang tinggi sementara kredit rendah. Sehingga sebagian bank besar kebanjiran likuiditas jadi bunga bank mulai tidak menarik untuk investasi sehingga kemudian ada aliran ke sektor lain yaitu pasar modal," kata Ekonom Indef Eko Listiyanto saat webinar ILUNI UI di Jakarta, Kamis (3/12/2020).

(Baca Juga: Piye Iki Gaes! Separuh Rakyat RI Nggak Ngerti Literasi Keuangan )

Ke depan terang dia jika semakin kompetitif, maka akan mampu bersaing di antara para pelaku di sektor jasa keuangan. Meski begitu Eko menyebut masih ada beberapa tantangan ke depan, salah satunya yakni beberapa sektor masih timpang baik itu literasi atau inklusi walaupun secara agregat ada peningkatan dari sisi indeks.



Adapun dari sisi provinsi, untuk daerah tertentu seperti DKI Jakarta sudah memiliki inklusi keuangan hampir sekitar 95%. Ini menunjukan juga inklusi keuangan di DKI Jakarta melebihi rata-rata di Malaysia dan Thailand. Beberapa kota lain juga cukup tinggi misalkan di Kalimantan Timur yang sudah sekitar 90 an%.

"Saya rasa ini jika dalam konteks inklusi isunya sudah bergeser ke efektfitas. Tapi yang lain lain yang masih rendah apalagi di bawah rata-rata 76% harus concern bagaimana meningkatkan inklusi keuangan ke depan," ucap dia.

(Baca Juga: Bos BEI Beberkan Penambahan Signifikan Investor Pasar Modal )



Adapun wilayah NTT masih sekitar 60%, sehingga masih dibutuhkan upaya ekstra untuk tingkatkan inklusi keuangan. "Jadi dengan pemetaan ini diharapkan strategi untuk inklusi keuangan secara regional harusnya berbeda beda. Bagaimana dengan Jakarta yang sudah lebih tinggi itu tidak lebih spesifik dibandingkan dengan wilayah yang di bawah rata rata nasional," katanya.
(akr)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top