Corona Kills Everything (1)
Sabtu, 16 Mei 2020 - 09:07 WIB
loading...
A
A
A
#3. Prostitution
Covid-19 memaksa setiap orang menjaga jarak dan tidak melakukan kontak fisik. Hal ini menjadi mimpi buruk bagi dunia prostitusi yang by-default membutuhkan aktivitas yang contact-intensive dan intimate-intensive.
Tak mengherankan bila prostitusi adalah salah satu yang paling terdampak oleh adanya pandemi. Di seluruh dunia para PSK (pekerja seks komersial) tak bisa mendapatkan income karena tak ada lagi konsumen.
“We are facing a massive crisis,” kata Niki Adams dari English Collective of Prostitutes, organisasi nirlaba yang mewadahi para PSK di Inggris seperti ditulis The Guardian (13/4).
Sementara di India, seorang PSK Neva (bukan nama sebenarnya) mengatakan, "If the situation persists, there will be only one option left for me: suicide," seperti dilaporkan DW (Deutsche Welle).
Celakanya, umumnya para pekerja seks ini tidak tercakup dalam program jaring pengaman sosial pemerintah. Karena itu di seluruh dunia kini banyak LSM yang bergerak di bidang perlindungan pekerja seks dengan melakukan pengumpulan dana untuk membantu mereka.
#4. Mudik
Pandemi juga tidak memungkinkan kita mudik tahun ini. Bahkan secara resmi pemerintah telah mengeluarkan larangan mudik yang efektif berlaku sejak 24 April 2020. Langkah ini dilakukan demi memutus rantai penularan Covid-19. (Baca juga: Anomali Dunia Maya)
Beralasan karena kerumunan di kantong-kantong mudik di kampung dikhawatirkan akan menjadi medium penularan Covid-19 karena para perantau umumnya merupakan orang yang tinggal di episentrum Covid-19.
Mengacu pada data mudik Kemenhub, pada musim mudik tahun 2019 lalu terdapat pergerakan 7,2 juta pemudik selama H-7 sampai H+1 Lebaran. Bisa dibayangkan jika jutaan orang yang berada di zona merah itu tumplek-blek di kampung. Kasus terinfeksi bakal makin menggila.
#5. "9-t-5" Work Hour
Dalam buku Millennials Kill Everything (2019) saya mengatakan, ke depan milenial "membunuh" jam kerja "9-to-5".
Covid-19 memaksa setiap orang menjaga jarak dan tidak melakukan kontak fisik. Hal ini menjadi mimpi buruk bagi dunia prostitusi yang by-default membutuhkan aktivitas yang contact-intensive dan intimate-intensive.
Tak mengherankan bila prostitusi adalah salah satu yang paling terdampak oleh adanya pandemi. Di seluruh dunia para PSK (pekerja seks komersial) tak bisa mendapatkan income karena tak ada lagi konsumen.
“We are facing a massive crisis,” kata Niki Adams dari English Collective of Prostitutes, organisasi nirlaba yang mewadahi para PSK di Inggris seperti ditulis The Guardian (13/4).
Sementara di India, seorang PSK Neva (bukan nama sebenarnya) mengatakan, "If the situation persists, there will be only one option left for me: suicide," seperti dilaporkan DW (Deutsche Welle).
Celakanya, umumnya para pekerja seks ini tidak tercakup dalam program jaring pengaman sosial pemerintah. Karena itu di seluruh dunia kini banyak LSM yang bergerak di bidang perlindungan pekerja seks dengan melakukan pengumpulan dana untuk membantu mereka.
#4. Mudik
Pandemi juga tidak memungkinkan kita mudik tahun ini. Bahkan secara resmi pemerintah telah mengeluarkan larangan mudik yang efektif berlaku sejak 24 April 2020. Langkah ini dilakukan demi memutus rantai penularan Covid-19. (Baca juga: Anomali Dunia Maya)
Beralasan karena kerumunan di kantong-kantong mudik di kampung dikhawatirkan akan menjadi medium penularan Covid-19 karena para perantau umumnya merupakan orang yang tinggal di episentrum Covid-19.
Mengacu pada data mudik Kemenhub, pada musim mudik tahun 2019 lalu terdapat pergerakan 7,2 juta pemudik selama H-7 sampai H+1 Lebaran. Bisa dibayangkan jika jutaan orang yang berada di zona merah itu tumplek-blek di kampung. Kasus terinfeksi bakal makin menggila.
#5. "9-t-5" Work Hour
Dalam buku Millennials Kill Everything (2019) saya mengatakan, ke depan milenial "membunuh" jam kerja "9-to-5".
Lihat Juga :