Terang Saja, Belum Cukup Membuat Indonesia Maju
Kamis, 25 Februari 2021 - 13:27 WIB
loading...
A
A
A
Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan hingga tahun 2020 rasio elektrifikasi telah mencapai 99,2%. Meningkat 14,85%, jika dibandingkan dengan rasio elektrifikasi di 2014 yang baru mencapai 84,35%.
Menteri ESDM Arifin Tasrif menargetkan, di tahun 2021 ini RE dapat mencapai 99,9%. Menteri ESDM mengingatkan, selain memberikan rasa keadilan dalam memanfaatkan energi listrik, elektifikasi yang meningkat dibutuhkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Rasio elektrifikasi yang hampir mencapai 100%, menandakan sudah hampir semua penduduk di negeri ini bisa menikmati aliran listrik. Namun, bila dilihat dari pasokan listrik per kapita masih tergolong kecil. Data yang disampaikan oleh Kementerian ESDM hingga Juni 2020 menunjukkan, kapasitas terpasang pembangkit listrik nasional mencapai 71 Giga Watt (GW).
Sementara jumlah penduduk Indonesia saat ini mencapai sekitar 270 juta jiwa. Itu artinya pasokan listrik per kapita saat ini hanya 262,9 Watt. “Bisa apa dengan pasokan listrik sebesar itu?”, kata Tumiran, pengamat energi dari Univeritas Gajah Mada.
Tumiran pun membandingkan dengan China yang memiliki penduduk sekitar 1,4 miliar orang. Pasokan listrik di Negeri Panda itu sudah di atas 1.100 watt per kapita. Jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga, pasokan listrik Indonesia juga tergolong kecil.
Seperti Malaysia yang sudah mencapai 950 Watt per kapita, lalu Singapura 2.500 Watt per kapita. Melihat angka-angka tersebut, menunjukkan semakin maju sebuah negara, maka makin besar pula pasokan listrik yang diterima warganya.
Dari sisi konsumsi listrik per kapita, Indonesia juga masih tergolong kecil. Kementerian ESDM mencatat, konsumsi listrik di 2019 sebesar 1.084 kWh per kapita, Tahun 2020 konsumsi listrik ditargetkan bisa mencapai 1.142 kWh per kapita. Sedangkan di tahun 2021 ini, konsumsi listrik kembali ditargetkan meningkat menjadi 1.203 kWh per kapita.
Jika target itu bisa dipenuhi, konsumsi listrik Indonesia juga masih di bawah rata-rata konsumsi listrik ASEAN, yang sudah mencapai 1.342 kWh per kapita. Direktur Pembinaan Program dan Ketenagalistrikan Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Jisman P Hutajulu mengatakan bila dibandingkan dengan negara ASEAN yang lain, konsumsi listrik Indonesia masih di atas Kamboja dan Laos. “Tapi bila dibandingkan dengan Brunei atau Singapura, kita jauhlah,”katanya.
Di era modern seperti saat ini, energi listrik sudah jadi kebutuhan utama. Hampir semua aktifitas masyarakat membutuhkan listrik. Apalagi di masa Pandemi Covid 19, saat semua kegiatan berlangsung dari rumah. Mulai dari belajar, bekerja, berbisnis, belanja, bersosialisasi, hingga beribadah. Listrik pun benar-benar dibutuhkan.
Sebagai sumber energi, listrik ikut menentukan tingkat kesejahteraan masyarakat. Listrik juga punya kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi. Menjadi penentu pula dalam perang mengalahkan pandemi. Itu sebabnya meningkatkan elektrifikasi saja tidak cukup, untuk membuat Indonesia lebih maju dari saat ini.
Perlu didukung juga dengan kualitas dari pasokan listrik. Kualitas yang dimaksud, terkait dengan ketersediaan daya listrik sesuai dengan yang kebutuhan. Apakah dalam 24 jam sehari, seluruh masyarakat sudah dapat menikmati listrik ? dan sebagainya
Fabby Tumiwa, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) menuturkan untuk menjadi penggerak kemajuan, kualitas dari energi listrik harus dilihat dari kehandalannya, kecukupannya, keterjangkauannya dan juga tarifnya yang terjangkau. “Serta respon penerimaan masyarakat, kelayakan lingkungan, dan manfaatnya untuk sosial ekonomi,”ujarnya.
Sebenarnya gencar melistriki desa-desa tertinggal, bukan berarti PLN melupakan kualitas dari pasokan listrik. Buktinya, BUMN ini terus membangun pembangkit listrik, bahkan diantaranya merupakan pembangkit yang ramah lingkungan. Seperti tahun ini PLN mulai membangun Pembangkit listrik tenaga surya atau PLTS di Waduk Cirata, Kabupaten Bandung Barat. PLTS Waduk Cirata ini mampu menghasilkan setrum 145 Megawatt. Kemampuan menghasilkan setrum sebesar itu, menjadikan PLTS ini menjadi yang terbesar di Asia Tenggara.
Baca Juga : PLTS Atap Akan Jadi Penyumbang Utama Program EBT
Didukung Green Loan
Menjaga kehandalan listrik juga bukan hanya membangun pembangkit. Ditegaskan oleh Zulkifli Zaini, Direktur Utama PLN, kehandalan listrik juga berarti PLN harus bisa memastikan tidak pernah lagi terjadi pemadaman. Ini menjadi bagian dari komitmen PLN dalam meningkatan pelayanan kepada masyarakat.“Mandat yang paling utama dari PLN adalah menjaga kehandalan listrik tanpa padam,” tegasnya.
Menteri ESDM Arifin Tasrif menargetkan, di tahun 2021 ini RE dapat mencapai 99,9%. Menteri ESDM mengingatkan, selain memberikan rasa keadilan dalam memanfaatkan energi listrik, elektifikasi yang meningkat dibutuhkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Rasio elektrifikasi yang hampir mencapai 100%, menandakan sudah hampir semua penduduk di negeri ini bisa menikmati aliran listrik. Namun, bila dilihat dari pasokan listrik per kapita masih tergolong kecil. Data yang disampaikan oleh Kementerian ESDM hingga Juni 2020 menunjukkan, kapasitas terpasang pembangkit listrik nasional mencapai 71 Giga Watt (GW).
Sementara jumlah penduduk Indonesia saat ini mencapai sekitar 270 juta jiwa. Itu artinya pasokan listrik per kapita saat ini hanya 262,9 Watt. “Bisa apa dengan pasokan listrik sebesar itu?”, kata Tumiran, pengamat energi dari Univeritas Gajah Mada.
Tumiran pun membandingkan dengan China yang memiliki penduduk sekitar 1,4 miliar orang. Pasokan listrik di Negeri Panda itu sudah di atas 1.100 watt per kapita. Jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga, pasokan listrik Indonesia juga tergolong kecil.
Seperti Malaysia yang sudah mencapai 950 Watt per kapita, lalu Singapura 2.500 Watt per kapita. Melihat angka-angka tersebut, menunjukkan semakin maju sebuah negara, maka makin besar pula pasokan listrik yang diterima warganya.
Dari sisi konsumsi listrik per kapita, Indonesia juga masih tergolong kecil. Kementerian ESDM mencatat, konsumsi listrik di 2019 sebesar 1.084 kWh per kapita, Tahun 2020 konsumsi listrik ditargetkan bisa mencapai 1.142 kWh per kapita. Sedangkan di tahun 2021 ini, konsumsi listrik kembali ditargetkan meningkat menjadi 1.203 kWh per kapita.
Jika target itu bisa dipenuhi, konsumsi listrik Indonesia juga masih di bawah rata-rata konsumsi listrik ASEAN, yang sudah mencapai 1.342 kWh per kapita. Direktur Pembinaan Program dan Ketenagalistrikan Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Jisman P Hutajulu mengatakan bila dibandingkan dengan negara ASEAN yang lain, konsumsi listrik Indonesia masih di atas Kamboja dan Laos. “Tapi bila dibandingkan dengan Brunei atau Singapura, kita jauhlah,”katanya.
Di era modern seperti saat ini, energi listrik sudah jadi kebutuhan utama. Hampir semua aktifitas masyarakat membutuhkan listrik. Apalagi di masa Pandemi Covid 19, saat semua kegiatan berlangsung dari rumah. Mulai dari belajar, bekerja, berbisnis, belanja, bersosialisasi, hingga beribadah. Listrik pun benar-benar dibutuhkan.
Sebagai sumber energi, listrik ikut menentukan tingkat kesejahteraan masyarakat. Listrik juga punya kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi. Menjadi penentu pula dalam perang mengalahkan pandemi. Itu sebabnya meningkatkan elektrifikasi saja tidak cukup, untuk membuat Indonesia lebih maju dari saat ini.
Perlu didukung juga dengan kualitas dari pasokan listrik. Kualitas yang dimaksud, terkait dengan ketersediaan daya listrik sesuai dengan yang kebutuhan. Apakah dalam 24 jam sehari, seluruh masyarakat sudah dapat menikmati listrik ? dan sebagainya
Fabby Tumiwa, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) menuturkan untuk menjadi penggerak kemajuan, kualitas dari energi listrik harus dilihat dari kehandalannya, kecukupannya, keterjangkauannya dan juga tarifnya yang terjangkau. “Serta respon penerimaan masyarakat, kelayakan lingkungan, dan manfaatnya untuk sosial ekonomi,”ujarnya.
Sebenarnya gencar melistriki desa-desa tertinggal, bukan berarti PLN melupakan kualitas dari pasokan listrik. Buktinya, BUMN ini terus membangun pembangkit listrik, bahkan diantaranya merupakan pembangkit yang ramah lingkungan. Seperti tahun ini PLN mulai membangun Pembangkit listrik tenaga surya atau PLTS di Waduk Cirata, Kabupaten Bandung Barat. PLTS Waduk Cirata ini mampu menghasilkan setrum 145 Megawatt. Kemampuan menghasilkan setrum sebesar itu, menjadikan PLTS ini menjadi yang terbesar di Asia Tenggara.
Baca Juga : PLTS Atap Akan Jadi Penyumbang Utama Program EBT
Didukung Green Loan
Menjaga kehandalan listrik juga bukan hanya membangun pembangkit. Ditegaskan oleh Zulkifli Zaini, Direktur Utama PLN, kehandalan listrik juga berarti PLN harus bisa memastikan tidak pernah lagi terjadi pemadaman. Ini menjadi bagian dari komitmen PLN dalam meningkatan pelayanan kepada masyarakat.“Mandat yang paling utama dari PLN adalah menjaga kehandalan listrik tanpa padam,” tegasnya.
Lihat Juga :