Tata Niaga Ayam Tak Sehat, Kementerian Perdagangan Diminta Turun Tangan
Kamis, 25 Maret 2021 - 12:27 WIB
loading...
A
A
A
Over supply
Bagi peternak mandiri, dirinya merasakan kerugian paling besar itu pada tahun 2019. Setahun kemudian, yakni di 2020 kondisinya sendikit membaik, walaupun di kalangan peternak ayam mandiri ada yang mengalami kerugian juga.
Tahun ini, mereka berharap kondisinya akan lebih baik dibandingkan dengan di dua tahun belakang ini. Harapan itu menyusul mulai pulihnya kondisi perekonomian seiring dengan dilakukannya vaksinasi Covid-19 kepada masyarakat.
(Baca juga:Curhat Peternak Ayam Rakyat Nasional, Dua Tahun Rugi Rp5,4 Triliun)
Sejatinya pangkal persoalan kerugian peternak mandiri itu lantaran terjadi kelebihan pasokan (over supply) ayam ke masyarakat pada 2019. Di satu sisi pasokan melimpah yang mengakibatkan harga ayam turun, di sisi lain harga sarana produksi peternakan (sapronak) melonjak.
Tahun 2019 ada kebijakan afkir dini yang digulirkan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian (Kementan). “Tapi itu tidak menolong karena harga sapronak sudah kelewat tinggi,” katanya.
(Baca juga:Jabar Butuh 400 Apartemen Ayam Demi Penuhi 2 Juta Ekor Ayam)
Perlu diketahui bahwa biaya sapronak yang terdiri dari biaya DOC (day old chicken), pakan dan obat-obatan itu mencapai 80% dari total produksi peternakan ayam. “Bagaimana kami bisa untung kalau biaya sapronak kelewat tinggi, sementara harga jual ayam dihargai rendah sekali,” katanya.
Bagi peternak mandiri, dirinya merasakan kerugian paling besar itu pada tahun 2019. Setahun kemudian, yakni di 2020 kondisinya sendikit membaik, walaupun di kalangan peternak ayam mandiri ada yang mengalami kerugian juga.
Tahun ini, mereka berharap kondisinya akan lebih baik dibandingkan dengan di dua tahun belakang ini. Harapan itu menyusul mulai pulihnya kondisi perekonomian seiring dengan dilakukannya vaksinasi Covid-19 kepada masyarakat.
(Baca juga:Curhat Peternak Ayam Rakyat Nasional, Dua Tahun Rugi Rp5,4 Triliun)
Sejatinya pangkal persoalan kerugian peternak mandiri itu lantaran terjadi kelebihan pasokan (over supply) ayam ke masyarakat pada 2019. Di satu sisi pasokan melimpah yang mengakibatkan harga ayam turun, di sisi lain harga sarana produksi peternakan (sapronak) melonjak.
Tahun 2019 ada kebijakan afkir dini yang digulirkan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian (Kementan). “Tapi itu tidak menolong karena harga sapronak sudah kelewat tinggi,” katanya.
(Baca juga:Jabar Butuh 400 Apartemen Ayam Demi Penuhi 2 Juta Ekor Ayam)
Perlu diketahui bahwa biaya sapronak yang terdiri dari biaya DOC (day old chicken), pakan dan obat-obatan itu mencapai 80% dari total produksi peternakan ayam. “Bagaimana kami bisa untung kalau biaya sapronak kelewat tinggi, sementara harga jual ayam dihargai rendah sekali,” katanya.
(dar)
Lihat Juga :