Remehkan AS, China Sebut Sanksi ke Perusahaan Teknologinya Cuma 'Gigitan Nyamuk'

Jum'at, 09 April 2021 - 13:40 WIB
loading...
A A A
Mei juga mencatat bahwa AS telah menempatkan banyak batasan pada teknologi China yang dapat digunakan di militer, termasuk komputer, dan langkah terbaru ini hanya memperketat sanksi yang ada, daripada memberlakukan yang baru. Meskipun mendapat tekanan dari AS sepanjang waktu, perusahaan teknologi China terus membuat prestasi di bawah bayang-bayang sanksi.

"Ini seperti nyamuk yang menggigit kami. Mereka telah mengganggu kami selama bertahun-tahun, jadi tidak masalah bagi kami untuk menggigit lagi," kata Mei. Baca Juga: Di Tengah Sanksi AS, Pendapatan Huawei Tahun 2020 Naik 3,8%

Sebaliknya, kata dia, sanksi yang meningkat dari AS hanya akan mendorong perusahaan China untuk meningkatkan upaya penelitian dan pengembangan mereka sendiri untuk menembus kesenjangan teknologi di bidang-bidang seperti semikonduktor dan komputasi.

Menanggapi sanksi AS yang tiada henti terhadap perusahaan China, juru bicara Kementerian Luar Negeri Zhao Lijian mengatakan, selama konferensi pers pada bulan Maret pemerintah AS menyalahgunakan konsep keamanan nasional dan kekuasaan negara dan berusaha keras untuk menekan perusahaan teknologi tinggi China untuk mempertahankan monopoli dan hegemoni dalam ilmu pengetahuan dan teknologi.

"Ini meniadakan prinsip-prinsip ekonomi pasar yang diklaim AS untuk diperjuangkan dan mengungkapkan kemunafikannya dalam menggembar-gemborkan apa yang disebut persaingan yang sehat," tandas Zhao.
(fai)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pasar Cemas Tarif Baru...
Pasar Cemas Tarif Baru AS, Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.963
Bitcoin Kembali ke Level...
Bitcoin Kembali ke Level USD65.500, Didukung Regulasi AS dan Arus ETF
Indonesia Digetok Tarif...
Indonesia Digetok Tarif Baru Trump 10%, Purbaya: Baik Buat Kita
60 Negara Kena Getok...
60 Negara Kena Getok Tarif Kerja Paksa AS 10-12,5%, Dedengkot BRICS Bakal Balik Melawan
Trump Berlakukan Tarif...
Trump Berlakukan Tarif Impor Baru secara Global, Indonesia Kena 10%
Kuasai 25% Kekayaan...
Kuasai 25% Kekayaan Miliarder AS: 144 Imigran Terkaya Pecahkan Rekor Rp39.261 Triliun
Dituding Dukung Militer...
Dituding Dukung Militer AS, Iran Serang Pusat Data Amazon di Bahrain
Mesir Desak AS Percepat...
Mesir Desak AS Percepat Pengerahan Pasukan Stabilisasi Internasional di Gaza
AS Gencarkan Serangan...
AS Gencarkan Serangan di Iran, Houthi Izinkan Kapal-kapal China lewat Selat Bab al-Mandeb
Rekomendasi
Dituding Dukung Militer...
Dituding Dukung Militer AS, Iran Serang Pusat Data Amazon di Bahrain
Eksepsi Dokter Tifa...
Eksepsi Dokter Tifa di Kasus Ijazah Jokowi Diterima, Polda Metro Jaya: Itu Bukan Akhir dari Semuanya
Kasus Korupsi MBG, Kejagung...
Kasus Korupsi MBG, Kejagung Buka Kemungkinan Periksa Nanik S Deyang
Berita Terkini
PLN EPI Kebut Ekosistem...
PLN EPI Kebut Ekosistem Biohidrogen, Optimalkan 60 Juta Ton Biomassa
Pasar Cemas Tarif Baru...
Pasar Cemas Tarif Baru AS, Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.963
Bitcoin Kembali ke Level...
Bitcoin Kembali ke Level USD65.500, Didukung Regulasi AS dan Arus ETF
Dukung Pendidikan Wilayah...
Dukung Pendidikan Wilayah Pesisir, PHE Gelar Pemeriksaan Mata Gratis di Kepulauan Seribu
Indonesia Digetok Tarif...
Indonesia Digetok Tarif Baru Trump 10%, Purbaya: Baik Buat Kita
Harga Minyak Dunia Kembali...
Harga Minyak Dunia Kembali Tembus USD100 per Barel, Pertalite Bakal Naik?
Infografis
Presiden AS Donald Trump...
Presiden AS Donald Trump Kecam Serangan India ke Pakistan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved