Remehkan AS, China Sebut Sanksi ke Perusahaan Teknologinya Cuma 'Gigitan Nyamuk'
Jum'at, 09 April 2021 - 13:40 WIB
loading...
China menyebut sanksi AS terhadap sejumlah perusahaan teknologinya cuma gigitan nyamuk yang tak berarti. Foto/Ilustrasi
A
A
A
BEIJING - Sanksi tanpa henti Amerika Serikat (AS) terhadap perusahaan teknologi China dinilai tak lebih dari gigitan nyamuk yang tidak akan mengganggu kecepatan China dalam mengembangkan teknologi tinggi.
Hal itu dikemukakan seorang ahli di Kementerian Perdagangan China ketika Biro Industri dan Keamanan, sebuah badan Departemen Perdagangan AS, menyatakan dalam sebuah pernyataan pada Kamis (8/4) bahwa mereka telah menambahkan tujuh perusahaan superkomputer China ke dalam daftar sanksi. Perusahaan-perusahaan itu diduga melakukan aktivitas bertentangan dengan peraturan terkait kepentingan keamanan nasional atau kebijakan luar negeri AS. Baca Juga: Ledek Sanksi AS, Iran Makin Gila-gilaan Jual Minyak ke China
Tujuh perusahaan China tersebut adalah Tianjin Phytium Information Technology, Shanghai High-Performance Integrated Circuit Design Center, Sunway Microelectronics, National Supercomputing Center di Jinan, National Supercomputing Center di Shenzhen, National Supercomputing Center di Wuxi, dan National Supercomputing Center di Zhengzhou.
Pernyataan tersebut mengklaim bahwa entitas ini sedang membangun superkomputer yang digunakan oleh militer China dalam upaya modernisasi atau untuk mengembangkan program senjata pemusnah massal, sebuah retorika yang kerap digunakan oleh pemerintah AS untuk menyudutkan lawannya. Para ahli mengatakan bahwa hal itu mengungkapkan bahwa ideologi penuntun AS, untuk menjaga diri dari persaingan China, tidak pernah berubah.
Akan tetapi sanksi baru ini tidak jauh berbeda dari yang telah diberlakukan AS, kata Mei Xinyu, seorang peneliti di Akademi Perdagangan Internasional dan Kerja Sama Ekonomi China dari Kementerian Perdagangan China, yang dikutip Global Times.
Hal itu dikemukakan seorang ahli di Kementerian Perdagangan China ketika Biro Industri dan Keamanan, sebuah badan Departemen Perdagangan AS, menyatakan dalam sebuah pernyataan pada Kamis (8/4) bahwa mereka telah menambahkan tujuh perusahaan superkomputer China ke dalam daftar sanksi. Perusahaan-perusahaan itu diduga melakukan aktivitas bertentangan dengan peraturan terkait kepentingan keamanan nasional atau kebijakan luar negeri AS. Baca Juga: Ledek Sanksi AS, Iran Makin Gila-gilaan Jual Minyak ke China
Tujuh perusahaan China tersebut adalah Tianjin Phytium Information Technology, Shanghai High-Performance Integrated Circuit Design Center, Sunway Microelectronics, National Supercomputing Center di Jinan, National Supercomputing Center di Shenzhen, National Supercomputing Center di Wuxi, dan National Supercomputing Center di Zhengzhou.
Pernyataan tersebut mengklaim bahwa entitas ini sedang membangun superkomputer yang digunakan oleh militer China dalam upaya modernisasi atau untuk mengembangkan program senjata pemusnah massal, sebuah retorika yang kerap digunakan oleh pemerintah AS untuk menyudutkan lawannya. Para ahli mengatakan bahwa hal itu mengungkapkan bahwa ideologi penuntun AS, untuk menjaga diri dari persaingan China, tidak pernah berubah.
Akan tetapi sanksi baru ini tidak jauh berbeda dari yang telah diberlakukan AS, kata Mei Xinyu, seorang peneliti di Akademi Perdagangan Internasional dan Kerja Sama Ekonomi China dari Kementerian Perdagangan China, yang dikutip Global Times.
Lihat Juga :