Masih Belum Bersaing, Akselerasi EBT Butuh Insentif

Senin, 12 April 2021 - 17:49 WIB
loading...
Masih Belum Bersaing,...
Percepatan pengembangan energi baru terbarukan dinilai masih membutuhkan insentif dari pemerintah. Foto/Ilustrasi
A A A
JAKARTA - Pemerintah dan pelaku industri sepakat bahwa transisi energi dari berbasis fosil menuju ke energi baru terbarukan (EBT) merupakan sebuah keniscayaan. Kendati demikian, akselerasi pengembangan EBT membutuhkan insentif dari pemerintah.

Bauran EBT ditargetkan mencapai sebesar 23% pada 2025. Sementara, hingga 2020 realisasi bauran EBT baru sebesar 11,2% atau 10,6 didawatt (GW) dibandingkan target pada 2025 yang sebesar 24 GW. Baca Juga: Rancangan Beleid EBT Dinilai Tak Menjawab Persoalan Utama Energi Terbarukan

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan P Roeslani mengatakan, Indonesia memiliki potensi EBT yang sangat besar, seperti panas bumi, angin dan air. Selain itu, biaya pembangkitan EBT pun terus turun dari tahun ke tahun.

"Namun demikian, untuk mendukung pengembangan EBT tetap dibutuhkan insentif dari pemerintah," kata Rosan dalam webinar bertema "Collaboration to Accelerate Investment, Innovation and Technology in the Energy and Mineral Resources Sector, di Jakarta, Senin (12/4/2021).

Rektor Institut Teknologi PLN Iwa Garniwa menilai, target bauran energi 23% pada 2025 kurang realistis, berkaca pada realisasi hingga 2020 yang hanya 11,2%. "Saya perkirakan capaian pada 2025 maksimal tambahannya 8% jadi realistisnya 19-20%," kata Iwa.

Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM Ego Syahrial yang mewakili Menteri ESDM Arifin Tasrif dalam diskusi tersebut menegaskan, pemerintah terus mendorong pengembangan EBT. Pemerintah, kata dia, telah dan akan mengeluarkan kebijakan-kebijakan untuk mendorong pengembangan EBT. "Saat ini pemerintah sedang menyiapkan rancangan perpres pembelian tenaga listrik EBT," ujarnya.

Sementara itu, Menteri ESDM Periode 2000-2009 Purnomo Yusgiantoro menyatakan bahwa transisi energi terkait erat dengan dua faktor, yaitu teknologi dan keekonomian. Purnomo mengindikasikan, biaya pembangkitan EBT saat ini masih kalah bersaing dibanding biaya pembangkitan berbasis batu bara, khususnya di wilayah Jawa. Karena itu, menurut Purnomo, transisi energi membutuhkan bahan bakar antara (bridging fuel) semisal gas dan batu bara yang menggunakan teknologi ramah lingkungan. Baca Juga: Presiden Dewan Eropa Michel Sulit Tidur setelah Insiden Sofa di Turki

Mantan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Martiono Hadianto mengatakan, untuk mendorong pengembangan EBT dibutuhkan kolaborasi antarsektor mulai dari sumber daya, pendidikan, perindustrian, hingga perdagangan. "Pendidikan menjadi akar dari penguasaan teknologi dan inovasi," katanya.

Sementara, sejumlah pelaku industri berbasis batu bara menegaskan sudah mulai menjajaki potensi EBT. Contohnya PT Indika Energy Tbk yang mempunyai visi mencatatkan 50% pendapatan dari non-batubara pada 2025.

Indika Energy membangun proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di wilayah anak usahanya, PT Kideco Jaya Agung (Kideco), di Paser, Kalimantan Timur. "Aspek keekonomian EBT dan teknologi baterai semakin murah setiap tahun, hal ini dapat mengakselerasi pengembangan EBT,” kata Direktur Utama Indika Arsjad Rasjid.
(fai)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kebut Program Motor...
Kebut Program Motor dan Kompor Listrik Tahun Depan, Bahlil Anggarkan Rp1,45 Triliun
Kajian 13 Proyek Hilirisasi...
Kajian 13 Proyek Hilirisasi Rampung Juli, Nilainya Ditaksir Capai Rp239 Triliun
Harga BBM Nonsubsidi...
Harga BBM Nonsubsidi Mendadak Naik di Tengah Malam, DPR Bakal Panggil ESDM dan Pertamina
Pertamina Akselerasi...
Pertamina Akselerasi Transisi Energi Melalui Program Dekarbonisasi dan Bisnis Rendah Karbon
HGII Perkuat Posisi...
HGII Perkuat Posisi di Segmen Hidro, Tulang Punggung EBT Nasional dalam RUPTL 2025–2034
BLU Bisa Impor Minyak...
BLU Bisa Impor Minyak saat Pasokan Global Seret, Lemigas Salah Satunya
BGN Evaluasi Insentif...
BGN Evaluasi Insentif SPPG Rp6 Juta per Hari
Ketua MKI Jateng Dukung...
Ketua MKI Jateng Dukung Percepatan EBT dan Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik
ANDALAS Forum VI Digelar...
ANDALAS Forum VI Digelar di Palembang, Sinergi Energi Jadi Sorotan
Rekomendasi
Begini Cara kerja AirTag...
Begini Cara kerja AirTag dan SmartTag, Pelacak Bluetooth Murah untuk Android dan iPhone
BGN Evaluasi Insentif...
BGN Evaluasi Insentif SPPG Rp6 Juta per Hari
China Tangkap 2 Pemimpin...
China Tangkap 2 Pemimpin Gereja Bawah Tanah yang Berpengaruh, Apa Pemicunya?
Berita Terkini
Kebut Program Motor...
Kebut Program Motor dan Kompor Listrik Tahun Depan, Bahlil Anggarkan Rp1,45 Triliun
Hasil Seleksi Pelatihan...
Hasil Seleksi Pelatihan Vokasi Batch 2 Diumumkan 18 Juni 2026, Begini Cara Aksesnya
Harga Tiket Whoosh Pakai...
Harga Tiket Whoosh Pakai Skema Dinamis Sambut Libur Sekolah Plus Long Weekend, Termurah Rp250 Ribu
Bahlil Antisipasi Ledakan...
Bahlil Antisipasi Ledakan Subsidi Energi Tahun Depan, Segini Hitungannya dalam RAPBN 2027
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Jaring Talenta Pelaut Muda Perkuat Distribusi Energi Nasional
Bahlil Jamin Harga BBM...
Bahlil Jamin Harga BBM Pertalite dan LPG 3 Kg Tidak Naik
Infografis
Presiden Trump: Zelensky...
Presiden Trump: Zelensky Belum Siap untuk Perdamaian
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved