Izin Ekspor Hanya 8 Jam, Aturannya Sudah Diteken Mendag

loading...
Izin Ekspor Hanya 8 Jam, Aturannya Sudah Diteken Mendag
Direktur Ekspor Produk Industri dan Pertambangan Kementerian Perdagangan (Kemendag), Luther Palimbong mengatakan, Kemendag juga mempercepat keluarnya izin ekspor yang diajukan oleh perusahaan eksportir. Foto/Dok
JAKARTA - Pemerintah terus berupaya meningkatkan ekspor di masa pandemi. Saat ini, fokus utama pemerintah adalah mengekspor komoditi yang trennya sedang meningkat dan banyak permintaan dari negara lain.

Baca Juga: Ekspor RI Double Digit, Tembus USD18,35 Miliar di Bulan Maret

Direktur Ekspor Produk Industri dan Pertambangan Kementerian Perdagangan (Kemendag), Luther Palimbong mengatakan, Kemendag juga mempercepat keluarnya izin ekspor yang diajukan oleh perusahaan eksportir. Kata dia, Menteri Perdagangan sudah menandatangani aturan yang bisa mengeluarkan izin ekspor hanya dalam waktu 8 jam.

“Relaksasi kebijakan, kita sudah mulai pikirkan bagaimana kita permudah kebijakan sehingga pelaku usaha tidak terbebani dengan perizinan. Bapak Menteri sudah menandatangani terkait persetujuan ekspor hanya dalam waktu 8 jam," kata Luther dalam webinar Mandiri Manufacturing Indonesia Forum 2021 ‘Accelerating Economic Recovery by Supporting the Manufacturing Industry’, yang digelar Katadata, Kamis (15/4/2021).

"Ini ada beberapa, tapi pendekatannya kepada perusahaan. Jika perusahaan itu baik, bayar royalti dan pajak, maka kita berikan kemudahan dalam perizinan hanya dalam 8 jam sehingga tidak ada lagi pengusaha yang mengeluh soal perizinan,” paparnya.



Sambung Luther mengungkapkan, pada tahun 2020 ketika Covid-19 mulai menyebar, neraca ekspor Indonesia hanya turun 2,61%. Sejumlah kalangan memprediksi perekonomian Indonesia diperkirakan akan tumbuh mencapai 3,3% dan bisa terus meningkat pada tahun ini.

“Ekspor Indonesia mengalami tren yang positif di dekade terakhir 2020, ekspor kembali meningkat pada di November-Desember bahkan melebihi di tahun-tahun sebelumnya. Sektor yang mengalami kenaikan ekspor terbesar di 2020 secara nilai adalah besi baja, perhiasan, lemak nabati, dan lain-lain,” ucap Luther.

Menurut Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, ekonomi global akan meningkat secara signifikan. Ini dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi dua negara yang menjadi tujuan utama ekspor Indonesia.

“Ini peluang sangat bagus bagi sumber pertumbuhan industri manufaktur Indonesia kalau kita sangat kompetitif. Beberapa poin positif tadi, kami memperkirakan pertumbuhan Indonesia dari sisi GDP akan kembali ke 3,3 persen dari kontraksi minus 2,93 persen,” jelas Andry.

Baca Juga: KPK Dalami Percakapan Pengurusan Izin Ekspor Benur di KKP



Perencana Ahli Madya, Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Mangasi Parsaoran Siahaan menyebutkan, dengan adanya penerapan industri 4.0 diharapkan nantinya kontribusi ekspor terhadap PDB akan meningkat, dan akan sesuai dengan target RPJMN. Bahkan diharapkan bisa mencapai kenaikan lebih dari 30%.

“Selama ini dengan biaya yang ada kita harapkan akan ada peningkatan biaya kembali. Biaya yang ada kita gunakan untuk meningkatkan tenaga kerja dan produktivitas. Dari hasil itu kita terapkan ke industri 4.0 dengan output dan input yang ada, kami akan menghasilkan output dua kali lipat,” tutur Mangasi di acara yang sama.

Meski industri manufaktur Indonesia mendapat titik terang setelah pandemi, namun masih ada beberapa tantangan yang perlu dihadapi seperti regulasi dan kesiapan sumber daya manusia. Andry Asmoro mengungkapkan, untuk mencontoh Vietnam yang lebih terstruktur dalam mengolah industri manufaktur.

“Dari segi indikator infrastruktur, regulasi, dan kesiapan SDM industri kita bisa dikatakan less productive dibanding negara lainnya. Dari situ kita lebih di bawah dari Vietnam, bagaimana kesiapan mereka dalam memanfaatkan kerjasama perdagangan selama ini. Jadi kita akan memperbaiki hal-hal tersebut,” pungkas Andry.
(akr)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top