Utang Tembus Rp6.164 T, Seorang Anggota DPR Tiup Peluit
Minggu, 18 April 2021 - 13:00 WIB
loading...
Foto/Ilustrasi/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) meminta pemerintah agar mengontrol utang luar negeri . Pasalnya, beberapa indikator untuk menilai utang menunjukkan tanda-tanda "peringatan".
Bank Indonesia (BI) mencatat utang luar negeri (ULN) Indonesia tembus USD422,6 miliar per akhir Februari 2021 kemarin atau Rp6.164,46 triliun (kurs Rp14.587 per dolar AS). Posisi tersebut tumbuh 4,0% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 2,7% (yoy). ( Baca juga:DPR Geram dengan BPOM yang Dianggap Persulit Pembuatan Vaksin Nusantara )
Anggota Komisi XI DPR Kamrussamad mengatakan terdapat tiga rasio untuk mengukur utang suatu negara dikatakan over borrowing atau lower borrowing. Pertama, DSR (debt service ratio), merupakan rasio pembayaran bunga dan cicilan utang terhadap penerimaan ekspor dengan batas aman sebesar 20%.
Lalu, DER (debt export ratio), merupakan rasio totang ULN dengan penerimaan ekspor dengan batas aman sebesar 200%. Ketiga DGDP (Debt to GDP ratio), merupakan rasio antara total ULN terhadap PDB dengan batas aman 40%,"
"Berdasarkan data Februari 2021, DGDP ratio sebesar 39,7%, sedangkan data mengenai DSR dan DER masing-masing sebesar 27,86% dan 215,4% pada IV-2020," ujar Kamrussamad di Jakarta, Minggu (18/4/2021).
Bank Indonesia (BI) mencatat utang luar negeri (ULN) Indonesia tembus USD422,6 miliar per akhir Februari 2021 kemarin atau Rp6.164,46 triliun (kurs Rp14.587 per dolar AS). Posisi tersebut tumbuh 4,0% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 2,7% (yoy). ( Baca juga:DPR Geram dengan BPOM yang Dianggap Persulit Pembuatan Vaksin Nusantara )
Anggota Komisi XI DPR Kamrussamad mengatakan terdapat tiga rasio untuk mengukur utang suatu negara dikatakan over borrowing atau lower borrowing. Pertama, DSR (debt service ratio), merupakan rasio pembayaran bunga dan cicilan utang terhadap penerimaan ekspor dengan batas aman sebesar 20%.
Lalu, DER (debt export ratio), merupakan rasio totang ULN dengan penerimaan ekspor dengan batas aman sebesar 200%. Ketiga DGDP (Debt to GDP ratio), merupakan rasio antara total ULN terhadap PDB dengan batas aman 40%,"
"Berdasarkan data Februari 2021, DGDP ratio sebesar 39,7%, sedangkan data mengenai DSR dan DER masing-masing sebesar 27,86% dan 215,4% pada IV-2020," ujar Kamrussamad di Jakarta, Minggu (18/4/2021).
Lihat Juga :