Ternyata, Polusi Udara Akibat BBM RON Rendah Bisa Bikin Gila

Selasa, 04 Mei 2021 - 15:45 WIB
loading...
Ternyata, Polusi Udara...
Ilustrasi. FOTO/SINDOnews
A A A
JAKARTA - Polusi udara ternyata punya dampak buruk bagi kesehatan mental. Berbagai studi terbaru menyebutkan, polusi udara yang dihasilkan dari bahan bakar minyak yang tak ramah lingkungan, rendah oktan, punya dampak buruk seperti menyebabkan depresi berat, gangguan kepribadian, hingga skizofrenia.

Misal, Studi Afif Khan, juga studi Susanna Roberts, dkk, berjudul "Exploration of NO­2 dan PM­2.5 air pollution and mental health problems using high-resolution data in London-based children from UK longitudinal cohort study", yang dipublikasikan pada Agustus 2019 menemukan hubungan erat polusi lingkungan dengan peningkatan risiko gangguan kejiwaan. Studi tersebut menganalisis dua dataset 151 juta individu yang terdapat pada dataset klaim asuransi dan kesehatan dari 1,4 juta penduduk yang tercatat dalam daftar perawatan nasional.

Baca Juga: Duit Pemda Cuma Ngendon di Bank, Tito Minta Sri Mulyani Stop Transfer ke Daerah

Paparan polusi udara tersebut mereka rangkum dalam tujuh tingkatan, Q1 untuk kualitas udara yang paling bersih dan Q7 mewakili kualitas udara terburuk. Ternyata hasilnya jumlah gangguan kejiwaan mengalami peningkatan seiring dengan peningkatan paparan polusi udara. Misal, pada kasus skizofrenia mencatat peningkatan kasus sebesar 148% pada daerah dengan kualitas udara yang paling buruk (Q7) jika dibandingkan dengan daerah yang memiliki kualitas udara terbaik (Q1). Sedangkan gangguan bipolar meningkat 29,4% dan 24,3% pada kategori Q6 dan Q7 jika dibandingkan dengan Q1.

Hubungan yang paling kuat adalah antara polusi udara dengan gangguan kepribadian, menunjukkan peningkatan kejadian sebanyak 162%. Sedangkan untuk kasus depresi berat, mengalami peningkatan 50,5% pada daerah dengan polusi udara tertinggi. Dalam riset tersebut, ada enam polutan udara yang menjadi masalah di Amerika Serikat dan Denmark yaitu CO, NO2, O3, PM10, PM2.5, dan SO2. Dari riset tersebut, para ahli menemukan bahwa anak-anak berusia 12 tahun yang hidup di lingkungan berpolusi tiga sampai empat kali lebih mungkin mengalami depresi berat saat mereka berumur 18 tahun.

Karena itu, langkah pemerintah mendorong program langit biru, yakni mendorong BBM ramah lingkungan perlu didukung. Caranya, dengan dengan mengurangi distribusi dan penjualan jenis BBM yang tidak ramah lingkungan, yaitu BBM beroktan rendah. "Karena bagaimana pun itu (BBM ramah lingkungan) membuat lingkungan lebih sehat dan nyaman bagi masyarakat," tegas ketua harian Yayasan Lembabaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi ketika dihubungi wartawan, Selasa (4/5/2021).

Apalagi, kata Tulus, penghapusan BBM tidak ramah lingkungan seperti premium sejalan dengan komitmen pemerintah untuk mengurangi emisi karbon. Namun, upaya itu bila tak didukung maka sulit tercapai. "Pengurangan emisi karbon akan sulit tercapai jika masyarakat masih dominan menggunakan BBM yang tidak ramah lingkungan," ujarnya. Diketahui, kata Tulus, pemerintah pusat telah menetapkan premium hanya berlaku di luar Pulau Jawa. "Tinggal komitmen saja pelaksanaannya bagaimana," ujar dia.

Apalagi, lebih dari 30 persen bensin premium digunakan oleh kendaraan bermotor. Jika premium tidak dihapus, ibu kota akan tenggelam oleh polusi. Karena penyebab tingginya polusi udara tinggi karena masih banyak penggunaan BBM oktan rendah. "Penyebab polusi udara tinggi karena banyak kendaraan masih mengonsumsi BBM yang memiliki oktan rendah. Mestinya pemerintah satu suara mencari solusi yang terbaik," ujar dia.

Sementara ahli kesehatan lingkungan Budi Hartono menyebutkan, polusi udara disebutkan BBM Ron rendah membuat pembakaran tidak sempurna dalam ruang bakar yang mengakibatkan peningkatan emisi. Hal ini, kata dia berdampak buruk terhadap kesehatan. Berbagai penyakit kronis pun mengintai. Seperti akumulasi polutan yang masuk ke tubuh akan memengaruhi metabolisme tubuh. "Kebanyakan hal tersebut berdampak pada gangguan pernapasan seperti ISPA. Tak cuma itu, ada lebih banyak penyakit turunan yang berpotensi besar menyerang masyarakat dengan kualitas udara buruk. Di antaranya, masalah paru, jantung, tekanan darah, dan stroke," ungkap dia.

Polusi udara juga, kata dia, disebabkan karena pembakaran BBM oktan rendah dapat mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan paru, menurunkan fungsi paru, asma, infeksi pernapasan, serta memengaruhi perkembangan mental dan motorik. Selain itu, bisa terjadi kelainan perilaku, lahir dengan berat rendah, prematur, serta kematian janin. "Polusi udara itu juga dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, diabetes, dan stroke ketika mereka dewasa," jelas dia.

Baca Juga: Tito Geram, Belanja APBD PNS Gede Tapi Jalan Rusak Gak Diurus

Saking berbahayanya BBM Ron rendah, kata dia, sampai-sampai pengguna mobil pribadi ber-AC dengan kaca tertutup pun tak luput dari ancaman polusi di jalanan. "Masih bisa masuk ke mobil. Ada partikel tertentu yang tetap masih bisa masuk ke kendaraan," kata dia. Untuk itu, diperlukan adanya komitmen bersama antara pemerintah dan masyarakat untuk dapat mulai beralih pada BBM dengan RON tinggi yang lebih ramah lingkungan. Ditambah, dibutuhkan edukasi bagi masyarakat akan bahayanya BBM dengan RON rendah.

Polusi sangat terkait dengan stres.Salah satunya menyebutkan bahwa paparan polusi udara yang tinggi saat usia bayi hingga anak-anak, menyebabkan peningkatan kecemasan dan depresi ketika memasuki usia 12 tahun. Dalam berbagai penelitian banyak disebut bahwa paparan polusi udara yang tinggi pada remaja dan dewasa muda membuat mereka lebih rentan terhadap gangguan kecemasan, bahkan periaku bunuh diri.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Bukan Dihambat, BBM...
Bukan Dihambat, BBM Baru Bobibos Perlu Dukungan Nyata dari Negara
Bahlil Ungkap Daftar...
Bahlil Ungkap Daftar Negara yang Campur Etanol ke BBM, Brazil Sudah 100%
Produksi di Dalam Negeri,...
Produksi di Dalam Negeri, Pertamina Patra Niaga Siap Pasarkan SAF
Elnusa Petrofin Perluas...
Elnusa Petrofin Perluas Distribusi BBM Pembangkit di Kalimantan Barat
Ekonom Ingatkan Kebijakan...
Ekonom Ingatkan Kebijakan Tarif Picu Bencana Ekonomi Global Seabad yang Lalu
Pengamat: Imbauan Kejagung...
Pengamat: Imbauan Kejagung Bukti BBM Pertamina Sesuai Standar
Dukung Pemerintah Hemat...
Dukung Pemerintah Hemat Energi, Rodalink Ajak Masyarakat Bandung Bersepeda
Gaza Dibanjiri Coklat...
Gaza Dibanjiri Coklat dan Minuman Ringan saat Bahan Bakar dan Obat-obatan Ditahan Israel
Wakil Ketua Komisi XII...
Wakil Ketua Komisi XII Sebut Elektrifikasi Transportasi Bisa Hemat APBN hingga 30%
Rekomendasi
Sony Sonjaya Belum Ajukan...
Sony Sonjaya Belum Ajukan Permohonan Perlindungan Justice Collaborator ke LPSK
Jadwal Timnas Inggris...
Jadwal Timnas Inggris vs Kosta Rika dan Portugal vs Nigeria Live di VISION+
Pakar Militer Klaim...
Pakar Militer Klaim Iran Ingin Memulihkan Daya Tolak Terhadap Serangan AS
Berita Terkini
Astra Masuk Daftar Tempat...
Astra Masuk Daftar Tempat Kerja Terbaik di Asia, Borong 3 Penghargaan Sekaligus
Panel Energi SPIEF 2026...
Panel Energi SPIEF 2026 Bahas Prospek Harga Minyak Tahun Depan, Bakal Tembus USD170 per Barel?
Tsingshan Dorong Kolaborasi...
Tsingshan Dorong Kolaborasi Hilirisasi Nikel Ramah Lingkungan di Indonesia
Rupiah Melemah, Perajin...
Rupiah Melemah, Perajin Tahu Tempe Gelisah Imbas Lonjakan Harga Kedelai Impor
Dibangun PTPP, RSUD...
Dibangun PTPP, RSUD Thohir Krui Diresmikan Presiden Prabowo
IHSG Menguat 2,67% Sore...
IHSG Menguat 2,67% Sore Ini, Ditutup di Level 5.900
Infografis
5 Makanan yang Bisa...
5 Makanan yang Bisa Atasi Stres Akibat Kesepian
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved