Berwisata Aman Saat Lebaran
Senin, 10 Mei 2021 - 06:34 WIB
loading...
A
A
A
“Tren berwisata sekarang itu bukan lagi mass tourism, tetapi quality tourism. Kalau saya jadi wisatawan, saya akan cari tempat-tempat yang tidak cenderung ramai orang-orang. Lebih ke yang privat, premium tourism. Saya tidak ingin pergi berwisata tapi adanya kerumunan,” ujarnya sat dihubungi kemarin.
Bagi masyarakat ekonomi menengah ke bawah, menurut dia bisa menikmati datang ke desa-desa wisata. Destinasi ini umumnya menawarkan biaya penginapan (homestay) yang lebih terjangkau hingga pemandangan alam desa yang hijau dan tak kalah apik dengan destinasi populer lainnya.
“Desa-desa wisata itu justru dengan gaya hidup homestay, gaya hidup pedesaan itu justru murah. Dan itu menjadi tren,” kata dia.
Pilihan lainnya yaitu wisata alam (nature tourism). Misalnya, mengunjungi pantai yang relatif murah dan sepi atau jumlah pengunjungnya dibatasi. “Tipsnya, carilah tempat yang memang ketika dikunjungi itu jauh atau selama ini tidak menjadi pusat perhatian. Misalnya, pantai A menjadi favorit, jangan lagi ke sana. Cari tempat lain yang bisa kita eksplor,” sarannya.
Baca juga: Unik dan Indah, Ini 5 Destinasi Wisata di Malang yang Sayang Dilewatkan
Lalu, bagaimana dengan penduduk di perkotaan, seperti di Jabodetabek? Taufan menilai alternatif berwisata dapat dilakukan secara virtual (virtual tourism). Memang pilihan tersebut kurang diminati karena tidak merasakan langsung destinasi yang dituju. Namun, masyarakat juga harus memahami dan bisa beradaptasi dengan kondisi sekarang ini, terlebih lagi dengan pembatasan sosial yang dilakukan pemerintah.
Ia melanjutkan, alternatif wisata lainnya yang dapat dilakukan masyarakat perkotaan yaitu mencari tempat atraksi yang dekat dengan huniannya. Misalnya, staycation dengan fasilitas menginap dan private pool. Pilihan lainnya yaitu berlibur di taman kota. Namun, objek tersebut harus disiapkan lebih dahulu oleh pengelola yakni menciptakan taman kota dengan konsep bubble park.
“Wisata itu soal feeling, relaxing. Jadi, masyarakat bisa mencari tempat-tempat yang dekat, atraksi-atraksi buatan yang dekat rumah. Kalau di kawasan perumahan real estate, biasanya ada sarana-sarana hiburan bagi mereka yang tinggal di sana,” tukas dia.
Daerah Siap Sambut Wisatawan
Sejumlah pemerintah daerah menyambut positif kebijakan pemerintah pusat tersebut. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menyatakan akan membuka 68 destinasi wisata untuk dikunjungi warga.
“Keputusan pemerintah daerah tetap membuka destinasi pariwisata. Masyarakat bisa menyebar ke 68 destinasi yang di Banyuwangi meskipun berwisatanya dengan pengaturan-pengaturan yang ketat,” ujar M Yanuarto Bramuda, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, kepada KORAN SINDO, Sabtu (8/5).
Keputusan Banyuwangi membuka seluruh objek wisatanya didasarkan pada beberapa pertimbangan. Salah satunya untuk mencegah kerumunan warga di tempat umum seperti mal, pasar, restoran, warung dan kafe, yang tetap buka.
“Maka detinasi wisata dibuka karena kami ingin memberikan ruang kepada masyarakat, ingin agar pikiran mereka fresh saat berkunjung ke destinasi meskipun sifatnya lokal. Berwisata bisa membuat imunnya meningkat,” kata Yanuarto.
Pengaturan ketat di destinasi siap diberlakukan. Selain menerapkan protokol kesehatan ketat, setiap destinasi juga hanya dibuka selama enam jam setiap harinya, yakni mulai pukul 09.00-15.00. Selain itu dilakukan pembatasan jumlah wisatawan di setiap destinasi. Dengan menerapkan sistem transaksi online, jumlah pengunjung bisa ditentukan melalui pemesanan tiket.
Bagi masyarakat ekonomi menengah ke bawah, menurut dia bisa menikmati datang ke desa-desa wisata. Destinasi ini umumnya menawarkan biaya penginapan (homestay) yang lebih terjangkau hingga pemandangan alam desa yang hijau dan tak kalah apik dengan destinasi populer lainnya.
“Desa-desa wisata itu justru dengan gaya hidup homestay, gaya hidup pedesaan itu justru murah. Dan itu menjadi tren,” kata dia.
Pilihan lainnya yaitu wisata alam (nature tourism). Misalnya, mengunjungi pantai yang relatif murah dan sepi atau jumlah pengunjungnya dibatasi. “Tipsnya, carilah tempat yang memang ketika dikunjungi itu jauh atau selama ini tidak menjadi pusat perhatian. Misalnya, pantai A menjadi favorit, jangan lagi ke sana. Cari tempat lain yang bisa kita eksplor,” sarannya.
Baca juga: Unik dan Indah, Ini 5 Destinasi Wisata di Malang yang Sayang Dilewatkan
Lalu, bagaimana dengan penduduk di perkotaan, seperti di Jabodetabek? Taufan menilai alternatif berwisata dapat dilakukan secara virtual (virtual tourism). Memang pilihan tersebut kurang diminati karena tidak merasakan langsung destinasi yang dituju. Namun, masyarakat juga harus memahami dan bisa beradaptasi dengan kondisi sekarang ini, terlebih lagi dengan pembatasan sosial yang dilakukan pemerintah.
Ia melanjutkan, alternatif wisata lainnya yang dapat dilakukan masyarakat perkotaan yaitu mencari tempat atraksi yang dekat dengan huniannya. Misalnya, staycation dengan fasilitas menginap dan private pool. Pilihan lainnya yaitu berlibur di taman kota. Namun, objek tersebut harus disiapkan lebih dahulu oleh pengelola yakni menciptakan taman kota dengan konsep bubble park.
“Wisata itu soal feeling, relaxing. Jadi, masyarakat bisa mencari tempat-tempat yang dekat, atraksi-atraksi buatan yang dekat rumah. Kalau di kawasan perumahan real estate, biasanya ada sarana-sarana hiburan bagi mereka yang tinggal di sana,” tukas dia.
Daerah Siap Sambut Wisatawan
Sejumlah pemerintah daerah menyambut positif kebijakan pemerintah pusat tersebut. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menyatakan akan membuka 68 destinasi wisata untuk dikunjungi warga.
“Keputusan pemerintah daerah tetap membuka destinasi pariwisata. Masyarakat bisa menyebar ke 68 destinasi yang di Banyuwangi meskipun berwisatanya dengan pengaturan-pengaturan yang ketat,” ujar M Yanuarto Bramuda, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, kepada KORAN SINDO, Sabtu (8/5).
Keputusan Banyuwangi membuka seluruh objek wisatanya didasarkan pada beberapa pertimbangan. Salah satunya untuk mencegah kerumunan warga di tempat umum seperti mal, pasar, restoran, warung dan kafe, yang tetap buka.
“Maka detinasi wisata dibuka karena kami ingin memberikan ruang kepada masyarakat, ingin agar pikiran mereka fresh saat berkunjung ke destinasi meskipun sifatnya lokal. Berwisata bisa membuat imunnya meningkat,” kata Yanuarto.
Pengaturan ketat di destinasi siap diberlakukan. Selain menerapkan protokol kesehatan ketat, setiap destinasi juga hanya dibuka selama enam jam setiap harinya, yakni mulai pukul 09.00-15.00. Selain itu dilakukan pembatasan jumlah wisatawan di setiap destinasi. Dengan menerapkan sistem transaksi online, jumlah pengunjung bisa ditentukan melalui pemesanan tiket.
Lihat Juga :