Tenang! Pasar Surat Utang Kita Masih Tahan Gempuran Global
Kamis, 10 Juni 2021 - 21:24 WIB
loading...
Foto/Ilustrasi/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Daya tarik daya tarik pasar obligasi Indonesia, termasuk surat berharga negara (SBN) , diperkirakan masih akan terjadi hingga akhir tahun ini. Sebelumnya banyak spekulasi yang beredar di pasar tentang peluang pemulihan ekonomi Amerika Serikat yang lebih cepat dari ekspektasi pelaku pasar di sini.
Budi Hikmat, Direktur Investasi dan Kepala Makroekonomi PT Bahana TCW Investment Management (Bahana TCW), mengatakan setidaknya ada beberapa faktor yang akan mendorong daya tarik pasar SBN hingga akhir 2021. Di antaranya, faktor fundamental Indonesia yang kuat mampu meningkatkan daya tarik pasar SBN di mata investor.
Fundamental perekonomian Indonesia didorong oleh tingkat suku bunga yang rendah. Merujuk pada hasil riset Bahana TCW, The Fed masih akan tetap menjaga suku bunganya di level 0% sampai 0,25% yang akan menjadi ruang bagi Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan suku bunga. BI sendiri diprediksi akan mempertahankan suku bunga di 3,5% hingga akhir tahun ini. Hal ini akan membawa stabilitas bagi pasar SBN hingga akhir tahun.
Baca juga:Mendag Sebut Industri Digital Butuh Dukungan Pembiayaan Asing
Selain itu, hasil riset Bahana TCW, menggambarkan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga diprediksi akan stabil bahkan menguat ke depan. Penguatan rupiah akan menjadi daya tarik tersendiri bagi investor asing untuk masuk ke pasar keuangan Indonesia. Proyeksi penguatan rupiah ini berdasar pada fundamental perekonomian domestik yang masih terjaga, tecermin dari defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) yang menipis, inflasi yang terkendali, serta cadangan devisa yang mumpuni.
“Pemerintah mampu mengendalikan tingkat inflasi. Tercatat, inflasi tahunan periode Mei sebesar 1,68% masih sesuai dengan ekspektasi pasar. Bahana TCW pun memperkirakan tingkat inflasi akan berada di kisaran 2% hingga 2,5% hingga akhir tahun. Angka ini sangat aman karena berada di batas bawah target inflasi BI dan juga masih jauh di bawah bond yield yang berada di level 6,4%,” kata Budi Hikmat, Kamis (10/6/2021).
Faktor domestik lainnya seperti defisit neraca transaksi berjalan yang hingga saat ini lebih rendah dibanding pada saat menjelang taper tantrum 2013 yang merupakan saat-saat terjadi koreksi cukup dalam di pasar SBN. Selain itu, debt to GDP dalam persentase juga turun serta cadangan devisa sebesar USD 136,4 miliar dipandang masih cukup kuat untuk menjaga stabilitas hingga akhir tahun.
Budi Hikmat, Direktur Investasi dan Kepala Makroekonomi PT Bahana TCW Investment Management (Bahana TCW), mengatakan setidaknya ada beberapa faktor yang akan mendorong daya tarik pasar SBN hingga akhir 2021. Di antaranya, faktor fundamental Indonesia yang kuat mampu meningkatkan daya tarik pasar SBN di mata investor.
Fundamental perekonomian Indonesia didorong oleh tingkat suku bunga yang rendah. Merujuk pada hasil riset Bahana TCW, The Fed masih akan tetap menjaga suku bunganya di level 0% sampai 0,25% yang akan menjadi ruang bagi Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan suku bunga. BI sendiri diprediksi akan mempertahankan suku bunga di 3,5% hingga akhir tahun ini. Hal ini akan membawa stabilitas bagi pasar SBN hingga akhir tahun.
Baca juga:Mendag Sebut Industri Digital Butuh Dukungan Pembiayaan Asing
Selain itu, hasil riset Bahana TCW, menggambarkan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga diprediksi akan stabil bahkan menguat ke depan. Penguatan rupiah akan menjadi daya tarik tersendiri bagi investor asing untuk masuk ke pasar keuangan Indonesia. Proyeksi penguatan rupiah ini berdasar pada fundamental perekonomian domestik yang masih terjaga, tecermin dari defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) yang menipis, inflasi yang terkendali, serta cadangan devisa yang mumpuni.
“Pemerintah mampu mengendalikan tingkat inflasi. Tercatat, inflasi tahunan periode Mei sebesar 1,68% masih sesuai dengan ekspektasi pasar. Bahana TCW pun memperkirakan tingkat inflasi akan berada di kisaran 2% hingga 2,5% hingga akhir tahun. Angka ini sangat aman karena berada di batas bawah target inflasi BI dan juga masih jauh di bawah bond yield yang berada di level 6,4%,” kata Budi Hikmat, Kamis (10/6/2021).
Faktor domestik lainnya seperti defisit neraca transaksi berjalan yang hingga saat ini lebih rendah dibanding pada saat menjelang taper tantrum 2013 yang merupakan saat-saat terjadi koreksi cukup dalam di pasar SBN. Selain itu, debt to GDP dalam persentase juga turun serta cadangan devisa sebesar USD 136,4 miliar dipandang masih cukup kuat untuk menjaga stabilitas hingga akhir tahun.
Lihat Juga :