IHSG Masih Berpeluang Perkasa di Akhir Pekan, Cermati Saham-saham Ini
Jum'at, 11 Juni 2021 - 08:03 WIB
loading...
A
A
A
Sebelumnya, IHSG ditutup menguat 60,06 poin atau 0,99% ke level 6.107 dengan saham DCII (+13.3%), BBCA (+1.4%), BBRI (+1.9%), TLKM (+2.7%) dan AMRT (+10.3%) yang menjadi leader penguatan IHSG hingga akhir sesi. Angin positif ditengah kuatnya pemulihan ekonomi nasional yang ditandai data keyakinan konsumen yang naik menjadi 104,4 dari 101,5 dan Penjualan ritel yang bergerak positif 15,6% dari negatif 14,6% serta Optimisme emiten dalam negeri dalam melakukan aksi korporasi menjadi faktor utama.
Baca Juga: Selamatkan Garuda Indonesia, Ada Opsi Tukar Utang dengan Saham
Sementara itu, Indeks saham Asia bergerak mixed. Indeks Nikkei (+0.34%) dan CSI300 (+0.67%) naik sedangkan TOPIX (-0.02%) dan Hangseng (-0.01%) tertahan pada zona merah. Bursa ekuitas berjangka AS naik menjadi pendorong bursa Asia disaat Investor mananti data inflasi AS untuk bulan Mei.
Bursa Eropa membuka perdagangan dengan tertahan. Indeks FTSE (+0.10%) naik sedangkan indeks DAX (-0.06%) dan CAC40 (-0.26%) turun disaat indeks ekuitas AS menguat karena investor menilai data yang menunjukan harga konsumen naik sebagai indikasi daya beli masyarakat yang mulai tumbuh lebih cepat. Laporan data harga konsumen yang lebih kuat memunculkan perdebatan tentang apakah the Fed dapat mempertahankan kebijakan ultra-akomodatifnya dengan risiko destabilisasi inflasi.
Baca Juga: Selamatkan Garuda Indonesia, Ada Opsi Tukar Utang dengan Saham
Sementara itu, Indeks saham Asia bergerak mixed. Indeks Nikkei (+0.34%) dan CSI300 (+0.67%) naik sedangkan TOPIX (-0.02%) dan Hangseng (-0.01%) tertahan pada zona merah. Bursa ekuitas berjangka AS naik menjadi pendorong bursa Asia disaat Investor mananti data inflasi AS untuk bulan Mei.
Bursa Eropa membuka perdagangan dengan tertahan. Indeks FTSE (+0.10%) naik sedangkan indeks DAX (-0.06%) dan CAC40 (-0.26%) turun disaat indeks ekuitas AS menguat karena investor menilai data yang menunjukan harga konsumen naik sebagai indikasi daya beli masyarakat yang mulai tumbuh lebih cepat. Laporan data harga konsumen yang lebih kuat memunculkan perdebatan tentang apakah the Fed dapat mempertahankan kebijakan ultra-akomodatifnya dengan risiko destabilisasi inflasi.
(akr)
Lihat Juga :