Cerah, Outlook Ekonomi ke Depan Dinilai Semakin Membaik
Selasa, 29 Juni 2021 - 11:47 WIB
loading...
Kondisi ekonomi diyakini akan semakin membaik didorong oleh program vaksinasi dan upaya pemulihan yang dilakukan pemerintah. Foto/Ilustrasi
A
A
A
JAKARTA - Menjelang akhir kuartal II tahun ini, pemulihan ekonomi global dinilai terlihat semakin kuat. Hal ini antara lain ditunjukkan data ketenagakerjaan Amerika serikat (AS) yang menunjukkan perbaikan setiap bulannya.
Begitu juga dengan kenaikan inflasi AS yang masih menjadi fokus pasar, yang mana inflasi meningkat 4,2% yoy untuk periode April 2021. Sementara, Personal Consumption Expenditure (PCE) yang merupakan acuan inflasi oleh The Fed, naik 3,6% yoy.
Namun, The Fed melihat bahwa tingkat inflasi ini hanya bersifat sementara. Karena itu, tapering diyakini belum akan terjadi dalam waktu dekat. Hal tersebut akan tetap menjaga imbal hasil US Treasury dan mendukung aset berisiko.
Baca Juga: Sri Mulyani Yakin Pertumbuhan Ekonomi Tahun Depan Tembus 5,8%
Wealth Management Head Bank OCBC NISP Juky Mariska mengatakan, beberapa sentimen turut mempengaruhi pasar keuangan Indonesia. Selain kekhawatiran inflasi AS yang meningkat, para pelaku pasar juga masih mencermati perkembangan seputar kasus Covid-19 yang melonjak di beberapa negara Asia. Di sisi lain, volatilitas pada mata uang kripto juga masih menjadi perhatian akhir-akhir ini.
Begitu juga dengan kenaikan inflasi AS yang masih menjadi fokus pasar, yang mana inflasi meningkat 4,2% yoy untuk periode April 2021. Sementara, Personal Consumption Expenditure (PCE) yang merupakan acuan inflasi oleh The Fed, naik 3,6% yoy.
Namun, The Fed melihat bahwa tingkat inflasi ini hanya bersifat sementara. Karena itu, tapering diyakini belum akan terjadi dalam waktu dekat. Hal tersebut akan tetap menjaga imbal hasil US Treasury dan mendukung aset berisiko.
Baca Juga: Sri Mulyani Yakin Pertumbuhan Ekonomi Tahun Depan Tembus 5,8%
Wealth Management Head Bank OCBC NISP Juky Mariska mengatakan, beberapa sentimen turut mempengaruhi pasar keuangan Indonesia. Selain kekhawatiran inflasi AS yang meningkat, para pelaku pasar juga masih mencermati perkembangan seputar kasus Covid-19 yang melonjak di beberapa negara Asia. Di sisi lain, volatilitas pada mata uang kripto juga masih menjadi perhatian akhir-akhir ini.
Lihat Juga :