Potensi Besar Transformasi Digital untuk Mendukung Perekonomian
Kamis, 01 Juli 2021 - 08:00 WIB
loading...
A
A
A
"Kalau saya lihat dari data BPS (Badan Pusat Statistik), UMKM ini dahsyat sebetulnya. Ada 64 juta UMKM di Indonesia yang mewakili 99,1% dari total dunia usaha di Indonesia dan menyerap tenaga kerja 97% dari total tenaga kerja 119 juta menurut data tahun 2020," ujar Hary.
Baca juga: Bos OJK: Transformasi Digital Tingkatkan Daya Saing Perbankan
Pada webinar tersebut, juga dipaparkan bangkitnya teknologi digital yang diadopsi oleh berbagai sektor usaha di Tanah Air. Sektor perbankan termasuk salah satu yang paling gencar di samping e-commerce, di mana banyak industri keuangan berlomba-lomba membuat layanan digital di masa pandemi ini.
Melihat perkembangan tersebut, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun terus mendorong agar terbentuk ekosistem dan pengembangan ekonomi digital yang terintegrasi. OJK memperkirakan, dalam lima ke depan, potensi ekonomi digital Indonesia bisa mencapai USD124 miliar.
Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan ekonomi digital Indonesia memiliki potensi yang cukup besar untuk berkembang. Indonesia memiliki penduduk yang berjumlah sekitar 272 juta juta. Dari jumlah tersebut, 137 juta orang merupakan angkatan kerja. pengguna internet di Indonesia mencapai 176 juta orang dan 129 juta orang bertransaksi di lokapasar (e-commerce). Total transaksi pada tahun lalu mencapai Rp266 triliun.
Transformasi digital akan menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi nasional di tengah terbatasnya gerak masyarakat di tengah pandemi Covid-19.
“Kita harus mempunyai strategi bagaimana mengoptimalkan potensi ekonomi digital dengan cepat. kalau tidak cepat, maka daya saing kita tergerus karena pemain global akan lebih cepat dengan apa yang kita lakukan. Indonesia (nantinya) akan menjadi penonton dan pasar dari para pelaku dari luar negeri,” ujarnya dalam webinar sesi I dalam rangka HUT ke-16 Koran Sindo bertema “Bank Digital: Solusi Kemudahan Bertransaksi di Tengah Pandemi”, Rabu (30/6).
Perkembangan industri digital Indonesia sebenarnya tidak kalah jauh. Dalam beberapa tahun terakhir, ada banyak perusahaan rintisan berbasis digital yang lahir. Sekarang ada sekitar 2.100 perusahaan rintisan di berbagai bidang, seperti kesehatan, pendidikan, pertanian, dan ride hailing. Bahkan, sudah ada empat yang berstatus unicorn dan satu decacorn.
Baca juga: Airlangga Hartarto: Lanjutkan Surplus Perdagangan, Dorong UMKM Jadi Eksportir
Namun, kata dia, masih ada beberapa tantangan besar yang harus diselesaikan agar digitalisasi ini bisa dinikmati seluruh masyarakat Indonesia. Pertama, meningkatkan jangkauan konektivitas internet. Kedua, meningkatkan literasi digital, terutama masyarakat di pedesaan yang belum bisa mengakses layanan jasa keuangan. Ketiga, harus waspada terhadap meningkatnya kejahatan siber.
Keempat, Indonesia masih kekurangan talenta digital. Wimboh mengungkapkan OJK terus mendorong terbentuknya ekosistem digital yang terintegrasi. Lingkup ekosistem ini, antara lain, produk dan layanan, bisnis, platform, dan infrastruktur digital. Ini untuk mengembangkan ekosistem digital yang berbasis usaha, mikro, kecil, dan menengah(UMKM).
Terkait perkembangan digital di Industri keuangan, Executive Chairman MNC Group Hary Tanoesoedibjo mengatakan bahwa digital banking telah mendobrak dunia keuangan. Sebab, kini orang tidak perlu lagi ke kantor untuk membuka rekening. Sekarang, kata dia, hal tersebut bisa dilakukan melalui aplikasi. Bahkan, penyaluran kredit sudah lewat aplikasi.
“Ini seperti di setiap rumah ada kantor cabang, sepanjang mereka memiliki sambungan internet. Nanti kita dengarkan bagaimana digital banking ini menjadi satu hal yang mengubah tatanan dunia perbankan dan keuangan pada umumnya,” katanya.
Baca juga: Bos OJK: Transformasi Digital Tingkatkan Daya Saing Perbankan
Pada webinar tersebut, juga dipaparkan bangkitnya teknologi digital yang diadopsi oleh berbagai sektor usaha di Tanah Air. Sektor perbankan termasuk salah satu yang paling gencar di samping e-commerce, di mana banyak industri keuangan berlomba-lomba membuat layanan digital di masa pandemi ini.
Melihat perkembangan tersebut, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun terus mendorong agar terbentuk ekosistem dan pengembangan ekonomi digital yang terintegrasi. OJK memperkirakan, dalam lima ke depan, potensi ekonomi digital Indonesia bisa mencapai USD124 miliar.
Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan ekonomi digital Indonesia memiliki potensi yang cukup besar untuk berkembang. Indonesia memiliki penduduk yang berjumlah sekitar 272 juta juta. Dari jumlah tersebut, 137 juta orang merupakan angkatan kerja. pengguna internet di Indonesia mencapai 176 juta orang dan 129 juta orang bertransaksi di lokapasar (e-commerce). Total transaksi pada tahun lalu mencapai Rp266 triliun.
Transformasi digital akan menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi nasional di tengah terbatasnya gerak masyarakat di tengah pandemi Covid-19.
“Kita harus mempunyai strategi bagaimana mengoptimalkan potensi ekonomi digital dengan cepat. kalau tidak cepat, maka daya saing kita tergerus karena pemain global akan lebih cepat dengan apa yang kita lakukan. Indonesia (nantinya) akan menjadi penonton dan pasar dari para pelaku dari luar negeri,” ujarnya dalam webinar sesi I dalam rangka HUT ke-16 Koran Sindo bertema “Bank Digital: Solusi Kemudahan Bertransaksi di Tengah Pandemi”, Rabu (30/6).
Perkembangan industri digital Indonesia sebenarnya tidak kalah jauh. Dalam beberapa tahun terakhir, ada banyak perusahaan rintisan berbasis digital yang lahir. Sekarang ada sekitar 2.100 perusahaan rintisan di berbagai bidang, seperti kesehatan, pendidikan, pertanian, dan ride hailing. Bahkan, sudah ada empat yang berstatus unicorn dan satu decacorn.
Baca juga: Airlangga Hartarto: Lanjutkan Surplus Perdagangan, Dorong UMKM Jadi Eksportir
Namun, kata dia, masih ada beberapa tantangan besar yang harus diselesaikan agar digitalisasi ini bisa dinikmati seluruh masyarakat Indonesia. Pertama, meningkatkan jangkauan konektivitas internet. Kedua, meningkatkan literasi digital, terutama masyarakat di pedesaan yang belum bisa mengakses layanan jasa keuangan. Ketiga, harus waspada terhadap meningkatnya kejahatan siber.
Keempat, Indonesia masih kekurangan talenta digital. Wimboh mengungkapkan OJK terus mendorong terbentuknya ekosistem digital yang terintegrasi. Lingkup ekosistem ini, antara lain, produk dan layanan, bisnis, platform, dan infrastruktur digital. Ini untuk mengembangkan ekosistem digital yang berbasis usaha, mikro, kecil, dan menengah(UMKM).
Terkait perkembangan digital di Industri keuangan, Executive Chairman MNC Group Hary Tanoesoedibjo mengatakan bahwa digital banking telah mendobrak dunia keuangan. Sebab, kini orang tidak perlu lagi ke kantor untuk membuka rekening. Sekarang, kata dia, hal tersebut bisa dilakukan melalui aplikasi. Bahkan, penyaluran kredit sudah lewat aplikasi.
“Ini seperti di setiap rumah ada kantor cabang, sepanjang mereka memiliki sambungan internet. Nanti kita dengarkan bagaimana digital banking ini menjadi satu hal yang mengubah tatanan dunia perbankan dan keuangan pada umumnya,” katanya.
Lihat Juga :