Benny Hutapea Pertanyakan Nasib Sertifikasi 20 Eksportir Walet
Senin, 12 Juli 2021 - 17:00 WIB
loading...
Foto/Ist
A
A
A
JAKARTA - Panasihat Perkumpulan Petani Sarang Walet Nusantara (PPSWN), Benny Hutapea, mempertanyakan nasib 20 eksportir walet yang tak kunjung memperoleh sertifikat ekspor ke Republik Rakyat Tiongkok (RRT) . Padahal, permohonan sudah diajukan sejak tiga tahun lalu.
Saat ini terdapat 49 perusahaan yang telah terdaftar sebagai pemegang ET-SBW (Eksportir Terdaftar Sarang Burung Walet). Dari jumlah itu, hanya 23 perusahaan yang telah mendapatkan sertifikasi izin ekspor sarang burung walet ke RRT.
Sementara, nasib 20 perusahaan eksportir walet yang sudah mendaftar untuk mendapatkan sertifikat ekspor sarang burung walet ke Tiongkok sejak 2018 masih belum jelas. “Sebagian sudah diaudit GACC, tapi sertifikasi ekspor ke RRT belum juga diperoleh,” katanya, dalam keterangan tertulis, Senin (12/7/2021).
Baca juga:Hendak Kudeta Raja Abdullah II, 2 Eks Pejabat Yordania Divonis 15 Tahun Penjara
Benny berharap pemerintah bersungguh-sungguh dalam membantu dunia usaha untuk mendapatkan sertikasi ekspor sarang burung walet ke Tiongkok, terlebih di tengah upaya pemulihan ekonomi di masa pandemi Covid-19 yang menyebabkan ekonomi global lesu.
Saat ini terdapat 49 perusahaan yang telah terdaftar sebagai pemegang ET-SBW (Eksportir Terdaftar Sarang Burung Walet). Dari jumlah itu, hanya 23 perusahaan yang telah mendapatkan sertifikasi izin ekspor sarang burung walet ke RRT.
Sementara, nasib 20 perusahaan eksportir walet yang sudah mendaftar untuk mendapatkan sertifikat ekspor sarang burung walet ke Tiongkok sejak 2018 masih belum jelas. “Sebagian sudah diaudit GACC, tapi sertifikasi ekspor ke RRT belum juga diperoleh,” katanya, dalam keterangan tertulis, Senin (12/7/2021).
Baca juga:Hendak Kudeta Raja Abdullah II, 2 Eks Pejabat Yordania Divonis 15 Tahun Penjara
Benny berharap pemerintah bersungguh-sungguh dalam membantu dunia usaha untuk mendapatkan sertikasi ekspor sarang burung walet ke Tiongkok, terlebih di tengah upaya pemulihan ekonomi di masa pandemi Covid-19 yang menyebabkan ekonomi global lesu.
Lihat Juga :