Nasib Pedagang Pasar Tanah Abang: Terjepit Pandemi dan Digitalisasi
Kamis, 29 Juli 2021 - 16:27 WIB
loading...
A
A
A
Menurutnya, menjual barang melalu toko online tidak semudah dengan dagang di pasar tradisional. Mengingat umur syafril yang sudah tergolong tua.
"Jadi online ini kalau orang-orang yang umurnya kayak saya susah. Kalau yang anak muda enak dia. Apalagi kan gak bayar toko," ujar Syafril kepada MNC Portal, Kamis (29/7/2021).
Namun Syafril mengaku bahwa dirinya pernah mencoba menjajakan barang dagangannya melalui toko online. Seminggu berselang, barang dagangannya hanya terjual 1 saja.
"Saya pernyah coba online juga, dikasih tahu sama teman, ya seminggu cuma laku 1. Jadi susah, namanya kita itu gak bisa," sambungnya.
Kini Syafril harus berusaha lebih untuk menutupi sewa kios meski pelanggan yang berbelanja di tokonya tak seramai sebelum pandemi Covid 19. Syafril menyebut, sebelum penerapan PPKM berlevel ini, dirinya bisa meraup omzet hingga Rp500 ribu perhari, namun kondisi saat ini berbanding terbalik dengan apa yang pernah didapatkannya.
"Jadi online ini kalau orang-orang yang umurnya kayak saya susah. Kalau yang anak muda enak dia. Apalagi kan gak bayar toko," ujar Syafril kepada MNC Portal, Kamis (29/7/2021).
Namun Syafril mengaku bahwa dirinya pernah mencoba menjajakan barang dagangannya melalui toko online. Seminggu berselang, barang dagangannya hanya terjual 1 saja.
"Saya pernyah coba online juga, dikasih tahu sama teman, ya seminggu cuma laku 1. Jadi susah, namanya kita itu gak bisa," sambungnya.
Kini Syafril harus berusaha lebih untuk menutupi sewa kios meski pelanggan yang berbelanja di tokonya tak seramai sebelum pandemi Covid 19. Syafril menyebut, sebelum penerapan PPKM berlevel ini, dirinya bisa meraup omzet hingga Rp500 ribu perhari, namun kondisi saat ini berbanding terbalik dengan apa yang pernah didapatkannya.
Lihat Juga :