Lembaga Keuangan Masih Ogah Danai Eksplorasi Panas Bumi
Kamis, 29 Juli 2021 - 21:32 WIB
loading...
Foto/ilustrasi/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki potensi energi panas bumi terbesar di dunia, sebesar 23,76 GW. Hal ini membuat panas bumi layak menjadi salah satu pilihan utama ketahanan energi nasional serta keandalan energi baru terbarukan untuk mencapai target bauran energi sebesar 23% di tahun 2025.
Sayangnya, pemanfaatan panas bumi baru sebesar 2,17 GW atau hanya 9,1% dari total potensi yang ada. Direktur Utama PT Geo Dipa Energi (Persero) Riki F. Ibrahim memaparkan, tantangan pengembangan panas bumi saat ini adalah terbatasnya lembaga keuangan yang bersedia memberikan pinjaman dalam fase eksplorasi. Padahal menurut dia, risiko eksplorasi panas bumi lebih kecil dibanding migas.
Baca juga:Jumlah Kasus Aktif Covid-19 di Jakarta Turun Jadi 7.751
"Risikonya itu 40%, jadi tidak begitu besar. Selain itu, harus dilakukan bertahap dan pengembang yang ada harus punya visi misi dalam jangka panjang," ujarnya dalam diskusi Urgensi Transisi Energi ke Panas Bumi, Kamis (29/7/2021).
Dia melanjutkan, track record dari pengembang harus punya karakteristik yang fokus pada pengembangan itu sendiri, yaitu sektor panas bumi. Banyak pengembang yang belum memenuhi 5C, yaitu character, capacity, capital, condition, dan collateral.
"Risiko dalam masa eksplorasi sangat tinggi. Karena dari komponen panas bumi yang paling besar adalah sumur. Kedua, pembangkit listrik," ungkapnya.
Tantangan lainnya adalah pengembangan dalam area prospek berada pada hutan konservasi, isu sosial dan perizinan, hingga harga EBT yang masih harus bersaing dengan pembangkit fosil.
Sayangnya, pemanfaatan panas bumi baru sebesar 2,17 GW atau hanya 9,1% dari total potensi yang ada. Direktur Utama PT Geo Dipa Energi (Persero) Riki F. Ibrahim memaparkan, tantangan pengembangan panas bumi saat ini adalah terbatasnya lembaga keuangan yang bersedia memberikan pinjaman dalam fase eksplorasi. Padahal menurut dia, risiko eksplorasi panas bumi lebih kecil dibanding migas.
Baca juga:Jumlah Kasus Aktif Covid-19 di Jakarta Turun Jadi 7.751
"Risikonya itu 40%, jadi tidak begitu besar. Selain itu, harus dilakukan bertahap dan pengembang yang ada harus punya visi misi dalam jangka panjang," ujarnya dalam diskusi Urgensi Transisi Energi ke Panas Bumi, Kamis (29/7/2021).
Dia melanjutkan, track record dari pengembang harus punya karakteristik yang fokus pada pengembangan itu sendiri, yaitu sektor panas bumi. Banyak pengembang yang belum memenuhi 5C, yaitu character, capacity, capital, condition, dan collateral.
"Risiko dalam masa eksplorasi sangat tinggi. Karena dari komponen panas bumi yang paling besar adalah sumur. Kedua, pembangkit listrik," ungkapnya.
Tantangan lainnya adalah pengembangan dalam area prospek berada pada hutan konservasi, isu sosial dan perizinan, hingga harga EBT yang masih harus bersaing dengan pembangkit fosil.
Lihat Juga :