Tabungan Masyarakat Membengkak di Bank, OJK Peringatkan Bahaya Alternatif Investasi

loading...
Tabungan Masyarakat Membengkak di Bank, OJK Peringatkan Bahaya Alternatif Investasi
OJK mengingatkan bahayanya dari mencari alternatif investasi, banyak instrumen-instrumen yang menawarkan baik melalui pasar modal maupun di luar pasar modal. Foto/Ilustrasi
JAKARTA - Seiring tabungan masyarakat di perbankan yang semakin membengkak, ketika pola kehidupan kini yang membatasi masyarakat berbelanja akibat pandemi Covid-19. Otoritas Jasa Keuangan ( OJK ) memperingatkan, soal alternatif memilih investasi.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso menerangkan, dana masyarakat di perbankan bertambah seiring dengan kucuran insentif yang diberikan pemerintah dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Sebelumnya pada tahun lalu anggaran PEN mencapai Rp695 triliun, namun tahun ini mencapai Rp744 triliun.

“Tidak heran dana di perbankan melimpah, pertumbuhannya year on year di Juli kemarin 11,28%. Sebelum COVID-19 pertumbuhan dana masyarakat itu hanya 6-7%," ujarnya dalam Opening Like It (Literasi Keuangan Indonesia Terdepan) secara virtual, Selasa (3/8/2021).

Baca Juga: Sri Mulyani Waspadai Perubahan Tabungan Masyarakat

Kondisi ini menandakan likuiditas perbankan berlimpah sehingga mempengaruhi suku bunga simpanan yang menurun. Ia pun mengatakan, suku bunga deposito berjangka 1 tahun biasanya sekitar 7%, namun sekarang turun menjadi 5%, bahkan ada bank yang menawarkan di bawah 4%.



“Artinya, masyarakat simpanannya naik tapi bunganya turun. Sehingga masyarakat pasti mencari alternatif investasi lainnya,” terang Wimboh.

Namun di sisi lain Wimboh menyebut, bahayanya dari mencari alternatif investasi ini, banyak instrumen-instrumen yang menawarkan baik melalui pasar modal maupun di luar pasar modal. Risikonya terutama bagi masyarakat yang tidak melalui pasar modal akan mendapatkan suku bunga yang lebih tinggi.

Terkait hal itu, Wimboh mengingatkan, agar masyarakat harus lebih hati-hati jangan sampai hanya tertarik pada pendapatan yang tinggi. Sebab ia melihat jumlah investor di pasar modal meningkat signifikan.

“Masyarakat juga perlu hati-hati memilih instrumen di pasar modal karena bisa jadi bahwa supply dan demand di pasar modal ini tidak balance, itu akan menimbulkan volatile harga di pasar modal dan sangat berpotensi untuk menjadi spekulasi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab,” tutur Wimboh.

Baca Juga: OJK 'Pagari' Aksi para Debt Collector Saat Menagih Utang

Oleh karena itu, Wimboh menambahkan (OJK) bersama dengan pihak terkait terus berupaya meningkatkan pemberian edukasi serta literasi kepada masyarakat mengenai pasar uang.
(akr)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top