Menanti Lanjutan Laju Ekonomi di Masa Pandemi
Selasa, 10 Agustus 2021 - 06:02 WIB
loading...
A
A
A
Namun, Shinta melihat pada kuartal III ini tidak akan sebaik pada kuartal II. Sebab, membaiknya ekspor di kuartal II lalu karena kondisi Covid-19 yang cukup terkendali, sehingga sektor usaha juga lumayan bergerak. Tetapi, untuk kuartal III dengan adanya pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) yang cukup panjang menjadi rem yang signifikan bagi pergerakan ekonomi.
"Di dalam negeri sektor yang diuntungkan oleh pandemi yaitu farmasi, telekomunikasi, pertanian, dan transportasi mudah-mudahan bisa bertahan,"jelasnya.
Dia menambahkan kelompok pengeluaran pada kuartal III dan IV masih tergantung pada pemerintah. Sebab, pada kuartal I dan II juga biasanya pengeluaran lambat. Sehingga pada kuartal III dan IV ini pemerintah harus mempercepat pengeluaran. "Semoga nanti investasi bisa lebih baik seiring dengan adanya Undang-undang Cipta Kerja yang sudah diikuti dengan peraturan pemerintah sebagai turunannya. Tapi ini masih harus ditentukan oleh proses transmisi di tingkat pelaksanaan sehingga sering terjadi kelambatan,"tuturnya.
Baca juga: Skuad Kadin ala Arsjad Rasjid Lebih Gemuk Dibanding Kabinet Jokowi
Dia mencontohkan sismte online single submission (OSS) yang masih mundur di beberapa daerah sehingga dalam mengurus perizinan masih mengikuti prosedur lama. "Kami berharap konsumsi rumah tangga bisa lebih didongkrak lagi karena baru pada kuartal II ini bisa tumbuh positif walaupun hanya 1,27%. Itu sudah lumayan, karena di kuartal I masih minus," kata Shinta.
Dia mengatakan, konsumsi rumah tangga masih menjadi komponen terbesar PDB dari sisi pengeluaran. Realisasi program pemulihan ekonomi nasional (PEN) untuk mendorong konsumsi masyarakat juga perlu dipercepat.
Di sisi lain, Shinta mengharapkan adanya kelonggaran sehingga bisa membangkitkan semangat para pelaku usaha. Saat ini, dirinya lebih memfokuskan pada PPKM yang berkepanjangan di kuartal III ini, sehingga akan memberikan efek penurunan percaya diri yang lebih dalam dari sisi pelaku usaha dan masyarakat. Sehingga perlu waktu yang cukup untuk melakukan ekspansi ekonomi. Semakin lama PPKM yang ketat diberlakukan, maka cashflow pelaku usaha akan semakin tidak lancar dan modal akan hilang karena harus menanggung kerugian panjang.
Padahal, pada periode sebelumnya di kuartal III 2020 sampai kuartal II 2021, banyak pelaku usaha yang belum balik modal atau masih beroprasi dengan menanggung kerugian biaya oprasional dari bulan-bulan sebelumnya. Oleh karena itu, Shinta pun melihat akan lebih sulit dan lebih lama bagi pelaku usaha untuk memulai kembali uaha bila PPKM ini terlalu lama.
Sedangkan sisi konsumen atau masyarakat pun akan sama karena sekitar 60% pekerja yang bergerak di sektor informal hanya mengandalkan upah atau penghasilan harian. "Semakin lama PPKM yang ketat diberlakukan, penurunan daya beli masyarakat akan semakin dalam dan membuat keadaan menjadi tidak nyaman, konsumsi juga akan kontraksi semakin dalam," tegasnya.
Dengan asumsi tersebut, dirinya berharap gelombang kedua Covid-19 segera terkendali. Selain itu PPKM juga bisa segera direlaksasi dan stimulus ekonomi yang terus digelontorkan kepada pelaku usaha dan masyarakat yang membutuhkan. Sehingga, para pelaku usaha dan masyarakat tidak akan mengalami penurunan finansial dan kontraksi confidence yang terlalu dalam dan tidak lagi memperberat proses pemulihan ekonomi
Fokus Penyelamatan Dunia Usaha
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah menilai, yang terpenting saat ini adalah upaya penyelamatan dunia usaha dibanding mengharapkan pertumbuhan signifikan. Dia menilai, angka pertumbuhan yang dimaksud dalam statistik 7 % itu sebenarnya adalah keberhasilan menyelamatkan ekonomi dari keterpurukan.
“Yang utama saat ini adalah menyelamatkan ekonomi supaya tidak terpuruk. Jadi pertumbuhan 7 % itu memaknainya adalah bukan keberhasilan mendorong ekonomi, tetapi keberhasilan kita menyelamatkan ekonomi dari keterpurukan,” katanya.
Lebih lanjut dikatakan bahwa, jika dilihat dari angka 7% tersebut, Piter menilai sebenarnya bukan angka nyata pertumbuhan yang terjadi. Tetapi lebih pada ketahanan pelaku industri terus hidup di masa pandemi ini.
"Di dalam negeri sektor yang diuntungkan oleh pandemi yaitu farmasi, telekomunikasi, pertanian, dan transportasi mudah-mudahan bisa bertahan,"jelasnya.
Dia menambahkan kelompok pengeluaran pada kuartal III dan IV masih tergantung pada pemerintah. Sebab, pada kuartal I dan II juga biasanya pengeluaran lambat. Sehingga pada kuartal III dan IV ini pemerintah harus mempercepat pengeluaran. "Semoga nanti investasi bisa lebih baik seiring dengan adanya Undang-undang Cipta Kerja yang sudah diikuti dengan peraturan pemerintah sebagai turunannya. Tapi ini masih harus ditentukan oleh proses transmisi di tingkat pelaksanaan sehingga sering terjadi kelambatan,"tuturnya.
Baca juga: Skuad Kadin ala Arsjad Rasjid Lebih Gemuk Dibanding Kabinet Jokowi
Dia mencontohkan sismte online single submission (OSS) yang masih mundur di beberapa daerah sehingga dalam mengurus perizinan masih mengikuti prosedur lama. "Kami berharap konsumsi rumah tangga bisa lebih didongkrak lagi karena baru pada kuartal II ini bisa tumbuh positif walaupun hanya 1,27%. Itu sudah lumayan, karena di kuartal I masih minus," kata Shinta.
Dia mengatakan, konsumsi rumah tangga masih menjadi komponen terbesar PDB dari sisi pengeluaran. Realisasi program pemulihan ekonomi nasional (PEN) untuk mendorong konsumsi masyarakat juga perlu dipercepat.
Di sisi lain, Shinta mengharapkan adanya kelonggaran sehingga bisa membangkitkan semangat para pelaku usaha. Saat ini, dirinya lebih memfokuskan pada PPKM yang berkepanjangan di kuartal III ini, sehingga akan memberikan efek penurunan percaya diri yang lebih dalam dari sisi pelaku usaha dan masyarakat. Sehingga perlu waktu yang cukup untuk melakukan ekspansi ekonomi. Semakin lama PPKM yang ketat diberlakukan, maka cashflow pelaku usaha akan semakin tidak lancar dan modal akan hilang karena harus menanggung kerugian panjang.
Padahal, pada periode sebelumnya di kuartal III 2020 sampai kuartal II 2021, banyak pelaku usaha yang belum balik modal atau masih beroprasi dengan menanggung kerugian biaya oprasional dari bulan-bulan sebelumnya. Oleh karena itu, Shinta pun melihat akan lebih sulit dan lebih lama bagi pelaku usaha untuk memulai kembali uaha bila PPKM ini terlalu lama.
Sedangkan sisi konsumen atau masyarakat pun akan sama karena sekitar 60% pekerja yang bergerak di sektor informal hanya mengandalkan upah atau penghasilan harian. "Semakin lama PPKM yang ketat diberlakukan, penurunan daya beli masyarakat akan semakin dalam dan membuat keadaan menjadi tidak nyaman, konsumsi juga akan kontraksi semakin dalam," tegasnya.
Dengan asumsi tersebut, dirinya berharap gelombang kedua Covid-19 segera terkendali. Selain itu PPKM juga bisa segera direlaksasi dan stimulus ekonomi yang terus digelontorkan kepada pelaku usaha dan masyarakat yang membutuhkan. Sehingga, para pelaku usaha dan masyarakat tidak akan mengalami penurunan finansial dan kontraksi confidence yang terlalu dalam dan tidak lagi memperberat proses pemulihan ekonomi
Fokus Penyelamatan Dunia Usaha
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah menilai, yang terpenting saat ini adalah upaya penyelamatan dunia usaha dibanding mengharapkan pertumbuhan signifikan. Dia menilai, angka pertumbuhan yang dimaksud dalam statistik 7 % itu sebenarnya adalah keberhasilan menyelamatkan ekonomi dari keterpurukan.
“Yang utama saat ini adalah menyelamatkan ekonomi supaya tidak terpuruk. Jadi pertumbuhan 7 % itu memaknainya adalah bukan keberhasilan mendorong ekonomi, tetapi keberhasilan kita menyelamatkan ekonomi dari keterpurukan,” katanya.
Lebih lanjut dikatakan bahwa, jika dilihat dari angka 7% tersebut, Piter menilai sebenarnya bukan angka nyata pertumbuhan yang terjadi. Tetapi lebih pada ketahanan pelaku industri terus hidup di masa pandemi ini.
Lihat Juga :