Intip Untung Rugi Pengembangan PLTS Atap di Tengah Target 3,6 GW
Rabu, 25 Agustus 2021 - 22:11 WIB
loading...
Direktur Jenderal, Energi Baru Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE), Dadan Kusdiana membeberkan, untung dan rugi pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Dalam mendorong target bauran energi baru terbarukan (EBT) , pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap menjadi salah satu perhatian pemerintah. Bahkan Kementerian ESDM memasang target kapasitas terpasang pembangkit tersebut pada angka 3,6 Giga Watt (GW) di tahun 2025.
Direktur Jenderal, Energi Baru Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE), Dadan Kusdiana mengungkapkan, tingginya minat masyarakat kepada PLTS Atap akan memberikan peluang terhadap menurunnya konsumsi sumber energi fosil, yaitu batu bara.
"Terjadi penghematan dari konsumsi batubara sekitar 3 juta ton (per tahun)," ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (25/8/2021).
Baca Juga: Proses Panjang Revisi Permen PLTS Atap, Kini Tinggal Menunggu Restu Jokowi
Berdasarkan laporan dari International Renewable Energy (IRENA), penggunaan energi bersih tersebut mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 121.500 orang dan penurunan potensi Gas Rumah Kaca sebesar 5,4 juta ton CO2. "Ini akan ada investasi tambahan sekitar Rp45-64 triliun," sambung Dadan.
Direktur Jenderal, Energi Baru Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE), Dadan Kusdiana mengungkapkan, tingginya minat masyarakat kepada PLTS Atap akan memberikan peluang terhadap menurunnya konsumsi sumber energi fosil, yaitu batu bara.
"Terjadi penghematan dari konsumsi batubara sekitar 3 juta ton (per tahun)," ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (25/8/2021).
Baca Juga: Proses Panjang Revisi Permen PLTS Atap, Kini Tinggal Menunggu Restu Jokowi
Berdasarkan laporan dari International Renewable Energy (IRENA), penggunaan energi bersih tersebut mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 121.500 orang dan penurunan potensi Gas Rumah Kaca sebesar 5,4 juta ton CO2. "Ini akan ada investasi tambahan sekitar Rp45-64 triliun," sambung Dadan.
Lihat Juga :