PT Pelni Ngiri dengan Dana PSO yang Diterima BUMD-nya Anies Baswedan
Minggu, 05 September 2021 - 21:30 WIB
loading...
A
A
A
Vice President Pemasaran Angkutan Penumpang Pelni, Sukendra, menilai seyogyanya pihaknya menerima dana segar lebih besar dari yang diterima BUMD di sektor transportasi. Pasalnya, cakupan wilayah kerja Pelni atas penugasan pemerintah pusat jauh lebih luas.
"Tau MRT, tau TransJakarta, tau LRT, mohon maaf, itu pelayanan yang diberikan hanya kepada masyarakat yang ada di Jabodetabek, kita (Pelni) berbicara Indonesia lho. Nah, nanti bisa tahu anggaran MRT berapa, anggaran kami berapa, kami hanya diberikan Rp2 triliun untuk urusi seluruh Indonesia," ujar Sukendra saat ditemui di kapal KM Kelud, Minggu (5/9/2021).
Saat ini BUMN di sektor transportasi laut itu tengah menghadapi kendala pembiayaan. Padahal, di sisi penugasan, perseroan harus meningkatkan pelayanan 26 penumpang dengan kapasitas 500 hingga 3.000 seat.
Manajemen pun dituntut melakukan transformasi di sisi digital. Misalnya memaksimalkan layanan internet di kapal hingga menggunakan sistem e-tiket. Belum juga biaya perbaikan kapal yang membutuhkan anggaran besar. Malangnya, upaya pembaharuan itu harus dibenturkan dengan permasalahan pendanaan.
"Pelayanannya ingin meningkat terus, kita juga ngikutin teknologi digital, tapi batasan anggaran menjadi sebuah problem yang miris. Artinya, menggunakan logis, pelayanan harga sebuah bus dan harga sebuah kapal termasuk maintenence-nya di compare aja, jauh lebih ekspansif, harga piston kami itu 1 itu Rp 2,5 miliar," katanya.
"Tau MRT, tau TransJakarta, tau LRT, mohon maaf, itu pelayanan yang diberikan hanya kepada masyarakat yang ada di Jabodetabek, kita (Pelni) berbicara Indonesia lho. Nah, nanti bisa tahu anggaran MRT berapa, anggaran kami berapa, kami hanya diberikan Rp2 triliun untuk urusi seluruh Indonesia," ujar Sukendra saat ditemui di kapal KM Kelud, Minggu (5/9/2021).
Saat ini BUMN di sektor transportasi laut itu tengah menghadapi kendala pembiayaan. Padahal, di sisi penugasan, perseroan harus meningkatkan pelayanan 26 penumpang dengan kapasitas 500 hingga 3.000 seat.
Manajemen pun dituntut melakukan transformasi di sisi digital. Misalnya memaksimalkan layanan internet di kapal hingga menggunakan sistem e-tiket. Belum juga biaya perbaikan kapal yang membutuhkan anggaran besar. Malangnya, upaya pembaharuan itu harus dibenturkan dengan permasalahan pendanaan.
"Pelayanannya ingin meningkat terus, kita juga ngikutin teknologi digital, tapi batasan anggaran menjadi sebuah problem yang miris. Artinya, menggunakan logis, pelayanan harga sebuah bus dan harga sebuah kapal termasuk maintenence-nya di compare aja, jauh lebih ekspansif, harga piston kami itu 1 itu Rp 2,5 miliar," katanya.
Lihat Juga :