Dirut Bank Mandiri Ungkap, 1 dari 7 Akun Baru adalah Penipu
Jum'at, 24 September 2021 - 16:41 WIB
loading...
Stres pada kondisi ekonomi memudahkan kejahatan siber terjadi. Foto/Ilustrasi
A
A
A
JAKARTA - Data yang dihimpun Bank Mandiri menunjukkan kecurangan atau fraud meningkat secara signifikan sejak ekonomi melemah saat pandemi. Fraud dalam segmen e-commerce memimpin dengan angka 83%, sektor keuangan meningkat 60%, dan perkreditan sebesar 40%.
Direktur Utama Bank Mandiri Darmawan Junaidi mengatakan, meningkatnya fraud dengan sejumlah ancaman kejahatan siber berbanding lurus dengan berkembangnya transaksi digital selama masa pandemi.
Baca juga: OJK Siapkan Aturan Baru yang Mempersempit Gerak Penjahat Digital
"Fraud menyerang seluruh pelaku digital tanpa kecuali, mulai dari nasabah, merchant, payment gateway, hingga institusi keuangan," ungkap Darmawan dalam Dialog Kebangsaan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) secara virtual, Jumat (24/9/2021).
Selain itu, banyaknya data pribadi yang bocor membuat modus fraud semakin berkembang. Fraudster atau orang yang melakukan fraud menggunakan informasi sensitif ini untuk melakukan account takeover dan membuat akun baru.
“Data menunjukkan, modus account takeover ini meningkat 75% secara year-on-year, dan satu dari tujuh account baru kami mengidentifikasi itu adalah penipuan,” jelasnya.
Menurut Darmawan, dibutuhkan dukungan proses dan teknologi untuk memitigasi risiko dalam transaksi digital dan kejahatan siber.
Direktur Utama Bank Mandiri Darmawan Junaidi mengatakan, meningkatnya fraud dengan sejumlah ancaman kejahatan siber berbanding lurus dengan berkembangnya transaksi digital selama masa pandemi.
Baca juga: OJK Siapkan Aturan Baru yang Mempersempit Gerak Penjahat Digital
"Fraud menyerang seluruh pelaku digital tanpa kecuali, mulai dari nasabah, merchant, payment gateway, hingga institusi keuangan," ungkap Darmawan dalam Dialog Kebangsaan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) secara virtual, Jumat (24/9/2021).
Selain itu, banyaknya data pribadi yang bocor membuat modus fraud semakin berkembang. Fraudster atau orang yang melakukan fraud menggunakan informasi sensitif ini untuk melakukan account takeover dan membuat akun baru.
“Data menunjukkan, modus account takeover ini meningkat 75% secara year-on-year, dan satu dari tujuh account baru kami mengidentifikasi itu adalah penipuan,” jelasnya.
Menurut Darmawan, dibutuhkan dukungan proses dan teknologi untuk memitigasi risiko dalam transaksi digital dan kejahatan siber.
Lihat Juga :