Kurang Perhatian, Jadi Tantangan Garap EBT RI
Selasa, 05 Oktober 2021 - 15:50 WIB
loading...
Presiden Joko Widodo melihat salah satu turbin saat meresmikan Pembangkit Listirk Tenaga Bayu (PLTB), di Desa Mattirotasi, Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan, Senin (02/7/2018). FOTO/SINDOnews/Mamam Sukirman
A
A
A
JAKARTA - Pemerintah menargetkan bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) dalam Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) adalah 23% di 2025. Namun demikian realisasi hingga akhir 2020 baru mencapai sekitar 14%.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengungkapkan tantangan menggarap EBT perlunya perhatian serius oleh seluruh pemangku kepentingan dan stakehloders terkait. Pasalnya pengembangan EBT kurang diperhatikan serta perlu didorong tarif yang lebih murah.
Dengan harga yang lebih murah, Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) lebih cepat mendorong target 23% bauran EBT pada 2025 dibarengi dengan program pengurangan emisi karbon lainnya.
"Seperti Cofiring PLTU dengan Biomassa, tetap memperhatikan lingkungan untuk ketersediaan feedstock," ujarnya pada Webinar Diseminasi RUPTL PT PLN (Persero) 2021-2030, Selasa (5/10/2021).
Baca Juga: Susul China, Kini Giliran India Terancam Krisis Listrik
Dia mengungkapkan untuk meningkatkan penetrasi EBT yang lokasi sumber energinya jauh dari pusat demand listrik, maka pemerintah mendorong pengembangan interkoneksi ketenagalistrikan dalam pulau maupun antarpulau.
Pada tahun 2024 diharapkan interkoneksi di dalam Pulau Kalimantan dan Sulawesi sudah terwujud sebagai bagian dari rencana Pemerintah untuk interkoneksi seluruh pulau besar yaitu Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengungkapkan tantangan menggarap EBT perlunya perhatian serius oleh seluruh pemangku kepentingan dan stakehloders terkait. Pasalnya pengembangan EBT kurang diperhatikan serta perlu didorong tarif yang lebih murah.
Dengan harga yang lebih murah, Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) lebih cepat mendorong target 23% bauran EBT pada 2025 dibarengi dengan program pengurangan emisi karbon lainnya.
"Seperti Cofiring PLTU dengan Biomassa, tetap memperhatikan lingkungan untuk ketersediaan feedstock," ujarnya pada Webinar Diseminasi RUPTL PT PLN (Persero) 2021-2030, Selasa (5/10/2021).
Baca Juga: Susul China, Kini Giliran India Terancam Krisis Listrik
Dia mengungkapkan untuk meningkatkan penetrasi EBT yang lokasi sumber energinya jauh dari pusat demand listrik, maka pemerintah mendorong pengembangan interkoneksi ketenagalistrikan dalam pulau maupun antarpulau.
Pada tahun 2024 diharapkan interkoneksi di dalam Pulau Kalimantan dan Sulawesi sudah terwujud sebagai bagian dari rencana Pemerintah untuk interkoneksi seluruh pulau besar yaitu Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi.
Lihat Juga :