Kampanye Negatif Minyak Sawit Makin Masif, Harus Jadi Perhatian Serius!
Jum'at, 22 Oktober 2021 - 21:44 WIB
loading...
Dewan negara-negara produsen sawit atau council palm oil producing countries (CPOPC) didorong untuk memberikan perhatian serius ihwal kampanye negatif minyak sawit di berbagai negara. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Dewan negara-negara produsen sawit atau council palm oil producing countries (CPOPC) didorong untuk memberikan perhatian serius ihwal kampanye negatif minyak sawit di berbagai negara. Hal ini disampaikan oleh Deputi Pangan dan Agribisnis, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Musdhalifah Machmud.
Ia mencatat, kampanye negatif tersebut akan menghambat produksi dan perdagangan minyak sawit , khususnya di Uni Eropa. Hal itu bisa terjadi secara masif dan didukung berbagai kebijakan dan regulasi.
Baca Juga: Gapki Serahkan Batik Sawit Nusantara ke Presiden Jokowi
Karenanya, Musdhalifah menilai perlunya CPOPC merumuskan strategi yang lebih efektif bagi negara-negara produsen minyak sawit untuk menjawab tantangan tersebut.
"Ada kampanye negatif yang semakin masif dan dikeluarkannya berbagai kebijakan dan regulasi yang menghambat produksi dan perdagangan minyak sawit khususnya di Uni Eropa," kata dia, Jumat (22/10/2021).
Musdhalifah juga menerangkan, terjadi tren positif dari pertumbuhan permintaan minyak sawit dan tren kenaikan minyak sawit secara umum. Namun, negara produsen perlu mengantisipasi kemungkinan siklus harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) melalui peningkatan konsumsi domestik sebagai bagian dari alat manajemen permintaan.
Senada, Datuk Ravi Muthayah selaku Sekretaris Jenderal, Kementerian Industri Perkebunan dan Komoditas, Malaysia, menyambut baik kenaikan harga minyak sawit mentah sejak Juni 2020.
Ia mencatat, kampanye negatif tersebut akan menghambat produksi dan perdagangan minyak sawit , khususnya di Uni Eropa. Hal itu bisa terjadi secara masif dan didukung berbagai kebijakan dan regulasi.
Baca Juga: Gapki Serahkan Batik Sawit Nusantara ke Presiden Jokowi
Karenanya, Musdhalifah menilai perlunya CPOPC merumuskan strategi yang lebih efektif bagi negara-negara produsen minyak sawit untuk menjawab tantangan tersebut.
"Ada kampanye negatif yang semakin masif dan dikeluarkannya berbagai kebijakan dan regulasi yang menghambat produksi dan perdagangan minyak sawit khususnya di Uni Eropa," kata dia, Jumat (22/10/2021).
Musdhalifah juga menerangkan, terjadi tren positif dari pertumbuhan permintaan minyak sawit dan tren kenaikan minyak sawit secara umum. Namun, negara produsen perlu mengantisipasi kemungkinan siklus harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) melalui peningkatan konsumsi domestik sebagai bagian dari alat manajemen permintaan.
Senada, Datuk Ravi Muthayah selaku Sekretaris Jenderal, Kementerian Industri Perkebunan dan Komoditas, Malaysia, menyambut baik kenaikan harga minyak sawit mentah sejak Juni 2020.
Lihat Juga :