Kepak Sayap Garuda Indonesia, dari Zaman Kemerdekaan hingga Akan Dipailitkan
Rabu, 27 Oktober 2021 - 10:53 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: 11 Maskapai Penerbangan RI yang Bangkrut, Garuda di Ujung Tanduk
Dikutip dari website resmi Garuda Indonesia, pada 28 Desember 1949 atau empat tahun setelah RI memproklamirkan kemerdekaannya, dua buah pesawat Dakota (DC-3) berangkat dari bandar udara Kemayoran, Jakarta menuju Yogyakarta untuk menjemput Soekarno kembali ke Jakarta. Sejak saat itulah GIA terus berkembang hingga dikenal sekarang sebagai Garuda Indonesia.
Setelah penjemputan Soekarno atau tepatnya pada 1950, Garuda Indonesia resmi menjadi perusahaan di bawa pengelolaan negara (BUMN). Sejak periode tersebut, Garuda diizinkan mengoperasikan armada dengan jumlah sebanyak 38 pesawat. Terdiri dari pesawat 22 DC-3, 8 Catalina kapal terbang, dan 8 Convair 240.
Bahkan, armada Garuda terus bertambah dan akhirnya berhasil melaksanakan penerbangan pertama kali ke Mekah membawa jemaah haji dari Indonesia pada tahun 1956. Awalnya, sejak 1965, penerbangan pertama kali Garuda ke negara-negara di Eropa dengan Amsterdam sebagai tujuan terakhir sudah dilakukan.
Baca juga: Dahlan Iskan Sebut Nyawa Garuda Indonesia di Tangan Pertamina
Sejak 1949, Garuda telah melakukan penerbangan secara komersial pertamanya. Saat itu, atas inisiatif Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) dengan menyewakan pesawat yang dinamai Indonesian Airways kepada pemerintah Burma. Peran Indonesian Airways pun berakhir setelah disepakatinya Konferensi Meja Bundar (KMB).
Seluruh awak dan pesawatnya pun baru bisa kembali ke Indonesia pada 1950. Setibanya di Indonesia, semua pesawat dan fungsinya dikembalikan kepada AURI ke dalam formasi Dinas Angkutan Udara Militer.
Dikutip dari website resmi Garuda Indonesia, pada 28 Desember 1949 atau empat tahun setelah RI memproklamirkan kemerdekaannya, dua buah pesawat Dakota (DC-3) berangkat dari bandar udara Kemayoran, Jakarta menuju Yogyakarta untuk menjemput Soekarno kembali ke Jakarta. Sejak saat itulah GIA terus berkembang hingga dikenal sekarang sebagai Garuda Indonesia.
Setelah penjemputan Soekarno atau tepatnya pada 1950, Garuda Indonesia resmi menjadi perusahaan di bawa pengelolaan negara (BUMN). Sejak periode tersebut, Garuda diizinkan mengoperasikan armada dengan jumlah sebanyak 38 pesawat. Terdiri dari pesawat 22 DC-3, 8 Catalina kapal terbang, dan 8 Convair 240.
Bahkan, armada Garuda terus bertambah dan akhirnya berhasil melaksanakan penerbangan pertama kali ke Mekah membawa jemaah haji dari Indonesia pada tahun 1956. Awalnya, sejak 1965, penerbangan pertama kali Garuda ke negara-negara di Eropa dengan Amsterdam sebagai tujuan terakhir sudah dilakukan.
Baca juga: Dahlan Iskan Sebut Nyawa Garuda Indonesia di Tangan Pertamina
Sejak 1949, Garuda telah melakukan penerbangan secara komersial pertamanya. Saat itu, atas inisiatif Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) dengan menyewakan pesawat yang dinamai Indonesian Airways kepada pemerintah Burma. Peran Indonesian Airways pun berakhir setelah disepakatinya Konferensi Meja Bundar (KMB).
Seluruh awak dan pesawatnya pun baru bisa kembali ke Indonesia pada 1950. Setibanya di Indonesia, semua pesawat dan fungsinya dikembalikan kepada AURI ke dalam formasi Dinas Angkutan Udara Militer.
Lihat Juga :