100 Pakar Global Minta WHO Tidak Anti-Vaping  

Kamis, 28 Oktober 2021 - 18:44 WIB
loading...
100 Pakar Global Minta...
100 pakar global mengecam WHO lantaran bersikeras anti terhadap vaping. FOTO/iStock
A A A
JAKARTA - Sebanyak 100 pakar global mengecam Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) lantaran bersikeras anti terhadap vaping. Sikap ini dinilai berkontribusi terhadap jutaan kematian terkait konsumsi rokok yang seharusnya bisa dihindari.

Dalam sebuah surat terbuka menjelang Conference of Parties (CoP) ke-9, pertemuan pengendalian tembakau global, yang akan dimulai 8 November mendatang, sekelompok pakar nikotin dan kebijakan menyampaikan kecaman terhadap WHO karena mengabaikan potensi untuk mengubah pasar konsumen tembakau dari komoditas berisiko tinggi menjadi produk berisiko lebih rendah.

Surat terbuka tersebut ditujukan kepada sejumlah pihak yang menjadi bagian dari Kerangka Kovensi Pengendalian Tembakau (FCTC). "WHO telah menjalankan kampanye pelarangan terhadap pengurangan dampak dari tembakau, meskipun pengurangan dampak tembakau adalah bagian dari kebijakan resminya dalam FCTC," kata Dr. Colin Mendelsohn, ketua pendiri Asosiasi Pengurangan Dampak Buruk Tembakau Australia dan salah satu dari 100 pakar global yang menandatangani surat terbuka tersebut, seperti dikutip dari laman News.com.au, Kamis (28/10/2021).

Baca Juga: Ingin Tampil Beda, Onadio Leonardo Luncurkan Liquid Vape ala Mafia

Mendelsohn mengatakan WHO selalu berlebihan dan terus-menerus mendapat informasi yang salah tentang pengurangan dampak buruk tembakau. Lembaga tersebut tidak mengerti bahwa pengurangan dampak buruk dapat menggantikan kebiasaan merokok. Konsep ini akan sangat berpengaruh di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

"Kondisi ini akan menyebabkan lebih banyak kematian dan penderitaan akibat merokok, terutama di negara berpenghasilan rendah serta menengah di mana sebagian besar kematian akibat rokok sudah terjadi," ucapnya.

Menurut laporan WHO, 32 negara telah melarang penjualan rokok elektrik dan 79 lainnya telah mengadopsi setidaknya satu tindakan untuk menekan penjualan, penggunaan, atau promosi produk tersebut. Dengan demikian, masih ada 84 negara di dunia yang belum mengatur atau membatasi penjualan rokok elektrik dengan cara apa pun.

“Negara-negara yang tidak melarang nikotin harus mengadopsi kebijakan yang tepat untuk melindungi masyarakatnya dari bahaya sistem pengiriman nikotin elektronik, dan untuk mencegah penggunaan nikotin oleh anak-anak, remaja dan kelompok rentan lainnya,” kata Direktur Jenderal WHO Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus saat itu.

Mantan Walikota New York Michael Bloomberg yang juga merupakan Duta Besar Global WHO untuk Penyakit dan Cedera Tidak Menular, juga melakukan kampanye menentang vape. “Seiring dengan penurunan penjualan rokok, perusahaan tembakau secara agresif memasarkan produk baru seperti rokok elektrik dan produk tembakau yang dipanaskan serta melobi pemerintah untuk membatasi peraturan mereka. Tujuan mereka sederhana, untuk menjerat generasi berikutnya dalam konsumsi nikotin. Kami tidak bisa membiarkan itu terjadi,” ucap pada Juli lalu.

Baca Juga: Kejelasan SNI Vape Dibutuhkan Demi Perlindungan Konsumen

Dalam surat kepada WHO, para ahli meminta organisasi tersebut memodernisasi pendekatannya terhadap kebijakan tembakau. Produk bebas asap termasuk rokok elektrik, kantong nikotin oral baru, produk tembakau yang dipanaskan, dan tembakau tanpa asap dengan kadar nitrosamin rendah seperti snus.

"Ada bukti kuat bahwa produk bebas asap rokok jauh lebih rendah risiko dibandingkan rokok dan bahwa produk ini dapat menggantikan kebiasaan merokok bagi individu dan pada tingkat populasi," tulis mereka.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Usulan Bikin Rokok Murah...
Usulan Bikin Rokok Murah Khusus Warga Miskin Disebut Sesat Nalar
DPR Solid Tolak Aturan...
DPR Solid Tolak Aturan Kemasan Polos Produk Tembakau dari Kemenkes
Cukai Hasil Tembakau...
Cukai Hasil Tembakau Tidak Naik Tahun Depan Disambut Pelaku Usaha IHT
Industri Kretek Terancam,...
Industri Kretek Terancam, P3M Usulkan Transisi Regulasi Bertahap
Lindungi 6 Juta Pekerja,...
Lindungi 6 Juta Pekerja, Pengusaha Rokok Tagih Kepastian Tarif Cukai
Wacana Tambah Layer...
Wacana Tambah Layer Cukai Rokok Dinilai Tanpa Kajian, Awas Jadi Bumerang
Kepala WHO Kunjungi...
Kepala WHO Kunjungi Pusat Wabah Ebola
Konser Slank Bersama...
Konser Slank Bersama HS di Palembang Momen Romantisme Owner Haji Suryo
Disebut Calon Kuat Jadi...
Disebut Calon Kuat Jadi Direktur Jenderal WHO, Menkes Budi: Saya akan Konfirmasi
Rekomendasi
Refly Harun Ungkap Dokter...
Refly Harun Ungkap Dokter Tifa Pakai Baju Tahanan atas Kesadaran Sendiri: Biar Dunia Tahu Kalau Kezaliman Terjadi
Hizbullah Tegaskan Terapkan...
Hizbullah Tegaskan Terapkan Gencatan Senjata dengan Israel Segera
Dina Masyusin Salurkan...
Dina Masyusin Salurkan Bantuan Kursi Roda untuk Warga Rawa Buaya
Berita Terkini
Mandatori B50 Buka Peluang...
Mandatori B50 Buka Peluang Swasembada Energi dan Jadikan Indonesia Pionir Energi Bersih
Bitcoin Melemah Usai...
Bitcoin Melemah Usai FOMC, Indodax Ingatkan Manajemen Risiko
Pascadamai AS-Iran:...
Pascadamai AS-Iran: Kapal Raksasa Ini Tembus Selat Hormuz, Krisis Energi Global Mulai Mereda?
BEI Tegaskan MSCI Belum...
BEI Tegaskan MSCI Belum Putuskan Status Pasar Saham RI
Rupiah Hari Ini Masih...
Rupiah Hari Ini Masih Terseok-seok ke Posisi Rp17.804 per Dolar AS
JustMarkets Luncurkan...
JustMarkets Luncurkan Trading Saham SpaceX untuk Klien
Infografis
WHO Cabut Status Covid-19...
WHO Cabut Status Covid-19 sebagai Darurat Kesehatan Global
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved