IATA Akan Peroleh Suntikan Aset Senilai USD181,9 Juta
Rabu, 01 Desember 2021 - 15:40 WIB
loading...
A
A
A
Valuasi gabungan 100% BSPC dan 53,84% PMC dari KJPP Kusnanto & Rekan adalah USD181,9 juta. IATA dan BHIT menyepakati harga transaksi pembelian 99,33% BCR sebesar USD140 juta, 23% lebih rendah dari valuasi BSPC dan PMC. Adapun harga pembelian sebesar USD140 juta ini sudah mencakup tujuh IUP lainnya yang telah dijelaskan di atas.
Hingga akhir tahun 2021, pendapatan BCR diperkirakan mencapai USD74,8 juta dengan EBITDA USD33 juta. BCR akan meningkatkan produksinya menjadi 8 juta metrik ton pada 2022 dan 12 juta metrik ton pada 2023.
BCR juga memiliki infrastruktur pendukung seperti dermaga dan jalan angkut sepanjang 12 km. BCR akan membangun dermaga dan jalan angkut baru untuk meningkatkan kapasitas produksinya. Dengan jarak angkut yang pendek 12-17 km dari pit pertambangan ke dermaga dan rasio pengupasan yang rendah, biaya produksi BSPC dan PMC cukup rendah, sehingga memberikan margin yang besar pada harga jual batubara saat ini.
Karena akuisisi tersebut merupakan transaksi material, IATA harus memenuhi semua aturan yang dipersyaratkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), dan peraturan terkait lainnya, terutama untuk mengalihkan izin usaha penerbangan IATA ke anak perusahaan baru.
IATA akan membiayai akuisisi tersebut melalui Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) dan seluruh proses transaksi akan selesai pada semester I tahun 2022.
Untuk mendapatkan momentum dari kenaikan harga batu bara, eksplorasi pertambangan lebih lanjut akan dilakukan untuk menemukan lebih banyak sumber daya dan cadangan batu bara baru, terutama di PT Indonesia Batu Prima Energi (IBPE) dan PT Arthaco Prima Energi (APE) yang diyakini memiliki cadangan batubara yang melimpah.
Hingga akhir tahun 2021, pendapatan BCR diperkirakan mencapai USD74,8 juta dengan EBITDA USD33 juta. BCR akan meningkatkan produksinya menjadi 8 juta metrik ton pada 2022 dan 12 juta metrik ton pada 2023.
BCR juga memiliki infrastruktur pendukung seperti dermaga dan jalan angkut sepanjang 12 km. BCR akan membangun dermaga dan jalan angkut baru untuk meningkatkan kapasitas produksinya. Dengan jarak angkut yang pendek 12-17 km dari pit pertambangan ke dermaga dan rasio pengupasan yang rendah, biaya produksi BSPC dan PMC cukup rendah, sehingga memberikan margin yang besar pada harga jual batubara saat ini.
Karena akuisisi tersebut merupakan transaksi material, IATA harus memenuhi semua aturan yang dipersyaratkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), dan peraturan terkait lainnya, terutama untuk mengalihkan izin usaha penerbangan IATA ke anak perusahaan baru.
IATA akan membiayai akuisisi tersebut melalui Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) dan seluruh proses transaksi akan selesai pada semester I tahun 2022.
Untuk mendapatkan momentum dari kenaikan harga batu bara, eksplorasi pertambangan lebih lanjut akan dilakukan untuk menemukan lebih banyak sumber daya dan cadangan batu bara baru, terutama di PT Indonesia Batu Prima Energi (IBPE) dan PT Arthaco Prima Energi (APE) yang diyakini memiliki cadangan batubara yang melimpah.
Lihat Juga :