China Mundur dari Proyek Blast Furnace KRAS, Erick Thohir Beberkan Alasannya
Senin, 06 Desember 2021 - 17:11 WIB
loading...
Investor China mundur dari kerja sama proyek blast furnace dengan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. Foto/Ilustrasi
A
A
A
JAKARTA - Menteri BUMN Erick Thohir membeberkan alasan pengunduran diri investor China dalam proyek blast furnace atau peleburan tanur tinggi PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS). Keputusan tersebut ternyata didasarkan pada pendanaan pabrik yang dinilai kemahalan.
Erick mencatat, harga baja dunia saat ini mengharuskan pengelola mengeluarkan dana jumbo untuk membangun pabrik. Bahkan dana yang dikeluarkan dua kali lipat dari harga konstruksi pabrik sebelumnya.
Baca Juga: Krakatau Steel Terancam Gulung Tikar Bulan Ini, Ada Apa?
Hal itu membuat investor China memutuskan mundur dari kerja sama sebagai mitra kerja Krakatau Steel, selaku pemilik proyek peleburan tanur tinggi tersebut. Padahal, Kementerian BUMN selaku pemegang saham telah bernegosiasi dengan investor China sebelumnya.
"Kemarin sempat ada diskusi dengan partner China. Mereka ingin ambil alih blast furnace ini, tetapi dibetulin total dan mereka tambah duit dengan hitung-hitungan yang baik, cuma nggak jadi karena baja lagi naik harganya. Jadi, untuk membangun pabriknya mereka butuh dua kali lipat, jadi mereka mundur," ujar Erick, Senin (6/12/2021).
Erick memang memberi lampu hijau kepada Krakatau Steel untuk melanjutkan proyek peleburan tanur tinggi. Padahal, emiten pelat merah sendiri sudah menghentikan operasional blast furnace sejak 5 Desember 2019 lalu.
Baca Juga: Blinken Peringatkan Konsekuensi Mengerikan Jika China Nekat Serang Taiwan
Erick mencatat, harga baja dunia saat ini mengharuskan pengelola mengeluarkan dana jumbo untuk membangun pabrik. Bahkan dana yang dikeluarkan dua kali lipat dari harga konstruksi pabrik sebelumnya.
Baca Juga: Krakatau Steel Terancam Gulung Tikar Bulan Ini, Ada Apa?
Hal itu membuat investor China memutuskan mundur dari kerja sama sebagai mitra kerja Krakatau Steel, selaku pemilik proyek peleburan tanur tinggi tersebut. Padahal, Kementerian BUMN selaku pemegang saham telah bernegosiasi dengan investor China sebelumnya.
"Kemarin sempat ada diskusi dengan partner China. Mereka ingin ambil alih blast furnace ini, tetapi dibetulin total dan mereka tambah duit dengan hitung-hitungan yang baik, cuma nggak jadi karena baja lagi naik harganya. Jadi, untuk membangun pabriknya mereka butuh dua kali lipat, jadi mereka mundur," ujar Erick, Senin (6/12/2021).
Erick memang memberi lampu hijau kepada Krakatau Steel untuk melanjutkan proyek peleburan tanur tinggi. Padahal, emiten pelat merah sendiri sudah menghentikan operasional blast furnace sejak 5 Desember 2019 lalu.
Baca Juga: Blinken Peringatkan Konsekuensi Mengerikan Jika China Nekat Serang Taiwan
Lihat Juga :