Analis: Penguatan Rupiah Hanya Mengikuti Tren Dunia
Selasa, 09 Juni 2020 - 05:37 WIB
loading...
A
A
A
Selain itu, yang juga signifikan adalah support dari Bank Indonesia yang dilakukan untuk menahan nilai tukar rupiah. Seperti diketahui, bank sentral telah membeli SBN yang dilepas asing di pasar sekunder sebesar Rp166,2 triliun pada April 2020. Ini adalah bagian dari total stimulus BI sebesar Rp503 triliun untuk menjaga kestabilan sistem keuangan di tengah resesi akibat pandemi corona.
"Tapi di balik semua itu, indikator eksternal ekonomi yang lebih fundamental dalam menyangga mata uang, yaitu neraca perdagangan, transaksi berjalan, dan neraca pembayaran, tetap mengalami defisit," tukas Gede.
Bulan April 2020, BPS mencatat ekspor Indonesia sebesar USD12,19 miliar. Nilai ini anjlok 13,3% dibandingkan Maret 2020, dan anjlok 7% bila dibandingkan April 2019. Sementara impor bulan April sebesar USD12,54 miliar. Nilai ini turun 6,1% bila dibandingkan bulan lalu. Secara total pada April 2020, Indonesia mengalami defisit neraca perdagangan sebesar USD350 juta.
Adapun indikator eksternal seperti transaksi berjalan pada kuartal I 2020 (Januari-Maret) tercatat masih defisit USD3,9 miliar. Sementara neraca pembayaran (balance of payment/BOP) pada periode yang sama juga mengalami defisit USD8,5 miliar (sangat buruk bila dibandingkan periode yang sama tahun 2019, ketika BOP meraih surplus USD2,4 miliar).
"Kesimpulannya penguatan tupiah saat ini hanya akan sementara. Karena penguatannya yang mengikuti tren pelemahan dolar AS dan ditunjang doping dari Kemenkeu, BUMN, dan BI hanyalah artifisial belaka. Saat pasar menyadari fundamental ekonomi Indonesia yang lemah, yang kondisinya akan tetap begini hingga akhir 2020, maka situasi akan berbalik," pungkas Gede.
"Tapi di balik semua itu, indikator eksternal ekonomi yang lebih fundamental dalam menyangga mata uang, yaitu neraca perdagangan, transaksi berjalan, dan neraca pembayaran, tetap mengalami defisit," tukas Gede.
Bulan April 2020, BPS mencatat ekspor Indonesia sebesar USD12,19 miliar. Nilai ini anjlok 13,3% dibandingkan Maret 2020, dan anjlok 7% bila dibandingkan April 2019. Sementara impor bulan April sebesar USD12,54 miliar. Nilai ini turun 6,1% bila dibandingkan bulan lalu. Secara total pada April 2020, Indonesia mengalami defisit neraca perdagangan sebesar USD350 juta.
Adapun indikator eksternal seperti transaksi berjalan pada kuartal I 2020 (Januari-Maret) tercatat masih defisit USD3,9 miliar. Sementara neraca pembayaran (balance of payment/BOP) pada periode yang sama juga mengalami defisit USD8,5 miliar (sangat buruk bila dibandingkan periode yang sama tahun 2019, ketika BOP meraih surplus USD2,4 miliar).
"Kesimpulannya penguatan tupiah saat ini hanya akan sementara. Karena penguatannya yang mengikuti tren pelemahan dolar AS dan ditunjang doping dari Kemenkeu, BUMN, dan BI hanyalah artifisial belaka. Saat pasar menyadari fundamental ekonomi Indonesia yang lemah, yang kondisinya akan tetap begini hingga akhir 2020, maka situasi akan berbalik," pungkas Gede.
(bon)
Lihat Juga :