RI Harus Punya Strategi Besar, Erick Thohir: Kalau Ekspor Raw Material Tidak Dapat Apa-apa
Rabu, 29 Desember 2021 - 10:34 WIB
loading...
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir berbicara soal perlunya Indonesia menyusun strategi besar di sektor pertambangan untuk memperkuat hilirisasi di tanah air. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir berbicara soal perlunya Indonesia menyusun strategi besar di sektor pertambangan. Langkah itu untuk memperkuat hilirisasi di tanah air.
Indonesia masih mengekspor 50% bahan baku (raw material) pertambangan ke negara-negara tujuan ekspor. Padahal, di lain sisi pemerintah ingin memperkuat hilirisasi pertambangan. Erick Thohir memandang, intensitas ekspor tersebut membuat Indonesia kehilangan kesempatan atau tidak mendapat keuntungan berarti di sektor pertambanagan.
"Kalau raw materialnya saja yang dikirim, ya tentu kita tidak dapat apa-apa. Apalagi data menunjukan 50% itu di Indonesia itu ekspornya masih raw material, jadi artinya apa? Sudah seyogyanya Indonesia harus merubah strategi besar," ujar Erick dikutip Rabu, (29/12/2021).
Baca Juga: Setop Ekspor Bahan Mentah, Jokowi: Negara-Negara Maju Ngamuk Semua
Menurutnya, globalisasi memungkinkan adanya pasar terbuka bagi negara-negara di dunia. Hanya saja, Indonesia berkomitmen memperkuat ekosistemnya atau secara mandiri membangun industri pertambangan dari hulu ke hilir. Komitmen itu sejalan dengan arahan Presiden Joko Widodo.
Sebelumnya, Kepala Negara menolak menandatangani kesepakatan kerja sama rantai pasok (supply chain) bahan baku pertambangan dengan sejumlah negara. Penolakan dilakukan saat pelaksanaan forum kerja sama multilateral G20 di Roma dan COP26 di Glasgow beberapa waktu lalu.
Menurut Erick Thohir, alasan Presiden menolak menandatangani kesepakatan supply chain tersebut karena Indonesia dituntut untuk mengirimkan bahan baku pertambangan sebanyak mungkin kepada sejumlah negara
Indonesia masih mengekspor 50% bahan baku (raw material) pertambangan ke negara-negara tujuan ekspor. Padahal, di lain sisi pemerintah ingin memperkuat hilirisasi pertambangan. Erick Thohir memandang, intensitas ekspor tersebut membuat Indonesia kehilangan kesempatan atau tidak mendapat keuntungan berarti di sektor pertambanagan.
"Kalau raw materialnya saja yang dikirim, ya tentu kita tidak dapat apa-apa. Apalagi data menunjukan 50% itu di Indonesia itu ekspornya masih raw material, jadi artinya apa? Sudah seyogyanya Indonesia harus merubah strategi besar," ujar Erick dikutip Rabu, (29/12/2021).
Baca Juga: Setop Ekspor Bahan Mentah, Jokowi: Negara-Negara Maju Ngamuk Semua
Menurutnya, globalisasi memungkinkan adanya pasar terbuka bagi negara-negara di dunia. Hanya saja, Indonesia berkomitmen memperkuat ekosistemnya atau secara mandiri membangun industri pertambangan dari hulu ke hilir. Komitmen itu sejalan dengan arahan Presiden Joko Widodo.
Sebelumnya, Kepala Negara menolak menandatangani kesepakatan kerja sama rantai pasok (supply chain) bahan baku pertambangan dengan sejumlah negara. Penolakan dilakukan saat pelaksanaan forum kerja sama multilateral G20 di Roma dan COP26 di Glasgow beberapa waktu lalu.
Menurut Erick Thohir, alasan Presiden menolak menandatangani kesepakatan supply chain tersebut karena Indonesia dituntut untuk mengirimkan bahan baku pertambangan sebanyak mungkin kepada sejumlah negara
Lihat Juga :