Menyiasati Pemakaian Listrik di Rumah Agar Lebih Dihemat
Rabu, 10 Juni 2020 - 14:09 WIB
loading...
Foto/shutterstock
A
A
A
JAKARTA - Mengikuti tren gaya hidup modern yang serbapraktis dan serbateknologi terkadang berbenturan dengan kebutuhan lainnya. Salah satunya, konsumsi listrik yang boros. Terlebih lagi, konsumsi listrik saat ini diiringi dengan kenaikan tarif.
Jika dulu Anda memanaskan makanan harus menggunakan api, kini oven listrik hadir dengan layar sentuh untuk pengoperasiannya. Jika dulu kita harus membersihkan lantai dengan sapu ijuk, kini ada robot penyedot debu yang bisa bergerak sendiri. Jika dulu kita harus mengoperasikan peralatan elektronik satu per satu, kini kita harus mengoperasikan sekaligus dengan remote control dan akses internet.
Seakan berlari, teknologi terus melaju pesat tanpa bisa dihentikan. Teknologi ini hadir menjawab kebutuhan manusia yang dulu sulit terpenuhi. Tak heran, kehadiran asisten rumah tangga canggih ini pun turut mengubah gaya hidup masyarakat lebih modern dan praktis. Namun peralatan elektronik canggih ini punya kekurangan utama, yaitu lebih mahal dan boros listrik. Tapi benerkah, semua peralatan elektronik terkini boros listrik?
“Peralatan elektronik canggih ini umumnya menggantikan peran produk rumah tangga yang pada awalnya menggunakan energi selain listrik untuk beroperasi. Misalnya, sapu ijuk yang menggunakan tenaga manusia, atau kompor gas yang menggunakan api hasil pembakaran gas,” ungkap arsitek Ren Katili.
Namun, tidak benar jika semua peralatan elektronik terkini diklaim boros listrik. Berdasarkan cara kerjanya, ada produk yang memiliki watt tinggi maupun rendah.
Produk watt tinggi umumnya bersifat memanaskan atau mendinginkan. Misalnya, kompor listrik yang bersifat memanaskan bisa mengonsumsi daya 200 hingga 2.000 watt. Sama halnya dengan oven microwave yang mengonsumsi daya 600 watt sampai 1.500 watt, atau teko air listrik yang meski kecil, bisa menghabiskan daya 350 watt sampai 600 watt. (Baca: Menata Hunian saat Penerapan Aturan di Rumah Saja)
Jika dulu Anda memanaskan makanan harus menggunakan api, kini oven listrik hadir dengan layar sentuh untuk pengoperasiannya. Jika dulu kita harus membersihkan lantai dengan sapu ijuk, kini ada robot penyedot debu yang bisa bergerak sendiri. Jika dulu kita harus mengoperasikan peralatan elektronik satu per satu, kini kita harus mengoperasikan sekaligus dengan remote control dan akses internet.
Seakan berlari, teknologi terus melaju pesat tanpa bisa dihentikan. Teknologi ini hadir menjawab kebutuhan manusia yang dulu sulit terpenuhi. Tak heran, kehadiran asisten rumah tangga canggih ini pun turut mengubah gaya hidup masyarakat lebih modern dan praktis. Namun peralatan elektronik canggih ini punya kekurangan utama, yaitu lebih mahal dan boros listrik. Tapi benerkah, semua peralatan elektronik terkini boros listrik?
“Peralatan elektronik canggih ini umumnya menggantikan peran produk rumah tangga yang pada awalnya menggunakan energi selain listrik untuk beroperasi. Misalnya, sapu ijuk yang menggunakan tenaga manusia, atau kompor gas yang menggunakan api hasil pembakaran gas,” ungkap arsitek Ren Katili.
Namun, tidak benar jika semua peralatan elektronik terkini diklaim boros listrik. Berdasarkan cara kerjanya, ada produk yang memiliki watt tinggi maupun rendah.
Produk watt tinggi umumnya bersifat memanaskan atau mendinginkan. Misalnya, kompor listrik yang bersifat memanaskan bisa mengonsumsi daya 200 hingga 2.000 watt. Sama halnya dengan oven microwave yang mengonsumsi daya 600 watt sampai 1.500 watt, atau teko air listrik yang meski kecil, bisa menghabiskan daya 350 watt sampai 600 watt. (Baca: Menata Hunian saat Penerapan Aturan di Rumah Saja)
Lihat Juga :