Mayoritas Masyarakat Indonesia Ingin Mendapatkan Vaksin Booster
Jum'at, 14 Januari 2022 - 14:45 WIB
loading...
A
A
A
Berdasarkan hasil survei Ipsos ini, 46% masyarakat Indonesia merasa kondisi ekonomi nasional saat ini baik bahkan sangat baik. Lebih jauh, mayoritas masyarakat (79%) optimis ekonomi nasional akan semakin pulih dan kuat dalam 6 bulan ke depan. Persentase optimisme masyarakat Indonesia adalah yang tertinggi dibandingkan negara Asia Tenggara lainya, Filipina 61%, Vietnam 46%, Malaysia 43%, Singapura 40%, dan Thailand 35%.
Selain itu, banyaknya masyarakat Indonesia yang optimis ekonomi nasional akan semakin kuat pada survei terbaru ini, meningkat cukup signifikan dibandingkan hasil survei gelombang ke-4 pada Juni 2021 (68%). Pandemi memberikan dampak nyata terhadap pandangan dan gaya hidup masyarakat.
Di Asia Tenggara, 89% masyarakat merasakan dampak pendemi secara signifkan. Di Indonesia sendiri, 64% masyarakat merasakan cukup mengalami perubahan, 36% merasakan perubahan signifikan, 8% merasa perubahan tidak signifikan, dan 3% merasa tidak ada perubahan. Berbeda dengan Vietnam dan Thailand, yang mayoritas masyarakatnya merasakan perubahan sangat signifikan akibat pendemi, 88% dan 64% pada masing-masing negara.
Sebagian besar masyarakat di Asia Tenggara mulai lebih percaya diri dan nyaman untuk melakukan berbagai aktivitas di luar dibandingkan pada periode survei gelombang ke-4. Dan, Indonesia adalah negara dengan presentase tertinggi di antara negara Asia Tenggara lain untuk melakukan aktivitas seperti makan di restoran 62%, berkunjung ke rumah teman atau kerabat 73%, menghadiri acara / pertemuan 54%, menggunakan transportasi umum 55%, pergi ke pusat olahraga/gym 57%, dan berpergian domestik (59%) bahkan ke luar negeri (36%) pada 3 bulan ke depan.
Melihat pada aktivitas belanja masyarakat, secara garis besar mayarakat Asia Tenggara dalam 6 bulan terakhir lebih banyak melakukan aktivitas digital atau online seperti menggunakan pembayaran non-tunai (50%), belanja online (51%), dan menggunakan media sosial 48%. Lebih lanjut, produk esensial seperti makanan siap saji atau easy to cook, produk kebersihan, dan produk perawatan pribadi masih akan tetap menjadi prioritas masyarakat dibandingkan kategori produk non-esensial seperti pakaian, buku, mainan anak.
Merunut, perihal pilihan saluran belanja masyarakat Indonesia selama pandemi, 84% mengaku berbelanja melalui e-commerce, 51% mengaku masih berbelanja di toko seperti supermarket, toko kelontong, pasar tradisional, 35% belanja menggunakan aplikasi transportasi, 28% belanja di toko online pada media sosial seperti Instagram, 17% menguhubungi langsung penjual dan mengirimkannya secara pribadi, dan 6% melalui layanan online terpercaya.
“Pandemi mendorong penjual maupun pembeli menggunakan teknologi digital. Perlunya pembatasan interaksi dengan banyak orang, mengurangi mobilitas di tempat umum, seperti mall, tentu membuat belanja online menjadi pilihan yang paling digemari selama pandemi. Namun, terlihat dari hasil survei terbaru Ipsos ini bahwa ternyata belanja secara offline, di toko, pasar, dan supermarket masih digemari (51%)," tutur Managing Director Ipsos in Indonesia, Soeprapto Tan.
Selain itu, banyaknya masyarakat Indonesia yang optimis ekonomi nasional akan semakin kuat pada survei terbaru ini, meningkat cukup signifikan dibandingkan hasil survei gelombang ke-4 pada Juni 2021 (68%). Pandemi memberikan dampak nyata terhadap pandangan dan gaya hidup masyarakat.
Di Asia Tenggara, 89% masyarakat merasakan dampak pendemi secara signifkan. Di Indonesia sendiri, 64% masyarakat merasakan cukup mengalami perubahan, 36% merasakan perubahan signifikan, 8% merasa perubahan tidak signifikan, dan 3% merasa tidak ada perubahan. Berbeda dengan Vietnam dan Thailand, yang mayoritas masyarakatnya merasakan perubahan sangat signifikan akibat pendemi, 88% dan 64% pada masing-masing negara.
Sebagian besar masyarakat di Asia Tenggara mulai lebih percaya diri dan nyaman untuk melakukan berbagai aktivitas di luar dibandingkan pada periode survei gelombang ke-4. Dan, Indonesia adalah negara dengan presentase tertinggi di antara negara Asia Tenggara lain untuk melakukan aktivitas seperti makan di restoran 62%, berkunjung ke rumah teman atau kerabat 73%, menghadiri acara / pertemuan 54%, menggunakan transportasi umum 55%, pergi ke pusat olahraga/gym 57%, dan berpergian domestik (59%) bahkan ke luar negeri (36%) pada 3 bulan ke depan.
Melihat pada aktivitas belanja masyarakat, secara garis besar mayarakat Asia Tenggara dalam 6 bulan terakhir lebih banyak melakukan aktivitas digital atau online seperti menggunakan pembayaran non-tunai (50%), belanja online (51%), dan menggunakan media sosial 48%. Lebih lanjut, produk esensial seperti makanan siap saji atau easy to cook, produk kebersihan, dan produk perawatan pribadi masih akan tetap menjadi prioritas masyarakat dibandingkan kategori produk non-esensial seperti pakaian, buku, mainan anak.
Merunut, perihal pilihan saluran belanja masyarakat Indonesia selama pandemi, 84% mengaku berbelanja melalui e-commerce, 51% mengaku masih berbelanja di toko seperti supermarket, toko kelontong, pasar tradisional, 35% belanja menggunakan aplikasi transportasi, 28% belanja di toko online pada media sosial seperti Instagram, 17% menguhubungi langsung penjual dan mengirimkannya secara pribadi, dan 6% melalui layanan online terpercaya.
“Pandemi mendorong penjual maupun pembeli menggunakan teknologi digital. Perlunya pembatasan interaksi dengan banyak orang, mengurangi mobilitas di tempat umum, seperti mall, tentu membuat belanja online menjadi pilihan yang paling digemari selama pandemi. Namun, terlihat dari hasil survei terbaru Ipsos ini bahwa ternyata belanja secara offline, di toko, pasar, dan supermarket masih digemari (51%)," tutur Managing Director Ipsos in Indonesia, Soeprapto Tan.
Lihat Juga :