Ekonom: Industri Sawit Tahan Banting di Tengah Pandemi Covid-19
Jum'at, 12 Juni 2020 - 09:01 WIB
loading...
A
A
A
Kegiatan produksi dijalankan dengan protokol kesehatan yang ketat, pergerakan tenaga kerja juga dibatasi. Dua faktor di atas, menurut Fadhil Hasan, membuat industri sawit mengalami pelambatan.
Sejak pandemi Covid-19, produksi sawit tidak terganggu. Mengapa? Alasannya, industri minyak sawit di Indonesia termasuk dalam kategori ‘essential economic activities’. Sehingga meski dalam masa pandemi, masih terus dibutuhkan masyarakat. Fenomena ini berbeda dengan Malaysia yang industri sawitnya terdampak Covid-19. (Baca juga: Indonesia Harus Serius Jaga Pasar Minyak Sawit di Asia Selatan)
Selain produksi berjalan relatif normal, ekspor sawit ke sejumlah pasar tradisional juga berjalan cukup baik. Fadhil mengakui terjadi penurunan permintaan sawit di beberapa negara, yakni China, India dan Pakistan.
Pengurangan permintaan dari China disebabkan karena Negeri Tirai Bambu ini menerapkan karantina wilayah sehingga sulit mendapatkan akses pelabuhan. Sedangkan India dan Pakistan lebih disebabkan karena harga minyak sawit tidak kompetitif. “India juga menerapkan aturan impor baru yang menghambat ekspor minyak sawit,” jelas Fadhil Hasan.
Fadhil Hasan mengapreasiasi pemerintah terkait dukungan dan komitmennya terhadap kebijakan B30. Saat ini, ada masalah dengan program B30 yang agak terhambat. Karena harga minyak mentah dunia yang jatuh dan Covid-19 menyebabkan biaya untuk menutupi selisih harga solar dengan biodiesel meningkat tajam.
Manurut Fadhil Hasan, pemerintah telah mengeluarkan kebijakan untuk menyelamatkan program B30. Yaitu dengan meningkatkan pungutan ekspor CPO menjadi USD55 per ton dari USD50 per ton sebelumnya.
Sejak pandemi Covid-19, produksi sawit tidak terganggu. Mengapa? Alasannya, industri minyak sawit di Indonesia termasuk dalam kategori ‘essential economic activities’. Sehingga meski dalam masa pandemi, masih terus dibutuhkan masyarakat. Fenomena ini berbeda dengan Malaysia yang industri sawitnya terdampak Covid-19. (Baca juga: Indonesia Harus Serius Jaga Pasar Minyak Sawit di Asia Selatan)
Selain produksi berjalan relatif normal, ekspor sawit ke sejumlah pasar tradisional juga berjalan cukup baik. Fadhil mengakui terjadi penurunan permintaan sawit di beberapa negara, yakni China, India dan Pakistan.
Pengurangan permintaan dari China disebabkan karena Negeri Tirai Bambu ini menerapkan karantina wilayah sehingga sulit mendapatkan akses pelabuhan. Sedangkan India dan Pakistan lebih disebabkan karena harga minyak sawit tidak kompetitif. “India juga menerapkan aturan impor baru yang menghambat ekspor minyak sawit,” jelas Fadhil Hasan.
Fadhil Hasan mengapreasiasi pemerintah terkait dukungan dan komitmennya terhadap kebijakan B30. Saat ini, ada masalah dengan program B30 yang agak terhambat. Karena harga minyak mentah dunia yang jatuh dan Covid-19 menyebabkan biaya untuk menutupi selisih harga solar dengan biodiesel meningkat tajam.
Manurut Fadhil Hasan, pemerintah telah mengeluarkan kebijakan untuk menyelamatkan program B30. Yaitu dengan meningkatkan pungutan ekspor CPO menjadi USD55 per ton dari USD50 per ton sebelumnya.
Lihat Juga :