Hadapi Tatanan Baru, Kementan Perkuat Sistem Logistik Nasional

Jum'at, 12 Juni 2020 - 08:22 WIB
loading...
Hadapi Tatanan Baru,...
Gedung Kementerian Pertanian. Foto/Dok.
A A A
JAKARTA - Jelang berlangsungnya tatanan hidup baru atau new normal, Kementerian Pertanian terus melakukan penguatan sistem logistik pangan nasional. Ini dilakukan dalam rangka antisipasi kemungkinan terjadinya krisis pangan seperti yang disampaikan Badan Pangan Dunia, FAO.

Sekretaris Jenderal Kementan, Momon Rusmono, mengatakan logistik memiliki peran penting dalam mengantisispasi kelangkaan pangan dan disfalitas pangan nasional.

"Sesuai dengan arahan Pak Menteri, upaya ini harus dijalankan bersama dengan stake holder terkait baik dari dunia usaha seperti BUMN atau para pelaku usaha lainnya," ujar Momon dalam keterangan resminya di Jakarta, Jumat, (12/6/2020).

Sebagai informasi, regulasi logistik diatur dalam bentuk Peraturan Presiden (Perpres) No.26 tahun 2012 tentang Cetak Biru Pengembangan Sistem Logistik Nasional (Sislognas). Aturan ini wajib diterapkan sebagai salah satu prasarana dalam membangun daya saing nasional serta mendukung pelaksanaan masterplan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia 2011-2025.

Sementara itu, Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementan, Agung Hendriadi menilai, sistem logistik sangat penting untuk menjamin stabilisasi pasokan dan harga pangan di seluruh dunia. Baca: Pemerintah Tetapkan Kalteng sebagai Kawasan Food Estate

Menurut dia, ada empat strategi penguatan sistem logistik pangan nasional. Pertama, peningkatan produksi pada wilayah defisit dengan mendekatkan produksi ke konsumen. Di samping itu ada juga program penambahan area tanam baru (PATB) wilayah defisit, penyediaan input produksi, dan penyediaan sarana serta prasarana produksi.

Kedua, kata Agung, adalah perbaikan sistem distribusi. Caranya dengan meningkatkan kelancaran distribusi pangan yang meliputi program penyederhanaan rantai pasok dan intervensi distribusi, pengembangan nasional dan regional food hub serta pembangunan sistem jual beli e-commerce.

Ketiga, kelembagaan distribusi pangan. Koordinasi dan sinergitas antar pelaku logistik yang meliputi program penguatan pera pelaku logistik, pembentukan lembaga logistik, dan harmonisasi peraturan serta kebijakan sistem logistik pangan.

"Strategi keempat tentang peningkatan konsumsi pangan lokal dengan meningkatkan konsumsi lokal yang meliputi pengembangan kawasan atau UMKM dan kampanye gerakan konsumsi pangan lokal," katanya.

Sementara itu, Wakil Menteri BUMN, Budi Sadikin mengatakan, bahwa sistem logistik pangan nasional sangat penting untuk mendukung ketahanan pangan nasional. Bahkan, sistem ini sudah mendapat dukungan dari Presiden Joko Widodo, terutama dari sisi ketersediaan, keterjangkauan, kualitas pangan, dan kesinambungan maupun kemandirian.

"Untuk itu, BUMN memiliki strategi yang sudah disusun dalam mendorong mandat Presiden tersebut. Pertama dengan membentuk klaster BUMN pangan seperti SHS, Berdikari, Perindo, RNI, PT Garam, Bulog, dan lain-lain. Kedua kita akan membangun industri pangan modern, ketiga membangun model kerjasama yang baru, dan terakhir regifusi pemasaran," tutupnya.
(bon)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
KAI Logistik Angkut...
KAI Logistik Angkut 6,8 Juta Ton Barang hingga Mei 2026, Terbanyak Batu Bara
FAO Ingatkan Risiko...
FAO Ingatkan Risiko Krisis Pangan Global, Indonesia Siap Ambil Peran Pemasok Pangan Dunia
Dukung Arah Ekonomi...
Dukung Arah Ekonomi Prabowo, Elemen Masyarakat Minta Distribusi Pangan Diperbaiki
Bahan Pangan Masih Impor,...
Bahan Pangan Masih Impor, Siap-siap Hadapi Lonjakan Harga Imbas Rupiah Loyo
Bertemu PM Belarus,...
Bertemu PM Belarus, Airlangga Dorong Penguatan Kerja Sama Pangan hingga Energi
IISM dan Indonesia Cold...
IISM dan Indonesia Cold Chain Expo 2026 Dorong Efisiensi Rantai Pasok Pangan
KJRI Penang : Konektivitas...
KJRI Penang : Konektivitas BNCT, Belawan - Penang - Port - Perlis Inland Port Perkuat Rantai Pasok Kawasan
Angkat Pangan dan Nutrisi,...
Angkat Pangan dan Nutrisi, Peneliti Indonesia Masuk Daftar Asian Scientist 100
Elektrifikasi Alat Bongkar...
Elektrifikasi Alat Bongkar Muat Dorong Kelancaran Logistik di Tanjung Priok
Rekomendasi
Aktivis Zionis: 15 Tahun...
Aktivis Zionis: 15 Tahun Lagi, Israel Akan Perang dengan Mesir
Saat Prancis Hujan Rekor...
Saat Prancis Hujan Rekor di Laga Kedua Grup I Piala Dunia 2026
5 Poin Penting Perundingan...
5 Poin Penting Perundingan Damai Iran-AS Putaran Pertama, dari Pencairan Aset hingga Lebanon
Berita Terkini
Bangun SDM Unggul, Pertamina...
Bangun SDM Unggul, Pertamina Gandeng Kemnaker Perkuat Kompetensi dan Budaya K3
Kebijakan Ekspor Satu...
Kebijakan Ekspor Satu Pintu, Reform Syndicate Sodorkan 5 Rekomendasi Taktis
Kilau Emas Antam Kembali,...
Kilau Emas Antam Kembali, Hari Ini Naik Tipis Rp5 Ribu ke Rp2.673.000 per Gram
80 Juta Barel Minyak...
80 Juta Barel Minyak Siap Tumpah ke Pasar Dunia, 40 Kapal Tanker Antre Keluar dari Selat Hormuz
Jaga HET MinyaKita di...
Jaga HET MinyaKita di Angka Rp15.700 per Liter, Istana Buka Suara
Indonesia, Swiss, dan...
Indonesia, Swiss, dan UNDP Luncurkan Fase Baru Transformasi Lanskap Berkelanjutan di Indonesia
Infografis
Piala Dunia 2026: Panggung...
Piala Dunia 2026: Panggung Terakhir Messi-Ronaldo dan Lahirnya Era Baru
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved