Sandiaga Puji Perjuangan Bakul Jamu yang Sukses di Tengah Pandemi
Jum'at, 12 Juni 2020 - 12:41 WIB
loading...
Sandiaga Uno sedang membuat jamu tradisional
A
A
A
JAKARTA - Usaha Mikor Kecil Menengah (UMKM) paling terpukul dengan adanya wabah Covid-19 ini. Di sektor kuliner misalnya, banyak yang kehilangan pelanggan dan terpaksa gulung tikar atau bangkrut. Namun, mereka yang berhasil mememanfaatkan peluang mendapatkan omzet hingga ratusan juta rupiah. Salah satunya adalah penjual Jamu Tradisional Mbak Elis.
Di era pandemi ini, jamu yang merupakan minuman tradisional dipercaya dapat memperkuat imun tubuh untuk melawan virus Covid-19. Karena itu jamu paling banyak dicari oleh masyarakat Indonesia. Listianingsih, selaku pemilik Jamu Tradisional Mba Elis mengaku bahwa usahanya itu merupakan warisan dari mendiang sang Ibunda.
“Awal mula usaha ini dari Ibu saya yang berjualan jamu keliling dari 2000 sampai 2007. Lalu di 2007, ibu saya berhenti karena harus merawat nenek yang sedang sakit. Setelah melahirkan anak kedua, ibu saya sering membuatkan jamu. Banyak saudara dan teman-teman yang datang menjenguk disuguhkan jamu. Mereka bilang jamunya enak, sehat dan segar,” ujarnya di acara ‘Jemput Rezeki’.
![Sandiaga Puji Perjuangan Bakul Jamu yang Sukses di Tengah Pandemi]()
Awalnya, modal yang dimiliki Listianingsih hanya 2 juta. Akan tetapi, berkat kerja kerasnya, ia mampu memproduksi jamu sebanyak 100-150 botol. Dia tetap gigih berjualan konvensional dengan cara berkeliling walaupun di era pandemi seperti ini. Walhasil, Listianingsih meraup omzet hingga Rp30 juta per bulan.
“Itu sebelum adanya COVID-19. Setelah adanya COVID-19, omzet saya mencapai Rp 100 juta per bulan. Ada berkah di balik musibah,” jelasnya.
Di era pandemi ini, jamu yang merupakan minuman tradisional dipercaya dapat memperkuat imun tubuh untuk melawan virus Covid-19. Karena itu jamu paling banyak dicari oleh masyarakat Indonesia. Listianingsih, selaku pemilik Jamu Tradisional Mba Elis mengaku bahwa usahanya itu merupakan warisan dari mendiang sang Ibunda.
“Awal mula usaha ini dari Ibu saya yang berjualan jamu keliling dari 2000 sampai 2007. Lalu di 2007, ibu saya berhenti karena harus merawat nenek yang sedang sakit. Setelah melahirkan anak kedua, ibu saya sering membuatkan jamu. Banyak saudara dan teman-teman yang datang menjenguk disuguhkan jamu. Mereka bilang jamunya enak, sehat dan segar,” ujarnya di acara ‘Jemput Rezeki’.

Awalnya, modal yang dimiliki Listianingsih hanya 2 juta. Akan tetapi, berkat kerja kerasnya, ia mampu memproduksi jamu sebanyak 100-150 botol. Dia tetap gigih berjualan konvensional dengan cara berkeliling walaupun di era pandemi seperti ini. Walhasil, Listianingsih meraup omzet hingga Rp30 juta per bulan.
“Itu sebelum adanya COVID-19. Setelah adanya COVID-19, omzet saya mencapai Rp 100 juta per bulan. Ada berkah di balik musibah,” jelasnya.
Lihat Juga :