Winning in The New Normal
Sabtu, 13 Juni 2020 - 10:05 WIB
loading...
A
A
A
Di tengah perubahan besar tersebut akan muncul banyak peluang. Pepatah China bilang: “Wei-Ji”, dalam setiap krisis selalu ada peluang. Krisis pandemi tak hanya melulu menghasilkan ancaman (threat), tapi juga peluang (opportunity) luar biasa.
Di tengah banyak bisnis bertumbangan ternyata banyak bisnis yang lain justru menggeliat bahkan booming di masa korona. Ketika sektor seperti pariwisata, penerbangan, mal dan properti, atau resto berguguran, ternyata sektor-sektor seperti e-commerce, logistik, food delivery, online learning, atau telemedicine justru booming.
Karena itu, kita harus menyikapi datangnya new normal bukan dengan putus asa dan pesimisme, tapi justru sebaliknya, optimisme. Ya, karena di depan mata muncul peluang-peluang baru yang begitu banyak di industri-industri yang sedang promising.
Kuncinya satu, yaitu agility. Kita harus bisa merespons krisis dengan supercepat, lentur, terukur, tanpa kehilangan momentum dan visi. Itulah agility. Saya berani menyebut agility adalah aset paling berharga di saat krisis. (Baca juga: Lawan Covid-19, Masyarakat Diajak Terapkan Hidup Sehat)
Contohnya, sebagian resto dan hotel saat ini mengubah model bisnisnya menjadi food delivery services ketika sudah tidak ada lagi tamu yang datang. Es Teller 77 menutup beberapa gerai dan beralih menjual produk frozen food. Atau, yang lebih ekstrem, Mal Lippo Mampang Plaza melakukan survival innovation dengan mengubah mal dan apartemen menjadi rumah sakit untuk penderita Covid-19.
Kondisi krisis pandemi saat ini bisa saya sepadankan dengan arena balap MotoGP atau Formula 1. Di sirkuit balap, kebanyakan pembalap menyalip lawannya bukanlah di lintasan lurus, tapi di tikungan. Nah, kondisi krisis saat ini saya gambarkan sebagai lintasan balap yang menikung karena medannya lebih sulit, berat, tapi challenging. (Lihat Infografis: Tujuh Tari Tradisional Asal Indonesia yang Mendunia)
Di tengah banyak bisnis bertumbangan ternyata banyak bisnis yang lain justru menggeliat bahkan booming di masa korona. Ketika sektor seperti pariwisata, penerbangan, mal dan properti, atau resto berguguran, ternyata sektor-sektor seperti e-commerce, logistik, food delivery, online learning, atau telemedicine justru booming.
Karena itu, kita harus menyikapi datangnya new normal bukan dengan putus asa dan pesimisme, tapi justru sebaliknya, optimisme. Ya, karena di depan mata muncul peluang-peluang baru yang begitu banyak di industri-industri yang sedang promising.
Kuncinya satu, yaitu agility. Kita harus bisa merespons krisis dengan supercepat, lentur, terukur, tanpa kehilangan momentum dan visi. Itulah agility. Saya berani menyebut agility adalah aset paling berharga di saat krisis. (Baca juga: Lawan Covid-19, Masyarakat Diajak Terapkan Hidup Sehat)
Contohnya, sebagian resto dan hotel saat ini mengubah model bisnisnya menjadi food delivery services ketika sudah tidak ada lagi tamu yang datang. Es Teller 77 menutup beberapa gerai dan beralih menjual produk frozen food. Atau, yang lebih ekstrem, Mal Lippo Mampang Plaza melakukan survival innovation dengan mengubah mal dan apartemen menjadi rumah sakit untuk penderita Covid-19.
Kondisi krisis pandemi saat ini bisa saya sepadankan dengan arena balap MotoGP atau Formula 1. Di sirkuit balap, kebanyakan pembalap menyalip lawannya bukanlah di lintasan lurus, tapi di tikungan. Nah, kondisi krisis saat ini saya gambarkan sebagai lintasan balap yang menikung karena medannya lebih sulit, berat, tapi challenging. (Lihat Infografis: Tujuh Tari Tradisional Asal Indonesia yang Mendunia)
Lihat Juga :