Aplikasi Belanja Pasar Tradisional Kian Diminati
Sabtu, 12 Februari 2022 - 10:30 WIB
loading...
A
A
A
Ngadiran mengakui upaya membantu pedagang untuk menjual produknya melalui aplikasi sudah dilakukan, baik oleh kementerian, pemerintah daerah, maupun swasta. Dia menyebut awalnya para pedagang alergi terhadap aplikasi, tetapi perlahan atau “terpaksa oleh keadaan” akhirnya menggunakan juga.
Berdasarkan pemantauannya, pedagang yang banyak memanfaatkan aplikasi didominasi yang masih berusia muda. “Milenial tentu mengikuti perkembangan. Itu (mereka) tidak gaptek. Akan tetapi, yang sepuh-sepuh kalau punya handphone bukan android. Yang penting bisa menelpon anak dan cucu. Kan gitu. Bahasanya masa bodo (dengan TI atau aplikasi),” ungkapnya.
Inkoppas juga mendesak pemerintah atau pengelola pasar tidak berdiam diri. Sebab, para pedagang pasar tradisional tidak hanya bersaing dengan supermarket, tetapi juga pelapak di lokapasar, agresivitas minimarket yang semakin merangsek ke perumahan, dan pedagang keliling. Dia juga meminta para vendor aplikasi tidak hanya meminta pedagang menggunakan aplikasi besutannya.
“Pemerintah, pengelola pasar, dan vendor, harus memberikan pelatihan dan bimbingan kepada para pedagang pasar tradisional mengenai cara menjual barang melalui aplikasi. Saya merasa pedagang dengan kondisi sekarang sekitar 30% ada yang mengikuti (menggunakan aplikasi). Bisa, enggak bisa, pura-pura bisa,” ucapnya.
Ngadiran menilai sebagian masyarakat tetap lebih suka berbelanja secara tatap muka di pasar. Di sisi lain, pasar tradisional tak bisa lagi dikelola secara ortodok dan apa adanya. Itu tidak akan menarik konsumen untuk datang ke pasar. “Penjual online menjadi kompetitor yang menggerus pasar tradisional, termasuk ritel modern,” tegasnya.
Di bagian lain, Sosiolog Universitas Islam Jakarta (UIN) Jakarta Tantan Hermansyah mengatakan, peralihan kebiasaan masyarakat dalam berbelanja ini tidak lepas dari situasi global, yakni penyebaran virus Sars Cov-II. “Masyarakat merasa nyaman dan aman untuk berbelanja menggunakan aplikasi. Kedua, sekarang vendor-vendor mempermudah yang mempermudah orang jualan semakin banyak,” ujarnya.
Dengan semakin banyak pedagang pasar tradisional yang memanfaatkan aplikasi akan menumbuhkan kompetisi yang adil. Jika dahulu lokapasar masih sedikit, pembentukan harga ditentukan satu-dua lokapasar saja. Ketika menjamurnya aplikasi yang lebih spesifik untuk menghubungkan pembeli dengan pedagang pasar, masyarakat akan mendapatkan harga yang jauh kompetitif. Juga bisa melirik-lirik dari satu lokapasar dan aplikasi ke yang lainnya.
Tantan menyatakan daya tahan dan masa depan pemanfaatan aplikasi untuk bertransaksi ini ditentukan oleh pembeli. “Kalau pembelinya tetap bertahan menggunakan aplikasi. Kemudian, dimiliki oleh para pedagang tradisional itu, mereka akan bertahan. Akan tetapi, pedagang itu rindu untuk tatap muka. Salah satu kelemahan aplikasi, nyaris tidak ada ruang tawar menawarnya,” tuturnya.
Pemanfaatan aplikasi akan berkembang terus di masa depan. Namun, menurut Tantan, pemanfaatannya akan ditentukan produknya. Pembelian produk yang terkait dengan emosi, hobi, dan super mewah, seperti lukisan, itu masih akan tetap memerlukan tatap muka. Untuk barang kelas menengah ke bawah, seperti komputer dan ponsel, konsumen biasanya lebih cenderung mencari merek yang sudah dipercaya.
“Kalau kebutuhan pokok, sebagian sudah beralih karena sekarang sudah terjadi. Orang-orang beli barang yang awet, seperti sabun, deterjen, pasta gigi, dan beras yang relatif tidak masalah kalau dikirimnya lama (sudah daring). (ada) Beli sampai China karena harganya kompetitif. Lagi-lagi pasar yang menentukan dan harga adalah raja,” ucapnya.
Berdasarkan pemantauannya, pedagang yang banyak memanfaatkan aplikasi didominasi yang masih berusia muda. “Milenial tentu mengikuti perkembangan. Itu (mereka) tidak gaptek. Akan tetapi, yang sepuh-sepuh kalau punya handphone bukan android. Yang penting bisa menelpon anak dan cucu. Kan gitu. Bahasanya masa bodo (dengan TI atau aplikasi),” ungkapnya.
Inkoppas juga mendesak pemerintah atau pengelola pasar tidak berdiam diri. Sebab, para pedagang pasar tradisional tidak hanya bersaing dengan supermarket, tetapi juga pelapak di lokapasar, agresivitas minimarket yang semakin merangsek ke perumahan, dan pedagang keliling. Dia juga meminta para vendor aplikasi tidak hanya meminta pedagang menggunakan aplikasi besutannya.
“Pemerintah, pengelola pasar, dan vendor, harus memberikan pelatihan dan bimbingan kepada para pedagang pasar tradisional mengenai cara menjual barang melalui aplikasi. Saya merasa pedagang dengan kondisi sekarang sekitar 30% ada yang mengikuti (menggunakan aplikasi). Bisa, enggak bisa, pura-pura bisa,” ucapnya.
Ngadiran menilai sebagian masyarakat tetap lebih suka berbelanja secara tatap muka di pasar. Di sisi lain, pasar tradisional tak bisa lagi dikelola secara ortodok dan apa adanya. Itu tidak akan menarik konsumen untuk datang ke pasar. “Penjual online menjadi kompetitor yang menggerus pasar tradisional, termasuk ritel modern,” tegasnya.
Di bagian lain, Sosiolog Universitas Islam Jakarta (UIN) Jakarta Tantan Hermansyah mengatakan, peralihan kebiasaan masyarakat dalam berbelanja ini tidak lepas dari situasi global, yakni penyebaran virus Sars Cov-II. “Masyarakat merasa nyaman dan aman untuk berbelanja menggunakan aplikasi. Kedua, sekarang vendor-vendor mempermudah yang mempermudah orang jualan semakin banyak,” ujarnya.
Dengan semakin banyak pedagang pasar tradisional yang memanfaatkan aplikasi akan menumbuhkan kompetisi yang adil. Jika dahulu lokapasar masih sedikit, pembentukan harga ditentukan satu-dua lokapasar saja. Ketika menjamurnya aplikasi yang lebih spesifik untuk menghubungkan pembeli dengan pedagang pasar, masyarakat akan mendapatkan harga yang jauh kompetitif. Juga bisa melirik-lirik dari satu lokapasar dan aplikasi ke yang lainnya.
Tantan menyatakan daya tahan dan masa depan pemanfaatan aplikasi untuk bertransaksi ini ditentukan oleh pembeli. “Kalau pembelinya tetap bertahan menggunakan aplikasi. Kemudian, dimiliki oleh para pedagang tradisional itu, mereka akan bertahan. Akan tetapi, pedagang itu rindu untuk tatap muka. Salah satu kelemahan aplikasi, nyaris tidak ada ruang tawar menawarnya,” tuturnya.
Pemanfaatan aplikasi akan berkembang terus di masa depan. Namun, menurut Tantan, pemanfaatannya akan ditentukan produknya. Pembelian produk yang terkait dengan emosi, hobi, dan super mewah, seperti lukisan, itu masih akan tetap memerlukan tatap muka. Untuk barang kelas menengah ke bawah, seperti komputer dan ponsel, konsumen biasanya lebih cenderung mencari merek yang sudah dipercaya.
“Kalau kebutuhan pokok, sebagian sudah beralih karena sekarang sudah terjadi. Orang-orang beli barang yang awet, seperti sabun, deterjen, pasta gigi, dan beras yang relatif tidak masalah kalau dikirimnya lama (sudah daring). (ada) Beli sampai China karena harganya kompetitif. Lagi-lagi pasar yang menentukan dan harga adalah raja,” ucapnya.
(ynt)
Lihat Juga :