Sri Mulyani Curhat Soal Sulitnya Jadi Perempuan Pemimpin
Senin, 07 Maret 2022 - 17:04 WIB
loading...
A
A
A
Lanjutnya, setelah menjalani studi doktoral, dirinya kembali ke Indonesia. Kala itu, Indonesia sedang mengalami krisis moneter pada tahun 1997-1998.
"Di situ jadi tempat pertempuran bagaimana mengendalikan suatu krisis, dan sebagai ekonom muda saya mendapat kesempatan untuk menangani krisis, dan itulah cara saya berbakti ke Indonesia," ungkapnya.
Hingga dirinya menjadi menteri seperti saat ini, menurutnya, kondisi perempuan dalam memimpin tidak sesederhana laki-laki. Perempuan dihadapkan pertanyaan dan dimintai keputusan yang lebih sulit ketimbang laki-laki.
Baca juga: Ratusan Warga Pejagalan Berdesakan Antre Minyak Goreng Murah
"Perempuan kalau dibilang lebih abot (berat) karena di dalam titik hidupnya menghadapi pertanyaan yang tidak mudah sehingga dalam leadership dia harus overcome, bagaimana menyeimbangkan familiy life kalau dia punya putra putri tapi harus continue karier. Oleh karena itu, ini harus dikompensasi dengan afirmasi," ujarnya.
"Di situ jadi tempat pertempuran bagaimana mengendalikan suatu krisis, dan sebagai ekonom muda saya mendapat kesempatan untuk menangani krisis, dan itulah cara saya berbakti ke Indonesia," ungkapnya.
Hingga dirinya menjadi menteri seperti saat ini, menurutnya, kondisi perempuan dalam memimpin tidak sesederhana laki-laki. Perempuan dihadapkan pertanyaan dan dimintai keputusan yang lebih sulit ketimbang laki-laki.
Baca juga: Ratusan Warga Pejagalan Berdesakan Antre Minyak Goreng Murah
"Perempuan kalau dibilang lebih abot (berat) karena di dalam titik hidupnya menghadapi pertanyaan yang tidak mudah sehingga dalam leadership dia harus overcome, bagaimana menyeimbangkan familiy life kalau dia punya putra putri tapi harus continue karier. Oleh karena itu, ini harus dikompensasi dengan afirmasi," ujarnya.
(uka)
Lihat Juga :