Antrean Solar Bersubsidi Masih Terjadi, Ini Penyebabnya
Rabu, 06 April 2022 - 08:26 WIB
loading...
Pengamat energi mensinyalir ada 4 hal yang menyebabkan terjadinya kelangkaan solar subsidi di berbagai daerah belakangan ini. Foto/Ilustrasi/Dok. SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar bersubsidi beberapa waktu belakangan ini ramai diberitakan terjadi di berbagai daerah.
Menyikapi fenomena tersebut, Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi) Sofyano Zakaria mengungkapkan bahwa setidaknya ada empat hal yang menjadi penyebab antrean solar bersubsidi di berbagai daerah tersebut.
Baca Juga: Solar Subsidi Langka, Bos Pertamina Curigai Perusahan Sawit dan Tambang
Sofyano mengatakan, faktor utamanya adalah berkurangnya kuota solar bersubsidi ungtuk tahun 2022 dibanding tahun sebelumnya. Kuota solar bersubsidi untuk tahun ini tercatat hanya sebesar 14,9 juta kiloliter (KL), turun dibandingkan kuota tahun sebelumnya yang mencapai 15,4 juta KL.
"Padahal, menurut pemerintah tahun 2022 ada peningkatan ekonomi sekitar 5%," kata Sofyano dalam keterangan tertulisnya, Rabu (6/4/2022).
Selanjutnya, disparitas harga antara solar bersubisidi dan solar non subsidi yang terlalu lebar. Solar bersubsidi saat ini dihargai Rp5.150 per liter, sementara harga solar industri (non subsidi) sekitar Rp13.000 per liter.
"Ini sangat bisa menjadi salah satu penyebab masalah, karena sangat mungkin solar bersubsidi lari ke pengguna yang tidak berhak. Harga solar bersubsidi terlalu murah jika dibandingkan harga jual atau harga keekonnomian solar industri," tandasnya.
Menyikapi fenomena tersebut, Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi) Sofyano Zakaria mengungkapkan bahwa setidaknya ada empat hal yang menjadi penyebab antrean solar bersubsidi di berbagai daerah tersebut.
Baca Juga: Solar Subsidi Langka, Bos Pertamina Curigai Perusahan Sawit dan Tambang
Sofyano mengatakan, faktor utamanya adalah berkurangnya kuota solar bersubsidi ungtuk tahun 2022 dibanding tahun sebelumnya. Kuota solar bersubsidi untuk tahun ini tercatat hanya sebesar 14,9 juta kiloliter (KL), turun dibandingkan kuota tahun sebelumnya yang mencapai 15,4 juta KL.
"Padahal, menurut pemerintah tahun 2022 ada peningkatan ekonomi sekitar 5%," kata Sofyano dalam keterangan tertulisnya, Rabu (6/4/2022).
Selanjutnya, disparitas harga antara solar bersubisidi dan solar non subsidi yang terlalu lebar. Solar bersubsidi saat ini dihargai Rp5.150 per liter, sementara harga solar industri (non subsidi) sekitar Rp13.000 per liter.
"Ini sangat bisa menjadi salah satu penyebab masalah, karena sangat mungkin solar bersubsidi lari ke pengguna yang tidak berhak. Harga solar bersubsidi terlalu murah jika dibandingkan harga jual atau harga keekonnomian solar industri," tandasnya.
Lihat Juga :