Pesan Zelensky ke Para Menkeu Dunia: Ukraina Butuh Bantuan Rp99 Triliun/Bulan

Sabtu, 23 April 2022 - 05:12 WIB
loading...
Pesan Zelensky ke Para...
Presiden Ukraina memberikan pesan kepada para menteri keuangan dunia bahwa negaranya membutuhkan USD7 miliar atau setara dengan Rp99,9 triliun setiap bulan hingga musim panas. Foto/Dok
A A A
KIEV - Presiden Ukraina memberikan pesan kepada para menteri keuangan dunia bahwa negaranya membutuhkan USD7 miliar atau setara dengan Rp99,9 triliun (Kurs Rp14.278 per USD) setiap bulan hingga musim panas agar negara itu tetap berjalan.

Volodymyr Zelensky juga mengatakan, "kita akan membutuhkan ratusan miliar dolar untuk membangun kembali semua ini nanti".

Baca Juga: Perang Rusia Ukraina Adalah Bencana Ekonomi, Bank Dunia Memperingatkan

Pesan ini disampaikan saat berpidato di Konferensi Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia melalui tautan video dari Kyiv. Bank Dunia memperkirakan bahwa, kerugian fisik atau infrastruktur yang ditimbulkan dari invasi Rusia ke Ukraina mencapai USD60 miliar senilai dengan Rp856,7 triliun.

Zelensky juga menambahkan, sudah saatnya komunitas global agar segera mengeluarkan Rusia dari lembaga keuangan internasional, termasuk Bank Dunia, IMF, dan lainnya. "Semua negara harus segera bersiap untuk memutuskan semua hubungan dengan Rusia," sambungnya.

Sementara itu Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva mendapatkan pertanyaaan, apakah IMF akan dapat mengamankan dana segera yang dibutuhkan Ukraina? "Kami bisa mendapatkannya untuk bulan pertama dan kedua," terangnya.

"Kami percaya bahwa seiring waktu jumlah ini akan turun karena ekonomi Ukraina di bagian negara yang tidak berada di bawah pendudukan meningkat, dan karena pengiriman uang dari mereka yang sekarang bekerja di tempat lain mulai mengalir," paparnya.

Sementara itu, Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Janet Yellen mengatakan, Rusia harus membayar sebagian biaya pembangunan kembali Ukraina setelah perang.

Hal ini terjadi ketika beberapa negara telah meminta aset Rusia yang disita agar digunakan untuk mendanai rekonstruksi negara Ukraina.
Namun, Yellen mengungkapkan, bahwa menggunakan Cadangan bank sentral Rusia di AS untuk membangun kembali Ukraina akan menjadi "langkah signifikan" yang memerlukan diskusi dan kesepakatan dengan mitra internasional.

Perdana Menteri Ukraina, Denys Shmyhal yang menghadiri konferensi secara langsung mengungkapkan, output ekonomi negara itu bisa turun sebanyak 50%, dimana kerugian langsung dan tidak langsung sejauh ini berjumlah USD560 miliar.

Angka itu lebih dari tiga kali ukuran produk domestik bruto (PDB) Ukraina, yang mencapai USD155,5 miliar pada tahun 2020, menurut Bank Dunia. "Jika kita tidak menghentikan perang ini bersama-sama, kerugian akan meningkat secara dramatis," kata Shmyhal.

Baca Juga: Bank Dunia Memperingatkan Perang Rusia Ukraina dan Pandemi Jadi Kombinasi Berbahaya

Seraya ia juga menambahkan, bahwa Ukraina akan membutuhkan program rekonstruksi yang serupa dengan Rencana Marshall pasca-Perang Dunia Kedua yang membantu membangun kembali Eropa.

Sementara ituPresiden Bank Dunia, David Malpass mengatakan, kerusakan bangunan dan infrastruktur Ukraina dari invasi Rusia telah mencapai sekitar USD60 miliar dan memperingatkan bahwa angka itu akan meningkat lebih lanjut seiring perang berkepanjangan.

Di sisi lain AS memberlakukan sanksi lebih lanjut terhadap kapal-kapal Rusia, sementara Inggris menargetkan barang-barang mewah termasuk kaviar, perak dan berlian dengan larangan impor dan tarif yang lebih tinggi.

Tetapi pemerintahan Biden mendukung kehati-hatian Jerman terhadap Uni Eropa yang bertindak terlalu cepat dengan sanksi lebih lanjut terhadap energi Rusia, dengan mengatakan hal itu dapat merugikan Eropa daripada Rusia.

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Bank Dunia Beri Peringatan...
Bank Dunia Beri Peringatan Keras usai Rupiah Terpuruk ke Rp18.000
Bos IMF Peringatkan...
Bos IMF Peringatkan Dunia Tak Akan Pernah Normal Lagi: Bersiap Hadapi Gelombang Krisis Baru
IMF, Bank Dunia, dan...
IMF, Bank Dunia, dan IEA Ketar-ketir Kelangkaan BBM di Depan Mata
Daftar Negara Pengguna...
Daftar Negara Pengguna Energi Nuklir Terbesar di Dunia, Siapa Juaranya?
Terancam Bangkrut? 27...
Terancam Bangkrut? 27 Negara Panik Amankan Dana Darurat Bank Dunia
Dunia Siaga! Bank Dunia...
Dunia Siaga! Bank Dunia Peringatkan Guncangan Pasokan Energi Terparah dalam Sejarah Resmi Dimulai
Tiru Strategi Iran,...
Tiru Strategi Iran, Ukraina Tembakkan 323 Drone ke Wilayah Rusia pada Malam Hari
Rusia Tembak Jatuh 80...
Rusia Tembak Jatuh 80 Drone Ukraina, Kremlin Luncurkan Rudal Balistik Iskander
Gelar Serangan Balasan,...
Gelar Serangan Balasan, Rusia Hancurkan Fasilitas Energi di Seluruh Ukraina
Rekomendasi
Haru, Alfatih Putra...
Haru, Alfatih Putra Mendiang Mpok Alpa Bawa Rapor ke Makam Sang Bunda Setelah Naik Kelas
Tak Kenal Menyerah,...
Tak Kenal Menyerah, Maryanti Jadi Lulusan Terbaik UNY 2026 Meski Kuliah Sambil Berwirausaha
Fakta Baru Pasar Mobil...
Fakta Baru Pasar Mobil Eropa: Mobil Bensin Turun, EV dan Merek China Melesat
Berita Terkini
Harga Emas Antam Stagnan...
Harga Emas Antam Stagnan di Posisi Rp2.655.000 per Gram, Saatnya Beli?
Tiket Pesawat Kelas...
Tiket Pesawat Kelas Ekonomi Bebas PPN hingga 5 Juli 2026, Ayo Liburan!
IHSG Dibuka Melemah...
IHSG Dibuka Melemah ke Level 5.873, Asing Net Sell Rp1,17 Triliun
Harga Minyak Dunia Hancur...
Harga Minyak Dunia Hancur Mendekati Level Normal! Kapan BBM RI Turun?
Tanda Tangani PKB 2026,...
Tanda Tangani PKB 2026, Menaker Titip 3 Agenda Strategis ke Jasa Raharja
Harga Bensin di AS Tetap...
Harga Bensin di AS Tetap Mahal meski Minyak Dunia Rontok, Trump Semprot Raksasa Energi
Infografis
AS Jual Sistem Pertahanan...
AS Jual Sistem Pertahanan Udara HAWK Rp2,1 Triliun ke Ukraina
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved