Transaksi Tunai Masih Diminati
Jum'at, 27 Mei 2022 - 07:24 WIB
loading...
A
A
A
Hal ini tentu berpengaruh pada perkembangan keuangan digital yang sedang massif terjadi. “Kondisi demografi Indonesia mempengaruhi transaksi keuangan digital. Jumlah penduduk Indonesia yang tinggal di perkotaan hanya 51%,” katanya.
Kondisi demografi ini salah satunya berpengaruh pada penetrasi institusi keuangan. Sebagaimana diketahui penetrasi tersebut saat ini belum sampai ke pelosok. Institusi keuangan saat ini baru menjangkau hingga wilayah tingkat II. “Kalaupun ada satu level di bawahnya itu sangat jarang. Artinya, akses terhadap institusi keuangan masih kurang,” ungkapnya.
Baca juga: Gara-Gara Pandemi, Konsumen Jadi Ketagihan Pakai Dompet Digital
Wakil Direktur Utama Bank Mandiri Alexandra Askandar membenarkan penggunaan uang tunai sebagai alat pembayaran oleh masyarakat memang masih dominan. Tetapi, ke depan diprediksi akan semakin berkurang seiring meluasnya digitalisasi dan berubahnya pola hidup masyarakat.
Menurut Alexandra, masyarakat perkotaan akan berangsur beralih ke mata uang non tunai, seperti electronic money, karena lebih praktis, efisien dan juga untuk alasan kebersihan. "Adanya pandemi turut mengubah pola aktivitas ekonomi dan mendorong berbagai pelaku usaha dan konsumen untuk beralih pada penggunaan uang non tunai," ujar Alexandra kepada KORAN SINDO.
Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Indonesia (Iluni) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) ini membeberkan, sejumlah data terakhir menunjukkan bahwa dengan banyaknya masyarakat Indonesia yang mengakses internet semakin tinggi penggunaan transaksi digital non-tunai. Data dari Statista menyebutkan bahwa sekitar 210.16 juta penduduk Indonesia mengakses internet. Dari dari angka tersebut, sekitar 80 % penduduk Indonesia, menurut kajian Google 2021, pernah berbelanja secara online, yang tentunya sebagian dari mereka melakukan transaksi dan pembayaran secara digital.
Kondisi demografi ini salah satunya berpengaruh pada penetrasi institusi keuangan. Sebagaimana diketahui penetrasi tersebut saat ini belum sampai ke pelosok. Institusi keuangan saat ini baru menjangkau hingga wilayah tingkat II. “Kalaupun ada satu level di bawahnya itu sangat jarang. Artinya, akses terhadap institusi keuangan masih kurang,” ungkapnya.
Baca juga: Gara-Gara Pandemi, Konsumen Jadi Ketagihan Pakai Dompet Digital
Wakil Direktur Utama Bank Mandiri Alexandra Askandar membenarkan penggunaan uang tunai sebagai alat pembayaran oleh masyarakat memang masih dominan. Tetapi, ke depan diprediksi akan semakin berkurang seiring meluasnya digitalisasi dan berubahnya pola hidup masyarakat.
Menurut Alexandra, masyarakat perkotaan akan berangsur beralih ke mata uang non tunai, seperti electronic money, karena lebih praktis, efisien dan juga untuk alasan kebersihan. "Adanya pandemi turut mengubah pola aktivitas ekonomi dan mendorong berbagai pelaku usaha dan konsumen untuk beralih pada penggunaan uang non tunai," ujar Alexandra kepada KORAN SINDO.
Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Indonesia (Iluni) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) ini membeberkan, sejumlah data terakhir menunjukkan bahwa dengan banyaknya masyarakat Indonesia yang mengakses internet semakin tinggi penggunaan transaksi digital non-tunai. Data dari Statista menyebutkan bahwa sekitar 210.16 juta penduduk Indonesia mengakses internet. Dari dari angka tersebut, sekitar 80 % penduduk Indonesia, menurut kajian Google 2021, pernah berbelanja secara online, yang tentunya sebagian dari mereka melakukan transaksi dan pembayaran secara digital.
Lihat Juga :