alexametrics

Harga Minyak Melemah Karena Pasokan Minyak Mentah AS Naik 1,7 Juta Barel

loading...
Harga Minyak Melemah Karena Pasokan Minyak Mentah AS Naik 1,7 Juta Barel
Harga minyak melemah karena pasokan minyak mentah AS naik 1,7 juta barel. Foto/Istimewa
A+ A-
TOKYO - Harga minyak mentah melemah pada Rabu (24/6/2020), memperpanjang kerugian dari hari sebelumnya, setelah pasokan minyak mentah AS meningkat pesat. Hal ini membuat pasar khawatir mengenai kelebihan pasokan minyak.

Melansir dari Reuters, harga minyak Brent turun 29 sen atau 0,7% ke level USD42,34 per barel pada pukul 03:35 GMT. Harga minyak mentah berjangka Amerika Serikat, West Texas Intermediate turun 35 sen atau 0,9% menjadi USD40,02 per barel.

Data American Petroleum Institute mengumumkan persediaan minyak mentah AS naik jauh lebih besar dari perkiraan, yaitu mencapai 1,7 juta barel pada pekan lalu. Meningkatnya pasokan minyak mentah tersebut karena meningkatnya konsumsi bahan bakar seiring pelonggaran lockdown di negaranya Donald Trump.



Selain itu, harga minyak jatuh disebabkan investor yang mengambil aksi profit taking setelah reli yang terjadi belakangan ini. "Beberapa investor mengambil aksi ambil untung setelah reli baru-baru ini karena mereka sudah melihat stok minyak mentah AS yang meningkat," ungkap Chiyoki Chen, kepala analis di Sunward Trading di Tokyo, Jepang.

Konsumsi minyak global sendiri telah mulai pulih karena banyak negara mulai melonggarkan lockdown demi pemulihan ekonomi. Sementara itu, OPEC dan sekutunya sepakat untuk mengurangi produksi demi mendongkrak harga. Baca: Harga Minyak Jatuh Karena Melonjaknya Kembali Kasus Covid-19

Hanya saja pasar masih tetap khawatir tentang peningkatan jumlah kasus virus corona di Amerika Serikat dan negara-negara lain di dunia, alias gelombang kedua dari pandemi Covid-19 asal China.

Ancaman gelombang kedua Covid-19 juga membuat China, negara importir minyak mentah utama di dunia, mengalami perlambatan permintaan. Bahkan diperkirakan permintaan impor minyak mentah oleh China akan melambat hingga kuartal III tahun ini, akibat kekhawatiran tentang gelombang kedua Covid-19.

"Kami memperkirakan harga Brent akan diperdagangkan antara USD35 hingga USD45 per barel pada minggu depan karena kekhawatiran gelombang kedua pandemi Covid-19. Ini akan membatasi kenaikan harga, sementara pengurangan pasokan dari OPEC dan sekutunya akan memberikan dukungan," kata Chen.
(bon)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak
Top